Di tengah impitan persaingan kerja yang brutal dan krisis mobilitas sosial, generasi muda di Tiongkok justru berpaling ke masa lalu untuk menemukan jawaban atas krisis masa kini. Fenomena ini ditandai dengan melonjaknya popularitas sosok pendiri Republik Rakyat Tiongkok, Mao Zedong, di kalangan Generasi Z. Dikenal dengan sebutan akrab “Guru”, Mao kini ditempatkan bukan sekadar sebagai figur sejarah, melainkan simbol perlawanan terhadap ketimpangan ekonomi dan tekanan budaya kerja ekstrem yang menghantui anak muda Tiongkok.
Popularitas “Sang Guru” di Ruang Digital Tiongkok
Di platform media sosial berbasis video seperti Bilibili—yang mayoritas penggunanya berusia 18 hingga 24 tahun—konten kompilasi kehidupan Mao Zedong mendadak viral dengan puluhan juta penayangan. Dari rekaman masa muda hingga eranya sebagai komandan militer, Mao disanjung melalui berbagai komentar hangat. Tren ini juga merambah dunia nyata; karya akademis Selected Works of Mao Zedong tercatat konsisten menjadi buku yang paling banyak dipinjam di Perpustakaan Universitas Tsinghua dalam beberapa tahun terakhir.
Panggilan “Guru” sendiri merujuk pada pernyataan historis Mao pada era 1970-an, di mana ia menolak gelar-gelar agung dan lebih memilih dikenang sebagai seorang pengajar. Bagi Gen Z Tiongkok, redefinisi figur Mao ini sangat berbeda dari persepsi generasi orang tua mereka yang cenderung memandang Mao secara lebih netral pasca-reformasi ekonomi era 1980-an.
Jebakan “Involusi” dan Keputusasaan Generasi Z
Kembalinya pemikiran Mao ke dalam arus utama budaya populer anak muda tidak lepas dari realitas ekonomi Tiongkok yang kian menantang. Berbeda dari generasi sebelumnya yang menikmati buah manis pertumbuhan ekonomi pesat, Gen Z saat ini dihadapkan pada tingkat pengangguran usia muda yang tinggi dan stagnasi pendapatan. Budaya kerja ekstrem seperti “996”—bekerja dari pukul sembilan pagi hingga sembilan malam, enam hari seminggu—tidak lagi menjamin kesejahteraan atau kepemilikan hunian yang terjangkau.
Kondisi ini memicu fenomena neijuan atau “involusi”, sebuah situasi ketika seseorang dipaksa bekerja jauh lebih keras hanya untuk bertahan di posisi yang sama tanpa ada peningkatan kualitas hidup. Sebagai bentuk protes pasif, banyak anak muda memilih opsi tang ping atau “rebahan”, menghentikan ambisi karier demi menjaga kesehatan mental mereka dari lingkaran persaingan yang tak berujung.
Kritik Kapitalisme dan Kerangka Berpikir Sederhana
Dalam situasi yang penuh ketidakpastian tersebut, retorika dan pemikiran kritis Mao terhadap kapitalisme menjadi kian relevan. Bagi banyak pemuda, retorika Mao memberikan kerangka analisis yang lugas untuk memahami penderitaan mereka. Pemikiran Mao dengan tegas membagi peran antara “penindas” dan “yang tertindas”, sebuah pendekatan yang dinilai jauh lebih mudah dipahami ketimbang jargon-jargon ekonomi modern.
Anak muda Tiongkok menggunakan narasi sejarah yang telah disediakan oleh negara untuk mengkritik dominasi kapitalis dan fenomena penumpukan kekayaan. Gagasan Mao dijadikan alat intelektual untuk mengekspresikan ketidakpuasan terhadap ketimpangan sosial yang dinilai semakin melebar di tengah sistem ekonomi pasar saat ini.
Sensor Politik dan Potensi Gelombang Populis
Fenomena ini juga tumbuh di tengah ketatnya sensor digital. Di Tiongkok, mendiskusikan atau mengkritik kebijakan kepemimpinan nasional secara terbuka merupakan hal yang sangat berisiko. Oleh karena itu, mendiskusikan pemikiran Mao menjadi saluran yang relatif aman dan sah secara politik untuk menyuarakan kritik sosial tanpa harus bertabrakan langsung dengan otoritas.
Meski demikian, para pengamat menilai bahwa romantisisme terhadap Mao kerap mengabaikan episode kelam sejarah, seperti dampak destruktif dari era ‘Lompatan Jauh ke Depan’ dan ‘Revolusi Kebudayaan’. Kurangnya pemahaman sejarah yang utuh membentuk persepsi idaman bahwa era Mao adalah masa ideal yang bebas dari ketimpangan. Gelombang kekaguman akar rumput ini dinilai mengandung energi populis yang berpotensi eksplosif dan sulit diprediksi arah perkembangannya di masa depan.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)





Discussion about this post