TEL AVIV — Peta politik Israel berada dalam kondisi kritis setelah Pemilihan Umum (Pemilu) 2026 yang digelar pada Selasa (27/10/2026) menyajikan persaingan ekstra ketat. Koalisi petahana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu membentang jarak amat tipis dengan kubu oposisi pimpinan Gadi Eisenkot, hingga berpotensi memicu kebuntuan politik baru akibat tidak adanya blok yang berhasil mengamankan mayoritas mutlak di parlemen.
Berdasarkan data awal Komite Pemilu Pusat (CEC) dengan penghitungan suara masuk mencapai 66,2 persen hingga Rabu (28/10/2026) pagi, Partai Likud besutan Netanyahu memimpin perolehan sementara dengan 28 kursi. Posisi tersebut ditempel ketat oleh Partai Yashar pimpinan Eisenkot yang mengumpulkan 21 kursi dari total 120 kursi Knesset yang diperebutkan.
Kebuntuan Perolehan Kursi Koalisi
Secara peta konstelasi politik, blok koalisi sayap kanan yang disokong Netanyahu sejauh ini mengumpulkan total 56 kursi parlemen. Di sisi lain, blok oposisi di bawah kendali Eisenkot berhasil mengamankan 48 kursi. Sementara itu, faksi partai-partai Arab yang berposisi independen dan menolak bergabung dengan kedua belah pihak menguasai 16 kursi tersisa.
Kondisi ini memaksa kedua kelompok politik utama memutar otak, mengingat aturan ketatanegaraan Israel mensyaratkan minimal 61 kursi untuk dapat memformulasikan pemerintahan baru. Tanpa pemegang mayoritas tunggal, proses negosiasi lintas partai diprediksi akan berjalan sangat alot dan diwarnai tawar-menawar politik yang sengit sebelum pengumuman resmi Komite Pemilu pada 4 November mendatang.
Saling Klaim Kemenangan dan Wacana Koalisi
Meski rekapitulasi suara resmi belum tuntas, Netanyahu sudah melontarkan klaim kemenangan di hadapan para pendukungnya. Ia menegaskan tekadnya untuk mempertahankan kekuasaan dengan membangun pemerintahan sayap kanan yang solid tanpa melibatkan faksi Arab.
“Likud adalah partai terbesar dan blok sayap kanan memegang mayoritas mutlak. Kita harus membentuk pemerintahan sayap kanan yang kuat. Israel tidak boleh bergantung pada partai-partai yang dipimpin pihak Arab,” ujar Netanyahu tegas.
Dukungan moral bagi Netanyahu juga mengalir dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Trump menilai peta dukungan politik di Israel berbalik menguntungkan sang petahana berkat campur tangan dan dorongan diplomasi dari pihak Washington.
Sebaliknya, pimpinan oposisi sekaligus mantan Kepala Staf Militer Israel, Gadi Eisenkot, turut mendeklarasikan kemenangan dari markas Partai Yashar di Tel Aviv. Menurutnya, tingginya perolehan suara oposisi menjadi cerminan nyata hilangnya kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Netanyahu pasca-peristiwa serangan 7 Oktober lalu.
“Rakyat Israel menginginkan perubahan kepemimpinan. Ini adalah bukti hilangnya kepercayaan secara penuh terhadap pemerintahan yang berkuasa,” tutur Eisenkot seraya berjanji akan membentuk pemerintahan inklusif yang merangkul seluruh elemen masyarakat.
Peluang penentu pergeseran peta kekuatan kini berada di tangan faksi Arab. Pemimpin United Arab List (Ra’am), Mansour Abbas, secara terbuka membuka pintu komunikasi dengan kubu oposisi untuk membendung kembalinya Netanyahu ke kursi kekuasaan.
“Saya berharap kita dapat mengubah pemerintahan ini melalui penggabungan kursi blok oposisi bersama Ra’am guna mencapai ambang batas 61 kursi,” kata Abbas.
Pemilu Israel 2026 ini mencatatkan sejarah baru dengan rekor partisipasi pemilih yang menembus angka 77,7 persen. Angka tersebut menjadi tingkat kehadiran tertinggi dalam pesta demokrasi Israel sejak tahun 1999, naik 7,1 persen jika dibandingkan dengan Pemilu 2022 lalu.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post