Incar Dana Global US$ 30 Miliar, Danantara Pacu Investasi Strategis Lewat New Asia Forum 2026
Lembaga pengelola investasi Indonesia, Danantara Indonesia, membidik mobilisasi dana investasi hingga bernilai US$ 30 miliar (sekitar Rp 475 triliun) dari kawasan Asia. Langkah agresif ini ditempuh melalui ajang bergengsi New Asia Forum 2026 guna menarik modal global ke sektor-sektor strategis nasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi investasi utama di tengah dinamika geopolitik global yang terus berubah.
Helatan berskala internasional tersebut dijadwalkan berlangsung di Bali pada 3-4 Desember 2026 di bawah naungan langsung Presiden Prabowo Subianto, dengan Danantara bertindak sebagai mitra pendiri (*founding partner*). Forum ini diproyeksikan bakal menghimpun lebih dari 1.000 pemimpin global dan 100 pembicara kelas dunia, termasuk Chairman sekaligus CEO SoftBank Group, Masayoshi Son.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa perhelatan ini dirancang untuk menghasilkan realisasi investasi konkret, bukan sekadar menjadi ajang diskusi semata. Danantara berkomitmen melakukan skema investasi bersama (*co-investment*) dengan mitra global untuk mengalirkan modal langsung ke industri strategis di tanah air.
“Mandat dari Danantara Investment Management adalah menarik modal swasta dan global untuk berinvestasi bersama kami di sektor-sektor strategis Indonesia. New Asia Forum menjadi wadah nyata untuk mewujudkan hal tersebut,” ujar Pandu saat memberikan keterangan di Jakarta.
Peluang Emas di Tengah Pergeseran Geopolitik Dunia
Selama penyelenggaraan forum kelak, Danantara berencana mengumumkan sejumlah komitmen modal dan investasi strategis. Langkah ini menegaskan peran lembaga tersebut sebagai anchor investor yang mampu memicu masuknya tambahan modal swasta maupun investor internasional secara berkelanjutan.
Managing Director for Global Relations and Communications Danantara, Pahala Mansury, menyoroti peran kawasan Asia yang semakin krusial terhadap pertumbuhan ekonomi global. Meski demikian, alokasi modal internasional jangka panjang ke kawasan ini dinilai masih di bawah potensi optimalnya.
Pahala optimistis bahwa di tengah lanskap geopolitik yang terus bergeser, Indonesia berada di posisi strategis untuk menyerap arus modal dari Tiongkok, Australia, Amerika Serikat, hingga negara-negara lain yang tengah aktif mencari destinasi investasi baru yang stabil dan prospektif.
Fokus Pengembangan Infrastruktur Digital, AI, dan Energi Hijau
Infrastruktur digital serta teknologi kecerdasan buatan (*artificial intelligence*/AI) menjadi pilar prioritas investasi yang akan diakselerasi dalam forum tersebut. Managing Director of Investment Danantara Investment Management, Stefanus Ade Hadiwidjaja, mengungkapkan bahwa beberapa kesepakatan proyek besar, termasuk pembangunan pusat data (*data center*), bakal resmi diumumkan.
Guna memastikan keberlanjutan, keputusan investasi pada infrastruktur AI akan mempertimbangkan secara ketat ketersediaan pasokan energi dan air. Khusus proyek pusat data skala besar, Danantara menerapkan pendekatan “bring your own energy”. Skema ini mewajibkan pengembang mengamankan pasokan energi mandiri agar tidak mengganggu keandalan distribusi listrik bagi kebutuhan rumah tangga.
Selain itu, pelaku industri pusat data didorong menerapkan sistem sistem sirkulasi tertutup (*closed-loop systems*) guna menekan konsumsi air, yang dipadukan dengan teknologi pengolahan air ramah lingkungan serta desalinasi.
Diversifikasi Portofolio: Pengolahan Sampah hingga Aset Makkah
Di luar sektor teknologi digital, ekspansi investasi Danantara turut menjangkau industri pengolahan sampah dan sektor pariwisata. Tiga proyek awal pengolahan sampah menjadi energi (*waste-to-energy*) di Bali, Bekasi, dan Bogor saat ini telah memasuki tahap konstruksi. Sementara itu, delapan mitra pada fase kedua telah mengantongi surat penghargaan bersyarat (*conditional letters of award*) yang mencakup delapan lokasi di 20 kota dan kabupaten.
Pada sektor perhotelan dan properti internasional, Danantara Investment Management mencatatkan portofolio strategis dengan menyelesaikan akuisisi Novotel Thakher Makkah berkapasitas 1.461 kamar pada 11 Agustus lalu, serta lahan seluas 4,4 hektar di distrik Thakher, Makkah, pada 18 Oktober.
Tak hanya itu, manajer investasi ini juga menjalin kemitraan strategis dengan JBS Group melalui usulan investasi senilai US$ 2,5 miliar untuk menguasai 25 persen saham pada perusahaan patungan (*joint venture*) yang menaungi operasional JBS di Australia dan Selandia Baru.
Rangkaian New Asia Forum 2026 sendiri dirancang dalam dua tahapan utama, yakni sesi “Discovery & Diligence” pada 3 Desember dan “Action & Execution” pada 4 Desember. Melalui alur terstruktur ini, Danantara memastikan setiap kesepakatan awal dapat ditindaklanjuti hingga tahap struktur pembiayaan yang matang, guna mengubah komitmen menjadi proyek nyata yang memberikan nilai tambah ekonomi jangka panjang bagi Indonesia.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post