MALANG TODAY – Kematian mendadak seorang peneliti di sebuah laboratorium riset pes di Irkutsk, Siberia, Rusia, memicu perhatian dunia kesehatan internasional. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini meminta klarifikasi resmi dan informasi lebih rinci dari otoritas Rusia guna mengetahui penyebab pasti kematian pekerja tersebut.
Insiden ini menimbulkan berbagai spekulasi publik mengenai kemungkinan kebocoran infeksi berbahaya. Namun, pihak berwenang Rusia menegaskan bahwa proses penyelidikan masih berlangsung dan seluruh kontak erat pasien telah dinyatakan negatif pes pneumonik. Hasil pemeriksaan awal mengklaim tidak ditemukan patogen yang berkaitan dengan aktivitas medis korban di laboratorium.
Mengenal Pes Pneumonik dan Bahayanya
Pes pneumonik merupakan jenis infeksi paru-paru tingkat berat yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Di antara jenis penyakit pes lainnya, varian ini dikategorikan sebagai bentuk yang paling ganas dan mematikan.
Secara umum, terdapat tiga bentuk penyakit pes pada manusia:
1. Pes Bubonik: Menyerang sistem kelenjar getah bening dan merupakan kasus paling umum.
2. Pes Septikemik: Menyerang dan berkembang dalam aliran darah.
3. Pes Pneumonik: Menyerang sistem pernapasan atau paru-paru.
Gejala klinis pes pneumonik meliputi sesak napas akut, nyeri dada hebat, hingga batuk berdarah. Meski jumlah kasusnya relatif lebih sedikit dibanding pes bubonik, penyakit ini menyumbang risiko kematian paling tinggi jika tidak segera ditangani.
Pola Penyebaran dan Penularan
Bakteri Yersinia pestis secara alami hidup pada mamalia kecil seperti pengerat dan ditularkan melalui gigitan kutu. Seseorang dapat terinfeksi akibat gigitan kutu yang membawa bakteri atau kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi.
Berbeda dengan jenis pes lainnya, pes pneumonik memiliki kemampuan menular antarmanusia melalui percikan droplet pernapasan (batuk atau bersin). Penularan ini umumnya membutuhkan kontak jarak dekat secara langsung.
Profesor Penyakit Menular University of Oxford, Piero Olliaro, menjelaskan bahwa bakteri pes sebenarnya belum punah. Bakteri tersebut masih bertahan pada reservoir alami seperti hewan pengerat yang tersebar di wilayah Amerika, Eurasia, hingga Afrika.
Meskipun demikian, para ahli menekankan bahwa keberadaan laboratorium riset yang meneliti organisme hidup ini sangat vital. Riset ilmiah diperlukan untuk memproduksi alat diagnosis, mengembangkan vaksin baru, serta memantau tingkat resistensi bakteri terhadap antibiotik guna mengantisipasi potensi wabah di masa depan.
Masa Inkubasi Singkat dan Penanganan Medis
WHO mencatat bahwa pes pneumonik memiliki masa inkubasi yang sangat singkat, bahkan dapat memicu reaksi berat dalam kurun waktu 24 jam setelah paparan. Tanpa pengobatan medis yang cepat, tingkat kematian akibat infeksi ini diperkirakan mendekati 100 persen.
Kendati demikian, penyakit ini dapat disembuhkan secara efektif menggunakan antibiotik dosis tepat, dengan syarat penanganan dilakukan pada tahap sangat awal. Individu yang terpapar risiko tinggi juga dapat diberikan antibiotik pencegahan (profilaksis) serta tindakan karantina mandiri.
Hingga saat ini, otoritas kesehatan global terus memantau perkembangan kasus di Siberia. Sejumlah lembaga kesehatan dunia mengimbau masyarakat untuk tidak panik, mengingat risiko penyebaran secara global masih dikategorikan sangat rendah berkat protokol ketat di fasilitas laboratorium riset medis.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post