MALANG TODAY – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan kian meluas hingga memicu krisis kesehatan dan ketegangan lintas negara. Selain merusak belasan ribu hektare lahan gambut, kabut asap pekat yang dihasilkan kini telah menyelimuti pemukiman warga, melumpuhkan aktivitas pendidikan, serta menelan korban jiwa.
Dampak karhutla yang merambah hingga ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina, memicu gelombang protes diplomatik dari warga dan aktivis lingkungan regional yang mendesak penanganan tegas terhadap para pelaku pembakaran.
Aktivis Malaysia Desak Transparansi Konsesi Lahan
Sejumlah aktivis lingkungan yang tergabung dalam Greenpeace Malaysia dan Himpunan Advokasi Rakyat (RA) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur. Merek mendesak pemerintah Indonesia untuk membuka secara transparan identitas perusahaan pemegang konsesi lahan yang terbukti terlibat dalam bencana karhutla tahun ini.
Aksi tersebut didasari oleh melonjaknya Indeks Pencemaran Udara di beberapa wilayah Malaysia hingga mencapai level “sangat tidak sehat”. Para demonstran meminta agar bukti-bukti keterlibatan korporasi, termasuk perusahaan swasta dari Malaysia maupun Singapura, dibuka ke publik serta dibagikan melalui mekanisme Perjanjian ASEAN tentang Pencemaran Asap Lintas Batas (AATHP).
Langkah penegakan hukum dan transparansi dianggap menjadi kunci agar pihak otoritas di negara tetangga dapat memproses hukum entitas usaha di bawah yurisdiksi mereka yang terbukti berkontribusi terhadap pencemaran udara tahunan ini.
Darurat Kesehatan Warga Sumatra dan Gangguan Pendidikan
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), luas lahan yang terbakar di wilayah Sumatra—khususnya Riau, Sumatra Selatan, dan Jambi—telah melebihi 18.000 hektare. Di Palembang, paparan asap tebal mulai mengganggu sistem pernapasan warga dan melumpuhkan sektor jasa transportasi perairan di sepanjang Sungai Musi.
Sejumlah warga di Palembang dan Jambi mengeluhkan gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), seperti batuk kering, iritasi mata, hingga sesak napas berat. Kondisi buruk ini memaksa sejumlah fasilitas kesehatan dibanjiri pasien, sementara aktivitas luar ruang dihentikan.
Krisis udara bersih ini juga berdampak langsung pada sektor pendidikan. Banyak sekolah dasar hingga perguruan tinggi di wilayah terdampak harus menghentikan aktivitas pembelajaran tatap muka dan mengalihkan kegiatan belajar-mengajar secara dalam jaringan (daring) demi melindungi kesehatan para siswa.
Hutan Lindung Kalsel Membara, Udara Masuk Level Berbahaya
Di Kalimantan Selatan, situasi serupa terjadi di mana kebakaran hebat menghanguskan kawasan Hutan Lindung Liang Anggang serta wilayah pemukiman di sekitarnya. Lebih dari 200 petugas gabungan dikerahkan untuk memadamkan api yang membakar lahan gambut dengan kedalaman 3 hingga 10 meter melalui jalur darat dan udara menggunakan helikopter water bombing.
Proses pemadaman menghadapi kendala fatal lantaran terbatasnya pasokan air dan angin kencang yang membuat api di dalam tanah terus merambat. BPBD Kalsel mencatat terdapat ribuan titik panas dengan total luas lahan terdampak mencapai lebih dari 12.000 hektare yang tersebar di Kabupaten Banjar, Banjarbaru, Tanah Laut, hingga Tapin.
Kualitas udara di wilayah Banjarbaru dan sekitarnya terdeteksi berada pada status “sangat tidak sehat” hingga berbahaya, dengan konsentrasi polutan PM2.5 yang sangat tinggi. Jarak pandang jalan raya di beberapa titik bahkan turun drastis hingga kurang dari 10 meter pada pagi hari.
Bencana Berulang Timbulkan Korban Jiwa
Eskalasi bencana ekologis ini telah menelan korban. Di Kalimantan Tengah, seorang relawan pemadam kebakaran dari Tim Serbu Api gugur saat bertugas menaklukan kobaran api lahan gambut di Palangka Raya. Penghormatan setinggi-tingginya diberikan atas pengorbanan personel di garis depan pemadaman tersebut.
Selain itu, seorang anak laki-laki berusia 11 tahun di Murung Raya, Kalimantan Tengah, dilaporkan meninggal dunia setelah kondisi kesehatan dan riwayat penyakit pernapasannya memburuk drastis akibat pemicu kabut asap pekat. Di daerah yang sama, fasilitas kesehatan mencatat peningkatan pesat hingga lebih dari 700 warga berobat dengan keluhan ISPA.
Masyarakat di daerah terdampak menyatakan kepasrahan sekaligus kemarahan atas berulangnya bencana karhutla setiap musim kemarau. Warga berharap pemerintah pusat dan daerah dapat memberikan solusi permanen dan tindakan hukum yang keras agar bencana asap tidak terus menjadi ritual tahunan yang mengancam nyawa.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)





Discussion about this post