MALANG TODAY – Industri penerbangan di Amerika Serikat (AS) tengah menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga bahan bakar avtur pada kuartal ketiga (Q3) 2026. Meski minat masyarakat untuk melakukan perjalanan sangat tinggi hingga mencatatkan rekor pendapatan, pembengkakan biaya operasional terus menggerus marjin keuntungan sejumlah maskapai raksasa.
American Airlines Menderita Kerugian Besar
American Airlines menjadi salah satu maskapai yang terdampak paling parah. Maskapai ini mencatatkan rugi bersih sebesar 269 juta dolar AS (sekitar Rp4,85 triliun) pada Q3 2026. Padahal, pada periode yang sama, perusahaan berhasil mengantongi rekor pendapatan hingga 16,3 miliar dolar AS.
Penyebab utama kerugian ini adalah membengkaknya pengeluaran bahan bakar hingga 67,5 persen atau naik 1,9 miliar dolar AS, dengan harga rata-rata mencapai 3,85 dolar AS per galon. Memasuki kuartal keempat (Q4) 2026, American Airlines memproyeksikan harga avtur akan melambung hingga 4,7 dolar AS per galon. Akibat lonjakan ini, perusahaan terpaksa merevisi proyeksi kinerja keuangan tahunannya ke level yang lebih rendah.
Laba Southwest Airlines Tertekan Lonjakan Biaya
Tantangan serupa juga dialami oleh Southwest Airlines. Maskapai yang berbasis di Dallas ini sebenarnya mencatatkan kinerja pendapatan Q3 2026 yang cukup memuaskan, yakni tumbuh 21,2 persen menjadi 8,4 miliar dolar AS dengan laba bersih mencapai 270 juta dolar AS.
Meski demikian, beban bahan bakar Southwest Airlines melonjak 821 juta dolar AS dibandingkan tahun lalu, di mana harga avtur menyentuh 3,92 dolar AS per galon. Manajemen memprediksi biaya bahan bakar pada Q4 2026 dapat melonjak lebih tinggi hingga 4,55 dolar AS per galon.
Chief Executive Officer (CEO) Southwest Airlines, Bob Jordan, menyatakan bahwa tingginya permintaan pasar memberikan keyakinan bagi perusahaan untuk tetap bertahan. Ia optimistis strategi komersial yang dijalankan mampu memperkuat marjin keuntungan di tengah gempuran kenaikan harga energi.
United Airlines Pangkas Proyeksi Kuartal Akhir
Sementara itu, United Airlines membukukan pendapatan sebesar 17,9 miliar dolar AS pada Q3 2026, naik 17,4 persen secara tahunan, dengan raihan laba bersih sebesar 1 miliar dolar AS. Namun, lonjakan beban bahan bakar sebesar 62 persen atau setara 1,8 miliar dolar AS membuat perusahaan harus bersiap menghadapi perlambatan pada kuartal berikutnya.
Pada Q4 2026, United Airlines memperkirakan harga avtur akan naik menjadi 4,8 dolar AS per galon, naik dari 3,9 dolar AS pada kuartal sebelumnya. Hal ini memaksa maskapai memangkas proyeksi laba per saham menjadi 50 sen hingga 1,5 dolar AS, berada di bawah estimasi awal para analis pasar modal.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post