Ribuan Jemaah Telantar Akibat EskaIasi Keamanan, Pemerintah Pastikan Posisi Jemaah Indonesia Aman
Eskalasi serangan kelompok Houthi ke wilayah Arab Saudi memicu gangguan signifikan pada jalur penerbangan internasional dan menyebabkan sedikitnya 4.000 jemaah umrah telantar di Tanah Suci. Krisis penerbangan yang sebagian besar berdampak pada jemaah asal India ini terjadi akibat pembatalan jadwal terbang serta kelalaian sejumlah agen perjalanan yang meninggalkan jemaah mereka tanpa kepastian pemulangan.
Menanggapi situasi tersebut, Presiden All India Majlis-e-Ittehadul Muslimeen (AIMIM), Asaduddin Owaisi, mendesak Pemerintah India untuk mengambil langkah darurat melalui Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil (DGCA). Owaisi meminta otoritas mengerahkan pesawat berkapasitas besar atau menyediakan penerbangan khusus guna mengevakuasi ribuan jemaah yang tertahan di Arab Saudi.
Sementara itu, Juru Bicarak Kementerian Luar Negeri India (MEA), Randhir Jaiswal, mengonfirmasi bahwa diplomasi penerbangan darurat telah berjalan. Kedutaan Besar India di Riyadh dan Konsulat Jenderal India di Jeddah berhasil memulangkan sekitar 3.000 jemaah yang sempat tertahan sepekan sebelumnya, sementara skema pemulangan untuk sisa jemaah lainnya masih terus dikonsolidasikan bersama maskapai terkait.
Kemenlu dan Kementerian Agama Imbau Jemaah Indonesia Tetap Waspada
Di tengah kekhawatiran global, kondisi jemaah umrah asal Indonesia dipastikan berada dalam situasi aman dan terkendali. Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Heni Hamidah, menyatakan bahwa seluruh jemaah Indonesia yang berjumlah puluhan ribu orang di Arab Saudi tidak mengalami kendala keselamatan langsung.
“Saat ini di Arab Saudi terdapat 49.000 jemaah umrah, dan semuanya dalam keadaan aman,” ujar Heni Hamidah di Jakarta. Ia menjelaskan bahwa kendati serangan sempat mengganggu operasional penerbangan di wilayah Riyadh, aktivitas penerbangan di pintu utama jemaah umrah, yakni Bandara Jeddah dan Madinah, kini telah berangsur normal dengan tingkat penundaan yang relatif terukur.
Untuk mengantisipasi potensi dinamika di lapangan, personel Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah disiagakan selama 24 jam penuh di area bandara. Langkah ini diambil untuk memastikan pelayanan pemantauan serta pendampingan langsung bagi Warga Negara Indonesia (WNI) maupun Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang berada di Arab Saudi.
Sebagai langkah mitigasi risiko, Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengimbau seluruh penyelenggara umrah dan jemaah Indonesia untuk mengutamakan penerbangan langsung (direct flight) tanpa rute transit. Langkah ini dinilai vital untuk meminimalisasi risiko penundaan akibat gangguan ruang udara di kawasan Timur Tengah.
“Fokus pada pelaksanaan ibadah di Makkah dan Madinah,” tegas Dahnil Anzar Simanjuntak. Ia mengimbau agar jemaah membatasi aktivitas perjalanan wisata di luar dua kota suci tersebut selama kondisi keamanan di kawasan regional masih dalam status bersiaga.
Gelombang Pembatalan Penerbangan Maskapai Internasional
Imbas serangan ini memicu penyesuaian operasional secara masif dari berbagai maskapai penerbangan dunia. Maskapai besar asal Timur Tengah seperti Emirates, Etihad Airways, dan Qatar Airways membatalkan dan mereduksi sejumlah rute menuju Riyadh, Dammam, dan Jeddah guna menjamin keselamatan penerbangan.
Penyesuaian serupa juga diikuti oleh maskapai asal Oman seperti Oman Air dan SalamAir. Penangguhan rute ke wilayah terintegrasi Arab Saudi ini diperkirakan berlangsung hingga akhir Oktober, bergantung pada perkembangan stabilitas keamanan di kawasan setempat.
Sektor penerbangan Eropa turut berdampak. Maskapai terkemuka seperti Air France, KLM, hingga Lufthansa Group secara resmi menangguhkan penerbangan komersial mereka menuju Riyadh dan Dammam hingga kurun waktu yang disesuaikan dengan evaluasi risiko keamanan penerbangan internasional.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post