MALANG TODAY – Hampir dua bulan pascagempa berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus lalu, proses pemulihan masih berjalan lambat. Meski pemerintah menyatakan penanganan telah memasuki fase rekonstruksi, realita di lapangan menunjukkan ribuan warga di wilayah terdampak parah masih hidup dalam kondisi darurat yang memprihatinkan.
Kondisi ini terlihat jelas di Kabupaten Manggarai Timur dan Nagekeo. Janji pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dasar, menyalurkan logistik secara merata, dan menjamin kelancaran layanan publik seperti pendidikan dan kesehatan masih jauh dari harapan warga setempat.
Murid SD Belajar Beralas Terpal dan Kepanasan
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebelumnya memperkirakan ada sekitar 94.452 murid dan 8.755 guru yang terdampak gempa Flores. Pemerintah pun berjanji akan menjamin hak belajar para siswa tetap terpenuhi.
Namun di SD Inpres Maki, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lambaleda Utara, proses belajar mengajar terpaksa dilakukan di dalam dua tenda darurat bantuan. Sebanyak 186 siswa dari sembilan rombongan belajar harus berdesakan tanpa fasilitas meja dan kursi. Mereka terpaksa menulis dan menggambar sambil duduk beralaskan terpal tipis.
Sinta Narti, salah satu guru kelas dua, mengeluhkan tidak efektifnya kegiatan belajar mengajar akibat keterbatasan ini. Selain tidak adanya meja, suhu udara di dalam tenda yang sangat panas saat siang hari membuat konsentrasi anak-anak buyar.
Kekhawatiran serupa disampaikan Kepala SDI Maki, Andi Suryani. Kapasitas tenda yang ada saat ini tidak mampu menampung seluruh siswa secara ideal, sehingga siswa kelas satu hingga tiga terpaksa digabung dalam satu tenda. Andi mencemaskan kondisi fisik anak-anak didik mereka saat musim hujan yang disertai angin kencang tiba nanti.
Fasilitas Kesehatan Rusak, Imunisasi Anak Terhenti
Klaim pemerintah pusat yang menyatakan seluruh fasilitas kesehatan di NTT sudah kembali berfungsi normal juga berbanding terbalik dengan kondisi riil di lapangan. Di beberapa wilayah, pelayanan medis masih berjalan darurat di bawah tenda karena bangunan puskesmas rusak berat.
Di Puskesmas Pota, Kabupaten Manggarai Timur, seluruh alat kesehatan seperti alat laboratorium dan tensimeter hancur tertimbun reruntuhan gedung. Tenaga medis terpaksa menggunakan peralatan pribadi yang sempat diselamatkan untuk melayani pasien rawat jalan, rawat inap, hingga persalinan darurat.
Dokter umum Puskesmas Pota, dr. Regina Novita, mengungkapkan bahwa pelayanan imunisasi anak terpaksa dihentikan total karena lemari pendingin khusus vaksin (cool chain) rusak akibat gempa. Di sisi lain, kasus penyakit seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, dan penyakit kulit mulai melonjak di pengungsian akibat sanitasi buruk dan minimnya air bersih.
Kondisi serupa terjadi di UPTD Puskesmas Nangaroro, Kabupaten Nagekeo. Enam tenda darurat didirikan di halaman puskesmas untuk menggantikan ruang UGD, rawat inap, poliklinik, hingga ruang bersalin. Menurut dr. Lita, dokter umum setempat, bayi baru lahir dan anak-anak sangat rentan mengalami demam di siang hari karena suhu tenda yang ekstrem, serta kedinginan saat malam hari.
Pembangunan Huntara Berjalan Lambat
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 27 September 2026, tercatat sebanyak 44.767 rumah warga di NTT mengalami kerusakan. Namun, progres pembangunan hunian sementara (huntara) masih sangat minim.
Di Kabupaten Manggarai, dari 1.494 rumah yang terverifikasi rusak berat, baru empat unit huntara yang selesai dibangun dari target awal 110 unit. Di Manggarai Timur, baru enam unit huntara yang rampung dari target tahap pertama sebanyak 1.305 unit. Sementara di Kabupaten Nagekeo, baru sembilan unit huntara yang dilaporkan selesai.
Lambatnya pembangunan ini membuat puluhan ribu warga, termasuk di Dusun Waso, Desa Satar Kampas, terpaksa bertahan di tenda darurat yang tidak layak. Hafni Roja (38), salah satu penyintas, mengeluhkan fasilitas MCK yang sangat terbatas serta kondisi cuaca ekstrem yang mulai menurunkan daya tahan tubuh keluarganya.
Akses Terisolasi Hambat Distribusi Bantuan
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian sebelumnya menjanjikan bantuan stimulan perbaikan rumah berkisar antara Rp15 juta hingga Rp70 juta. Namun, birokrasi dan masalah geografis membuat bantuan sulit menjangkau wilayah terpencil.
Di Kampung Nangarema, Desa Haju Wangi, ketiadaan jaringan komunikasi dan listrik membuat warga terisolasi saat bencana terjadi. Bantuan logistik pertama baru tiba tiga hari pascagempa dengan jumlah yang sangat minim.
Zulkarnaidin Arsyad, Ketua RT setempat, menyebutkan bahwa setelah satu bulan berlalu, warga di kampungnya baru menerima bantuan beras sebanyak 100 kilogram untuk dibagikan kepada 48 kepala keluarga. Selain itu, proses pendataan dinilai tebang pilih karena petugas lebih memprioritaskan rumah permanen ketimbang rumah panggung tradisional yang posisinya sudah miring dan membahayakan.
Kelemahan Mitigasi dan Kesenjangan Daerah
Menanggapi situasi ini, Guru Besar Ilmu Manajemen Kebencanaan Geologi UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Dr. Eko Teguh Paripurno, menilai bahwa lambatnya pemulihan di Flores merupakan akumulasi dari kerentanan wilayah yang tidak dikelola dengan baik sebelum bencana terjadi.
Menurut Eko, meskipun standar operasional prosedur (SOP) tanggap darurat di Indonesia sudah lengkap, kapasitas respons setiap pemerintah daerah sangat berbeda. Hal ini diperparah dengan buruknya infrastruktur transportasi yang membuat bantuan menumpuk di pusat kota atau wilayah yang mudah diakses saja.
Eko menyarankan agar pemerintah pusat segera merancang sistem distribusi alternatif, seperti menggunakan jalur udara untuk menjangkau wilayah terisolasi, serta melibatkan organisasi masyarakat lokal agar bantuan dapat tersalurkan secara cepat dan tepat sasaran sebelum musim hujan memperburuk kondisi para pengungsi.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post