JAKARTA — Kebijakan pembagian dividen PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (kode saham: BMRI) dinilai tetap berdaya pikat tinggi bagi investor pasar modal. Performa intermediasi yang solid—ditopang pertumbuhan kredit, penyerapan dana pihak ketiga (DPK), serta pencapaian laba bersih yang konsisten—menjadi pijakan kuat bagi emiten perbankan plat merah ini untuk terus memberikan imbal hasil optimal kepada para pemegang saham.
Rasio Pembayaran Dividen Paling Loyal di Kelompok Bank BUKU IV
Head of Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, mengungkapkan bahwa tingkat rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) Bank Mandiri tergolong paling royal jika dibandingkan dengan institusi perbankan berskala besar lainnya di Indonesia. Untuk tahun buku 2025, perseroan mencatatkan payout ratio hingga 79% dari total laba bersih.
“Payout BMRI termasuk yang paling ramah bagi pemegang saham di kategori bank besar,” ujar Wawan saat memberikan analisisnya mengenai pergerakan emiten perbankan nasional.
Berdasarkan rekapitulasi keuangan, Bank Mandiri mengucurkan dividen sebesar Rp44,47 triliun dari perolehan laba bersih tahun buku 2025 yang mencapai Rp56,3 triliun. Tak berhenti di situ, komitmen perseroan dalam memanjakan investor kembali dibuktikan lewat penetapan dividen interim tahun berjalan 2026 senilai Rp6,16 triliun atau setara Rp66 per lembar saham.
Dengan eksekusi aksi korporasi tersebut, akumulasi total dividen yang dialokasikan dan disalurkan Bank Mandiri sepanjang kalender 2026 melesat hingga menembus angka Rp50,63 triliun.
Kinerja Operasional Solid Menopang Dualitas Ekspansi dan Imbal Hasil
Menurut Wawan, besaran nilai dividen tersebut menjadi gambaran nyata atas kemampuan manajemen Bank Mandiri dalam menjaga keseimbangan antara imbal hasil ekuitas (return on equity) investor dan kebutuhan permodalan untuk ekspansi bisnis jangka panjang. Penetapan dividen interim sebesar Rp66 per saham juga dinilai sebagai sinyal positif atas rasa percaya diri manajemen terhadap ketahanan fundamental perusahaan.
Optimisme tersebut selaras dengan indikator kinerja operasional (bank only) hingga periode Agustus 2026. Laju penyaluran kredit dan penghimpunan DPK Bank Mandiri mampu mencatatkan pertumbuhan pesat sebesar 17,6% secara tahunan (year-on-year/yoy). Dari sisi profitabilitas, perolehan laba bersih perseroan selama delapan bulan pertama tahun 2026 berhasil melonjak hingga 22,3% yoy.
“Suntikan dividen interim ini mengonfirmasi fundamental yang sangat kokoh. Di saat yang sama, struktur permodalan dan tingkat likuiditas perseroan berada di posisi yang aman dan longgar. Artinya, ruang untuk melanjutkan ekspansi kredit masih terbuka lebar,” jelas Wawan.
Valuasi Saham Masih Menarik untuk Koleksi Jangka Panjang
Kondisi keuangan yang prima menempatkan BMRI pada posisi strategis untuk mengeksekusi dua agenda utama sekaligus: memertahankan tradisi pembagian dividen berimbal hasil tinggi dan memacu pertumbuhan portofolio kredit nasional. Dari perspektif analisis pasar, valuasi harga saham BMRI saat ini juga dinilai masih berada pada kisaran yang wajar (fair value) berdasarkan konsensus para analis perbankan.
Kombinasi antara konsistensi deviden jumbo, akselerasi laba operasional, dan daya tahan likuiditas menjadikan saham emiten perbankan berlogo pita emas ini tetap menjadi instrumen prioritas dalam portofolio para pelaku pasar.
“Bagi investor yang memburu saham sektor perbankan dengan karakter kombinasi—memberikan dividen besar sekaligus mempertahankan agresivitas ekspansi—saham BMRI jelas menjadi pilihan yang sangat kompetitif,” pungkasnya.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post