Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi memulai safari politik maraton selama 32 hari ke berbagai penjuru negeri. Langkah intensif ini diambil guna mendongkrak perolehan suara Partai Republik menjelang pemilu sela (midterm elections) yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November 2026 mendatang.
Tur kampanye berskala nasional ini diawali dari wilayah Texas dan Oklahoma. Trump memanfaatkan agenda ini sebagai panggung strategis untuk mempertahankan rekam jejak pemerintahannya di hadapan publik, sembari mendukung langsung para kandidat Partai Republik yang tengah menghadapi persaingan sengit di daerah pemilihan masing-masing.
Klaim Keberhasilan dan Kritik Terhadap Media
Saat berpidato di hadapan ratusan pekerja di pabrik Peterbilt Motors Company di Denton, Texas, Trump berupaya membalikkan narasi negatif terkait tingkat kepuasan publik yang terus merosot. Di hadapan para pendukungnya, ia memberikan penilaian mandiri yang sangat tinggi terhadap capaian kabinetnya.
“Saya memberi nilai A plus untuk kinerja pemerintah, ekonomi, dan segala hal yang dilakukan oleh pemerintahan saya,” ujar Trump dengan percaya diri.
Selain membanggakan capaian internal, taipan properti tersebut kembali melayangkan kritik tajam terhadap liputan media arus utama yang ia sebut tendensius. Ia menilai publikasi media selama ini menutupi kerja keras dan prestasi nyata yang telah dicapai di lapangan.
Bayang-bayang Lonjakan Biaya Hidup dan Konflik Iran
Upaya konsolidasi politik Trump menghadapi tantangan berat akibat sentimen publik yang memburuk. Berdasarkan jajak pendapat terbaru yang dirilis oleh AP-NORC Center for Public Affairs Research, sebanyak 71 persen warga AS menyatakan tidak setuju dengan kebijakan Trump terkait eskalasi perang dengan Iran, sementara 69 persen lainnya memandang konflik bersenjata tersebut tidak layak dijalankan.
Isu perekonomian domestik turut menjadi batu sandungan besar. Hasil survei terhadap 2.140 warga dewasa tersebut mengungkapkan:
- Hanya 26 persen responden yang mendukung tata kelola ekonomi pemerintahan saat ini.
- Tingkat kepuasan terhadap penanganan biaya hidup bahkan anjlok ke angka 17 persen.
- Sebanyak 65 persen pemilih mengaitkan langsung lonjakan harga kebutuhan pokok dan energi dengan kebijakan Gedung Putih.
Ketegangan geopolitik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 telah mengganggu jalur distribusi energi vital di Selat Hormuz. Dampaknya, harga solar meroket hingga melampaui 6 dolar AS per galon (sekitar Rp107.500), yang langsung membebani sektor logistik dan transportasi industri nasional.
Tarif Perdagangan dan Janji Stabilitas Energi
Merespons kegelisahan para pemilih, Trump menegaskan kembali komitmen proteksionisme ekonominya. Ia mengeklaim bahwa pemberlakuan tarif perdagangan internasional telah berhasil melindungi para buruh domestik dari kompetisi global yang tidak sehat dan mengembalikan lapangan kerja manufaktur ke tanah air.
Terkait krisis kawasan Timur Tengah, Trump optimis bahwa kestabilan akan segera tercapai dalam waktu singkat demi meredam lonjakan harga bahan bakar di pasar domestik.
“Sesuai janji, saya memastikan Iran akan segera ditaklukkan. Saya berjanji kepada Anda, harga energi akan turun dengan sangat, sangat cepat,” tegas Trump seraya memperkirakan kemenangan politik maupun militer dapat diraih menjelang hari pemungutan suara.
Pertarungan pemilu sela 2026 menjadi momentum krusial bagi peta perpolitikan Amerika Serikat, di mana seluruh 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) serta 35 dari 100 kursi Senat AS akan diperebutkan untuk menentukan kendali mayoritas di Kongres.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post