Independensi Lembaga Survei Dipertanyakan, Publik Dimbau Lebih Kritis Membaca Data Statistical
Masyarakat diimbau untuk tidak menelan mentah-mentah hasil riset dari berbagai lembaga survei yang marak dirilis ke publik. Anggota Jaringan 98 Resolution, Yosef Sampurna Nggarang, menegaskan bahwa kredibilitas sebuah survei tidak hanya diukur dari deretan angka statistik semata, melainkan dari tingkat independensi, transparansi pembiayaan, serta akuntabilitas metodologi yang digunakan.
Menurut Yosef, publik perlu membaca hasil survei secara lebih kritis karena terdapat kecenderungan bahwa angka riset dijadikan instrumen untuk membentuk persepsi negatif terhadap jajaran pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Meski demikian, ia mengingatkan agar pemerintah tetap fokus bekerja dan tidak perlu merasa terganggu oleh dinamika tersebut.
“Survei-survei yang disajikan saat ini harus dibaca secara kritis karena berpotensi menjadi instrumen pembentukan persepsi negatif masyarakat terhadap pemerintah. Namun, pemerintah sendiri tidak perlu terganggu,” ujar sosok yang akrab disapa Yos tersebut melalui keterangan tertulisnya pada Kamis (15/10/2026).
Soroti Bias Politik dan Potensi Propaganda Berkedok Akademis
Yos mempertanyakan objektivitas sejumlah lembaga riset yang dinilainya memiliki kecenderungan politik berseberangan dengan pemerintah. Ia mengkhawatirkan adanya penyalahgunaan otoritas akademik untuk melegitimasi kepentingan kelompok tertentu.
“Beberapa lembaga survei memiliki preferensi politik yang jelas. Karena itu, independensi dan integritasnya dalam menyelenggarakan survei patut dipertanyakan. Jangan sampai otoritas akademik digunakan untuk melegitimasi kepentingan politik,” tegas Yos.
Ia menekankan bahwa propaganda politik di era modern tidak lagi sebatas penggunaan slogan-slogan kampanye, melainkan sudah merambah pada manuver data. Tanpa pertanggungjawaban ilmiah yang memadai, data statistik berisiko bergeser fungsi menjadi alat penggiringan opini publik.
“Propaganda politik tidak selalu menggunakan slogan. Angka statistik dan klaim akademis juga bisa menjadi instrumen propaganda apabila digunakan untuk membentuk persepsi politik tertentu,” tambahnya.
Dorong Transparansi Pembiayaan dan Evaluasi Berbasis Data Sahih
Guna menjaga iklim keilmuan tetap sehat, Yos mendesak seluruh lembaga survei untuk secara terbuka membeberkan sumber pendanaan dan detail metodologi penelitian mereka. Langkah ini dinilai penting agar publik dapat menguji validitas serta netralitas dari hasil riset yang dipublikasikan.
Kendati memberikan kritik keras terhadap potensi penyimpangan fungsi survei, Yos menyuarakan agar pemerintah tetap menghormati perbedaan pandangan dan keberadaan riset yang obyektif. Keberadaan survei yang kredibel sangat dibutuhkan sebagai bahan evaluasi kebijakan publik secara berkala.
“Pemerintah membutuhkan survei yang benar untuk mengukur kinerjanya, bukan survei yang sekadar memenangkan pertarungan persepsi. Kalau pemerintah salah, kritik berdasarkan data. Kalau berhasil, akui berdasarkan data,” kata Yos.
Mengakhiri pernyataannya, ia mewanti-wanti para akademisi dan peneliti agar tidak mengorbankan integritas ilmu pengetahuan demi kepentingan politik praktis. “Jangan sampai ilmu pengetahuan kehilangan integritasnya karena dijadikan alat pertarungan politik. Pemerintah tidak perlu takut terhadap survei, tetapi publik harus kritis terhadap survei yang independensinya dipertanyakan,” pungkasnya.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post