SANAA — Eskalasi konflik di Yaman kembali memuncak setelah serangkaian serangan udara dahsyat menghantam Sana’a, ibu kota yang dikuasai kelompok Houthi, pada Kamis malam. Dentuman keras akibat bom memicu ledakan beruntun yang mengguncang hampir seluruh penjuru kota dan memicu ketakutan di tengah masyarakat.
Selain menyasar Sana’a, serangan udara juga dilaporkan menerjang sejumlah wilayah strategis lainnya. Wilayah yang turut menjadi sasaran meliputi Provinsi Saada dan Amran di bagian utara, serta Provinsi Taiz di wilayah barat daya Yaman. Hingga saat ini, rincian mengenai target spesifik, jumlah korban jiwa, maupun total kerusakan material masih terus diverifikasi.
Ledakan Dahsyat Guncang Pemukiman Warga
Sejumlah warga lokal di Sana’a mengungkapkan bahwa terdapat lebih dari lima ledakan berskala besar yang terjadi dalam kurun waktu sangat singkat. Suara gemuruh ledakan tersebut terdengar membahana hingga ke kawasan pemukiman padat penduduk, memicu kepanikan warga yang berhamburan keluar rumah.
Media lokal yang dikelola Houthi menuding koalisi pimpinan Arab Saudi berada di balik gelombang serangan udara tersebut. Namun, pihak militer Arab Saudi sejauh ini belum memberikan tanggapan resmi atau pernyataan balasan terkait tuduhan serangan di ibu kota Yaman itu.
Buntut Peluncuran Rudal dan Drone Houthi
Serangan udara ini terjadi hanya beberapa jam setelah pihak koalisi pimpinan Arab Saudi mengumumkan berhasil mengagalkan serangan lintas batas. Melalui keterangan resminya, koalisi menyatakan telah mencegat dan menghancurkan dua rudal balistik serta empat drone mematikan yang diluncurkan kelompok Houthi ke arah wilayah Khamis Mushait dan Jazan di Arab Saudi barat daya.
Situasi di lapangan kian memanas setelah bentrokan darat juga pecah di hari yang sama. Pasukan pemerintah Yaman melaporkan sedikitnya 30 petempur Houthi tewas dan 50 lainnya mengalami luka-luka dalam pertempuran sengit yang terjadi di kawasan Taiz.
Ketegangan Tertinggi Pasca Gencatan Senjata
Konflik bersenjata di Yaman telah berlangsung sejak akhir 2014, yakni ketika kelompok Houthi merebut kontrol atas ibu kota Sana’a dan sebagian besar wilayah utara. Kondisi ini memicu koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan intervensi militer pada 2015 untuk mendukung pemerintah resmi Yaman yang diakui secara internasional.
Geliat militer dan saling serang yang kembali meningkat ini menjadi catatan eskalasi paling tajam di Yaman. Kondisi ini mengancam stabilitas kawasan yang sempat relatif tenang usai gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berhasil meredam pertempuran skala besar sejak 2022 lalu.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post