KABUL – Di tengah krisis kesehatan yang berkepanjangan di Afghanistan, sebuah rumah sakit jantung baru yang berlokasi di pinggiran Kota Kabul hadir menjadi angin segar bagi puluhan ribu anak penderita kelainan jantung bawaan. Fasilitas kesehatan ini memberikan layanan pengobatan dan operasi secara gratis bagi keluarga kurang mampu.
Rumah sakit berkapasitas 50 tempat tidur yang didukung oleh Perhimpunan Bulan Sabit Merah Afghanistan (ARCS) ini menjadi tumpuan harapan baru bagi rakyat miskin. Fasilitas tersebut menyediakan layanan lengkap, mulai dari diagnosis, perawatan medis, hingga operasi jantung khusus bagi pasien anak dari seluruh penjuru negeri.
Layanan Medis Bebas Biaya untuk Rakyat Miskin
Kepala Rumah Sakit Jantung ARCS, Dr. Abdul Wali Atmanzai, menyatakan bahwa rumah sakit yang baru beroperasi sekitar dua bulan tersebut fokus menangani anak-anak dengan kelainan jantung bawaan, termasuk kasus kebocoran katup atau lubang pada jantung.
“Semua layanan, mulai dari rawat inap, pemeriksaan medis, tindakan operasi, hingga obat-obatan disediakan secara gratis,” ujar Atmanzai.
Hingga saat ini, sebanyak 154 anak telah berhasil menjalani operasi jantung di fasilitas tersebut. Tim medis setempat secara rutin melakukan empat hingga delapan prosedur operasi setiap harinya untuk menangani pasien yang terus berdatangan.
Beban Finansial yang Tak Terjangkau Keluarga Pasien
Kehadiran rumah sakit gratis ini sangat berarti bagi para orang tua yang selama ini terbentur biaya pengobatan rumah sakit swasta yang sangat mahal. Mohammad Hassan, seorang buruh harian asal Provinsi Jawzjan, harus menempuh perjalanan jauh sejauh 390 kilometer demi menyelamatkan nyawa putrinya yang berusia tiga tahun.
Hassan sebelumnya sempat kehilangan anak pertamanya yang baru berusia dua bulan akibat kondisi kebocoran jantung yang tak tertangani. Ketika anak lainnya mendapati penyakit serupa, ia sempat putus asa karena rumah sakit swasta meminta biaya hingga 300.000 afghani (sekitar Rp83,1 juta) untuk tindakan operasi.
Kisah serupa dialami oleh Naz Mohammad. Ayah dari anak perempuan berusia lima tahun ini mengaku terkejut saat rumah sakit swasta mematok tarif antara 120.000 hingga 200.000 afghani (sekitar Rp33,2 juta hingga Rp55,4 juta) untuk pengobatan anaknya.
“Kondisi keuangan kami sangat sulit dan saya bekerja sebagai buruh, tentu jumlah itu tidak mungkin terjangkau,” tutur Naz Mohammad yang kini rela mengantre demi mendapatkan penanganan medis gratis untuk sang buah hati.
Ancaman Angka Kematian Anak Tinggi
Tingginya ketergantungan masyarakat pada fasilitas kesehatan gratis ini memicu lonjakan pendaftaran. Setiap harinya, terdapat 20 hingga 30 pasien baru yang mendaftar, yang menyebabkan masa tunggu antrean operasi berkisar antara enam bulan hingga dua tahun.
Atmanzai memperkirakan terdapat lebih dari 100.000 anak di seluruh Afghanistan yang saat ini hidup dengan kelainan jantung bawaan. Tanpa penanganan medis yang cepat dan tepat, angka kematian anak akibat penyakit ini diprediksi sangat tinggi.
“Tanpa intervensi medis yang tepat waktu, secara nasional sekitar 20 hingga 25 persen dari anak-anak penderita kelainan jantung tersebut berisiko kehilangan nyawa,” jelas Atmanzai.
Bagi para tenaga medis di Kabul, setiap prosedur operasi yang berhasil tidak hanya sekadar menyelamatkan nyawa, tetapi juga mengembalikan senyum masa kecil anak-anak Afghanistan serta memberi napas baru bagi masa depan mereka.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China










Discussion about this post