MALANG TODAY – Empat Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi Anak Buah Kapal (ABK) MT Honour 25 berhasil bebas setelah lebih dari lima bulan disandera oleh kelompok perompak di lepas pantai Somalia. Proses pembebasan berlangsung dramatis melalui operasi penyerbuan militer yang dilancarkan oleh aparat bersenjata Puntland, wilayah semi-otonomi di Somalia, pada Selasa pagi, 29 September 2026.
Kabar lega ini disambut haru oleh keluarga para korban di Indonesia. Syamsuddin, ayah dari kapten kapal Ashari Samadikun, mengungkapkan rasa syukurnya setelah sang anak berhasil menghubungi keluarga sesaat setelah operasi penyergapan selesai.
“Anak saya sudah mengambil ponselnya dan menyampaikan situasi di sana, meski kondisi saat itu masih sangat kacau,” ujar Syamsuddin saat menceritakan momen berharganya berkomunikasi dengan Ashari.
Operasi Pembebasan Diwarnai Baku Tembak dan Jatuhnya Korban
Operasi militer yang dilancarkan aparat Puntland berlanjut menjadi kontak senjata sengit dengan kelompok pembajak. Sayangnya, sebelum militer berhasil menguasai keadaan penuh di atas kapal tanker tersebut, kawanan perompak sempat menembak sejumlah sandera.
Pemerintah setempat mengonfirmasi bahwa lima ABK tewas dalam insiden maut ini, yang terdiri dari tiga warga negara Pakistan, satu warga negara India, dan satu warga negara Myanmar. Selain itu, lima ABK lainnya mengalami luka-luka, termasuk salah satu WNI bernama Fiki Mutakin.
Di pihak pembajak, aparat berhasil menangkap 16 terduga perompak di lokasi kejadian, sementara beberapa pelaku lainnya tewas dan sisanya melarikan diri yang hingga kini masih dalam pengejaran.
Kondisi Penanganan dan Evakuasi Para ABK WNI
Kapal MT Honour 25 yang mengangkut sekitar 18.500 barel minyak awalnya diawaki oleh 17 pelaut, empat di antaranya merupakan WNI. Keempat WNI tersebut adalah:
1. Ashari Samadikun (Kapten Kapal) asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
2. Adi Faizal (2nd Officer) asal Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
3. Wahudinanto (Chief Officer) asal Pemalang, Jawa Tengah.
4. Fiki Mutakin asal Bogor, Jawa Barat.
Pasca-penyerbuan, para korban luka—termasuk Fiki Mutakin—langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat di wilayah Gorawe untuk mendapatkan perawatan medis darurat. Jalur udara menggunakan helikopter tidak memungkinkan untuk dilakukan akibat situasi keamanan yang belum stabil.
Sementara itu, tiga WNI yang selamat bersama empat ABK asal Pakistan dievakuasi menuju wilayah Bosaso di bawah pengawalan ketat aparat keamanan. Mereka kini diistirahatkan di sebuah hotel setempat sembari menunggu kepastian proses kepulangan.
Syamsuddin menegaskan bahwa putranya belum bersedia pulang ke Indonesia sebelum seluruh rekannya, terutama yang sedang dirawat akibat luka tembak, dinyatakan pulih dan aman.
“Anak saya belum mau pulang kalau belum bersama Fiki. Yang jelas, anak saya sudah bebas dan dalam kondisi selamat. Sekarang tinggal menunggu situasi benar-benar kondusif serta penyelesaian dari pihak perusahaan,” jelas Syamsuddin.
Penyanderaan Mencekam Selama Lima Bulan
Kapal MT Honour 25 sebelumnya dibajak oleh kelompok perompak bersenjata sejak 21 April 2026 saat melintas di lepas pantai Somalia dalam perjalanan menuju ibu kota Mogadishu. Selama lima bulan masa penyanderaan di antara Kota Xaafun dan Bander Beyla, para ABK berada dalam tekanan hebat.
Upaya negosiasi tebusan antara pembajak dan pihak perusahaan kapal berjalan alot tanpa titik terang. Di tengah ketidakpastian tersebut, kondisi para sandera terus memburuk akibat krisis bahan makanan, air bersih, serta kondisi kesehatan yang kian menurun.
Kini, setelah ancaman perompak berhasil diatasi oleh militer Puntland, pihak keluarga di tanah air berharap pemerintah Indonesia dan perusahaan terkait dapat segera memfasilitasi penanganan medis yang optimal serta proses repatriasi seluruh WNI kembali ke tanah air.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post