Fenomena pemanasan global kini membawa dampak nyata bagi Indonesia. Lapisan es atau gletser tropis yang dikenal sebagai ‘salju abadi’ di Papua diprediksi akan meleleh sepenuhnya pada rentang waktu akhir 2026 hingga awal 2027. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat bahwa laju penyusutan es di puncak pegunungan tengah Papua terus mengalami percepatan akibat kenaikan suhu di kawasan Pasifik.
Pada pertengahan 2025, luas lapisan es yang tersisa di Puncak Carstensz dan East Northwall Firn diperkirakan hanya menyisakan sekitar 0,1 kilometer persegi atau setara 10 hektare. Angka tersebut menyusut hingga 34 persen hanya dalam waktu satu tahun, dan kini hanya tersisa sekitar 2 persen jika dibandingkan dengan luas wilayah es pada tahun 1988.
Ancaman Hilangnya Identitas Spiritual Masyarakat Adat
Pencairan gletser ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan ancaman besar bagi masyarakat adat Papua, khususnya suku Amungme, Moni, Hubula, Damal, dan Ngalum. Bagi masyarakat adat Amungme, gugusan pegunungan bersalju yang mereka sebut Nemangkawi memiliki kedudukan sakral sebagai tempat peristirahatan para leluhur dan pusat spiritualitas yang diibaratkan sebagai surga (Hai Jogon).
Elfrida Natkime, perempuan adat Amungme, mengungkapkan bahwa kepunahan lapisan es ini meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat lokal. “Nemangkawi bukan hanya gunung, tapi tempat peristirahatan orang tua dan leluhur. Kami diajarkan untuk hidup lurus seperti anak panah demi menjaga keharmonisan dengan alam dan sesama,” tuturnya.
Hal senada dirasakan oleh masyarakat adat Moni di Intan Jaya yang menyebut puncak tersebut sebagai Mbainggela, yang berarti tempat suci atau gunung terlarang. Begitu pula suku Ngalum di Pegunungan Bintang yang menyakralkan Puncak Aplim Apom (Puncak Mandala). Masyarakat adat yang hampir tidak menyumbang emisi karbon ini justru menjadi pihak yang paling terdampak oleh krisis iklim global.
Sejarah Ekspedisi Barat dan Eksploitasi Sumber Daya
Puncak-puncak bersalju di Papua mulai menarik perhatian dunia luar sejak laporan pelaut Belanda, Jan Carstensz, pada 1623. Memasuki abad ke-20, berbagai ekspedisi Barat diluncurkan hingga berhasil menginjakkan kaki di puncak-puncak es tersebut, seperti pendakian Hendrik Albert Lorentz di Puncak Ettiakup (Trikora) pada 1909 serta ekspedisi Anton Colijn, Jean Jacques Dozy, dan Frits Wissel pada 1936.
Penjelajahan tersebut kemudian membuka jalan bagi aktivitas ekstraktif di Papua. Temuan potensi mineral di Pegunungan Nemangkawi berlanjut pada pembukaan tambang tembaga dan emas skala besar oleh PT Freeport Indonesia sejak akhir dekade 1960-an, mengikis gunung-gunung sakral seperti Yelsegel-Ongopsegel (Ertsberg) dan Tengogoma (Grasberg).
Kedatangan industri ekstraktif dan perubahan tata ruang wilayah turut memicu dinamika sosial, pemindahan pemukiman warga adat, serta ketegangan keamanan yang berlangsung selama bertahun-tahun di kawasan pegunungan tengah.
Dampak Ekonomi Lokal dan Konflik Berkelanjutan
Penyusutan gletser dan tingginya tingkat kerawanan keamanan di kawasan pegunungan Papua kini berdampak langsung pada perekonomian masyarakat lokal. Jalur pendakian tradisional, seperti Rute Soanggama di Intan Jaya, kini telah ditutup total oleh pihak keamanan.
Kondisi ini memutus mata pencaharian warga setempat yang sebelumnya menggantungkan hidup sebagai pemikul barang (porter) bagi tim ekspedisi dan pendaki internasional. Warga lokal seperti Magdalena Sondegau mengaku kehilangan sumber pendapatan utama untuk membiayai kebutuhan keluarga dan pendidikan anak-anak mereka.
Di sisi lain, konflik bersenjata yang masih kerap terjadi di wilayah Intan Jaya semakin memperburuk ruang gerak warga sipil, di tengah bayang-bayang potensi eksploitasi wilayah baru seperti Blok Wabu di Gunung Bula Pigu.
Komitmen Menjaga Keseimbangan Alam
Meski gletser di puncak Nemangkawi kian menipis dan ancaman kerusakan lingkungan membayangi, generasi muda Papua mulai mengambil langkah nyata untuk merawat ruang hidup mereka. Fokus beralih pada upaya adaptasi dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan berbasis hak-hak adat.
Elfrida Natkime menegaskan pentingnya menjaga kelestarian tanah ulayat melalui sektor pertanian dan perlindungan alam. Menurutnya, kesadaran menjaga lingkungan menjadi kunci utama agar masyarakat adat tidak kehilangan ruang hidup di tanah mereka sendiri.
“Selain emas, kita punya tanah dan kampung yang harus dijaga. Jika alam ini habis, kita juga akan habis. Keseimbangan inilah yang harus terus kita perjuangkan,” pungkasnya.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post