Peta persaingan teknologi peranti sandang (wearable tech) global kembali memanas. Oura, raksasa pelopor cincin pintar (smart ring) asal Finlandia, secara resmi melayangkan gugatan hukum baru terhadap pesaing utamanya asal India, Ultrahuman. Langkah agresif ini bertujuan memblokir total penjualan Ring Pro di pasar Amerika Serikat—hanya beberapa bulan setelah startup asal Bengaluru tersebut merombak desain produknya demi lolos dari sanksi larangan impor sebelumnya.
Gugatan yang didaftarkan di Pengadilan Federal Texas ini menjadi babak baru dari manuver hukum Oura yang kian intensif. Tak sekadar menjaga dominasi pasar, Oura secara sistematis terus memanfaatkan instrumen paten untuk membatasi ruang gerak para kompetitornya, mulai dari nama besar seperti Samsung hingga pemain terspesialisasi seperti RingConn.
Intrik Paten Baru dan Sasaran Manufaktur Lokal
Dalam berkas gugatannya, Oura mengklaim bahwa produk anyar Ultrahuman, Ring Pro, telah melanggar dua paten milik mereka terkait desain geometris dan arsitektur komponen internal, termasuk tata letak baterai melengkung, papan sirkuit, magnet, serta susunan sensor biosensorik. Selain menuntut ganti rugi finansial, Oura mendesak pengadilan menerbitkan putusan provisi (permanent injunction) untuk menghentikan penjualan perangkat tersebut secara permanen di AS.
Menariknya, salah satu paten yang disengketakan—yakni nomor 12,769,363—baru saja diterbitkan oleh otoritas paten AS pada 20 Oktober, atau tepat dua hari sebelum gugatan resmi didaftarkan. Oura menegaskan bahwa izin masuk pasar yang didapatkan Ultrahuman dari Badan Bea dan Cukai AS (CBP) pada Maret lalu hanya mencakup sengketa paten lama yang melibatkan generasi sebelumnya, Ring Air, bukan klaim paten terbaru ini.
Tidak berhenti di situ, Oura juga menyeret SVTronics, produsen manufaktur elektronik berbasis Texas, sebagai tergugat sekunder. SVTronics dituduh merakit Ring Pro di fasilitas mereka di Plano, Texas, di bawah kendali penuh Ultrahuman—sebuah skema perakitan lokal yang dianggap Oura sebagai upaya merintangi penegakan hukum kepabeanan.
Respon Ultrahuman: Perlawanan Sengit di Jalur Hukum
Menanggapi serangan hukum bertubi-tubi tersebut, Pendiri sekaligus CEO Ultrahuman, Mohit Kumar, menegaskan keyakinannya terhadap keaslian inovasi Ring Pro dan menyatakan kesiapannya untuk melawan Oura di pengadilan.
“Oura kini memilih untuk memaksakan paten yang berbeda, termasuk paten yang baru saja terbit dua hari sebelum gugatan ini dilayangkan. Kami akan menghadapi klaim ini melalui proses hukum yang tepat dan membela posisi kami secara agresif. Hingga saat ini, tidak ada perintah pengadilan yang membatasi operasi Ring Pro, dan perangkat ini tetap tersedia penuh bagi konsumen di AS,” ujar Kumar mantap.
Perseteruan kedua entitas ini sebenarnya telah berlangsung sejak 2023. Kala itu, Oura berhasil memenangkan keputusan di Komisi Perdagangan Internasional AS (ITC) pada Agustus tahun lalu, yang berujung pada pemblokiran impor produk Ring Air milik Ultrahuman karena terbukti melanggar hak kekayaan intelektual.
Monopoli Pasar dan Dinamika Komersialisasi Cincin Pintar
Oura jelas tidak bermain-main dalam mengamankan teritori bisnisnya. Selain Ultrahuman, serangkaian gugatan paten serupa telah dilayangkan kepada pemain industri lain seperti Samsung (Galaxy Ring), Circular, dan Zepp Health. Strategi “benteng paten” ini terbukti ampuh; beberapa pesaing seperti RingConn dan Circular akhirnya memilih menyerah dan menandatangani perjanjian lisensi multi-tahun, yang mewajibkan mereka membayar royalti berkala kepada Oura agar dapat bertahan di pasar AS.
Eskalasi konflik ini terjadi di tengah proyeksi lonjakan adopsi cincin pintar. Lembaga riset industri IDC memproyeksikan pengiriman peranti cincin pintar secara global akan tumbuh 12,8% tahun ini mencapai 4,9 juta unit, dan diperkirakan menembus 6,3 juta unit pada tahun 2030.
Langkah hukum Oura ini juga mengemuka di momen kritis internal perusahaan. Oura baru saja menunda rencana penawaran umum perdana (IPO) bernilai USD 2,2 miliar akibat ketidakpastian pasar makro, meski mereka terus menggejot pengembangan fitur analisis kesehatan kardiovaskular pada lini produknya.
Di sisi lain, Ultrahuman justru baru saja mengamankan suntikan dana segar senilai USD 70 juta dalam putaran pendanaan yang disokong oleh Qualcomm Ventures dan Labcorp, meningkatkan valuasi startup tersebut menjadi sekitar USD 365 juta. Bermitra dengan Qualcomm, Ultrahuman tengah mengembangkan cincin pintar generasi berikutnya yang didukung pemrosesan komputasi langsung di dalam perangkat (on-device AI), mengarahkan visi teknologi sandang ini melampaui pelacakan kebugaran menuju fungsionalitas kecerdasan buatan terpadu.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post