GOWA — Rasa takut dan trauma mendalam masih membayangi Ashari Samadikun, kapten kapal tanker MT Honour 25. Pelaut asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan ini berhasil selamat dari maut setelah disekap gerombolan perompak Somalia selama lebih dari lima bulan bersama 16 rekannya. Operasi pembebasan yang diwarnai kontak senjata sengit akhirnya mengakhiri masa-masa mencekam tersebut, meski harus dibayar mahal dengan tewasnya lima anggota kru kapal.
“Kalau saya dengar suara hentakan, saya kira tembakan. Sampai sekarang itu yang masih terbawa,” ujar Ashari saat ditemui di kediamannya di Kabupaten Gowa.
Awal Mula Pembajakan Kapal
Aksi pembajakan kapal tanker MT Honour 25 terjadi pada 21 April 2026. Gerombolan perompak bersenjata mendekat dari sisi kanan kapal dan mendadak melepaskan tembakan. Tanpa adanya perlengkapan senjata di atas kapal, para anak buah kapal (ABK) tidak mampu memberikan perlawanan.
Setibanya di atas dek, para perompak langsung menyisir area dan mencari nahkoda kapal. Ashari menginstruksikan seluruh krunya untuk berkumpul di depan kamarnya, menunduk, dan mengangkat tangan demi keselamatan mereka.
“Saya bilang ke kru: ‘Tenang, jangan takut, jangan panik, jangan berbuat apa-apa’. Semua kru tunduk dan angkat tangan, cuma saya yang berdiri menghadapi penodongan senjata,” tutur Ashari.
Menghadapi situasi krisis, Ashari melakukan pendekatan persuasif. Ia menegaskan identitasnya sebagai seorang Muslim untuk mendinginkan emosi para perompak. Pendekatan tersebut membuahkan hasil hingga para sandera tidak mengalami pengikat fisik atau penganiayaan di hari-hari pertama. Sebelum dikuasai sepenuhnya, Ashari sempat menekan tombol Ship Security Alert System (SSAS) untuk mengirimkan sinyal darurat.
Kapal MT Honour 25 sendiri membawa 17 pelaut, termasuk empat warga negara Indonesia (WNI), yaitu:
1. Ashari Samadikun (Kapten) – Gowa, Sulawesi Selatan
2. Adi Faizal (2nd Officer) – Bulukumba, Sulawesi Selatan
3. Wahudinanto (Chief Officer) – Pemalang, Jawa Tengah
4. Fiki Mutakin (ABK) – Bogor, Jawa Barat
Dalam aksi penguasaan tersebut, perompak menyita seluruh ponsel milik kru serta menyita uang tunai operasional kapal sebesar US$4.400.
Lima Bulan Bertahan Hidup di Laut Lepas
Momen paling mencekam dirasakan pada lima hari pertama pascapembajakan. Kepanikan perompak memuncak ketika tiga kapal yang diutus pihak perusahaan mendekat untuk bernegosiasi. Gerombolan tersebut mengancam akan membunuh seluruh sandera sambil melepaskan tembakan acak.
Seiring berjalannya waktu, kondisi kesehatan para ABK kian memburuk akibat ketersediaan logistik yang menipis dan tidak adanya suplai makanan dari perusahaan. Untuk bertahan hidup, para pelaut memanfaatkan peralatan pancing seadanya untuk menangkap ikan di laut lepas. Pihak perompak hanya sesekali memberikan bantuan berupa 15 ekor kambing berukuran kecil selama hampir lima bulan masa penyanderaan.
Penderitaan semakin bertambah memasuki bulan ketiga. Komunikasi dengan keluarga diputus total, pasokan air tawar terhenti akibat kerusakan mesin generator, dan bahan makanan habis sepenuhnya. Di tengah keputusasaan dan permintaan tebusan awal perompak yang fantastis mencapai US$7 juta, para ABK saling menguatkan satu sama lain.
Ulet Bernegosiasi dan Penyerbuan Mencekam
Sebagai kapten, Ashari terus berupaya bernegosiasi secara langsung dengan pimpinan perompak. Ia menjelaskan kalkulasi nilai kapal dan muatan minyak yang tidak memungkinkan untuk membayar tebusan puluhan juta dolar. Berkat perdebatan sengit selama sepekan, perompak akhirnya bersedia menurunkan tuntutan tebusan secara bertahap hingga angka US$1,5 juta.
Namun, situasi di atas kapal kembali memanas saat kapal diperintahkan berlayar menuju lokasi baru. Isu mengenai serangan terhadap kelompok perompak lain membuat penyandera makin agresif. Para kru diikat di atas dek, sementara senjata berat dipasang di sekeliling kapal.
Puncaknya terjadi pada Selasa pagi, 29 September 2026. Aparat keamanan Puntland—wilayah semi-otonom di Somalia—melakukan operasi penyerbuan menggunakan kapal tanker. Kontak senjata sengit meletus sejak pukul 08.00 hingga 14.00 waktu setempat.
Meski Ashari telah berulang kali memperingatkan aparat melalui radio bahwa para kru diikat di area terbuka dek kapal, tembakan mesin bertubi-tubi tetap dilancarkan ke arah kapal. Usai kontak senjata mereda, lima orang sandera ditemukan tewas dan lima lainnya mengalami luka tembak, termasuk Fiki Mutakin, WNI asal Bogor. Korban tewas terdiri dari tiga warga Pakistan, satu warga India, dan satu warga Myanmar.
Dalam operasi tersebut, aparat Puntland berhasil meringkus 16 perompak, sementara sebagian pelaku lainnya melarikan diri.
Kembali ke Tanah Air
Pada 6 Oktober 2026, keempat pelaut Indonesia berhasil dipulangkan dan mendarat di Tanah Air dengan selamat. Meski sudah berkumpul kembali bersama keluarga di kampung halaman, luka trauma mendalam belum sepenuhnya hilang.
Ashari mengaku kerap meneteskan air mata setiap kali mengingat lima rekannya yang gugur dalam tragedi tersebut. “Jujur sampai sekarang, kalau saya lihat anak dan ibu saya, saya selalu teringat anak dan ibu dari anggota saya yang meninggal. Saya betul-betul tidak bisa lupa,” tutur Ashari penuh haru.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post