Pemerintah Indonesia mengambil langkah agresif untuk menekan eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali mengancam sejumlah wilayah. Melalui penguatan teknologi pemantauan satelit dan intensifikasi operasi modifikasi cuaca (OMC), pemerintah menetapkan lima provinsi prioritas dalam penanganan darurat karhutla guna mencegah dampak ekologis dan ekonomi yang lebih luas.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kristomei Sianturi, menegaskan bahwa akurasi data dan kecepatan intervensi di lapangan kini menjadi fokus utama. Pemetaan titik panas (hotspot) dan kalkulasi luas area terbakarnya lahan kini mengandalkan pemutakhiran citra satelit tingkat tinggi agar respons armada pemadam dapat dilakukan secara presisi.
Fokus Penanganan di Lima Provinsi Rawan
Strategi penanggulangan karhutla saat ini dipusatkan pada lima wilayah yang mengalokasikan ancaman terbesar, yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat. Pemantauan BNPB mencatat adanya kenaikan aktivitas titik api di Sumatera Selatan dan Jambi, meski grafiknya dinilai masih dalam tingkat yang terkendali.
Untuk mengantisipasi pemburukan situasi, BNPB memperkuat kolaborasi lintas lembaga bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Sinergi ini diwujudkan melalui operasi hujan buatan yang menargetkan wilayah-wilayah kritis yang sulit dijangkau oleh tim darat.
Teknologi ‘Dry Ice’ dan Penyemaian Garam
Operasi modifikasi cuaca kali ini menerapkan teknik mutakhir dengan memanfaatkan es kering (karbon dioksida padat). Inovasi ini bertujuan menembus dan memecah lapisan inversi atmosfer—fenomena terperangkapnya asap tebal di ketinggian 6.000 hingga 7.000 kaki yang kerap menghalangi sinar matahari.
Setelah lapisan asap terurai dan penguapan alamiah kembali terjadi, tim udara melakukan penyemaian awan menggunakan natrium klorida (NaCl) atau garam industri. Proses kimiawi ini memicu pembentukan awan hujan secara presipitasi cepat, yang efektif memadamkan kobaran api sekaligus membersihkan polusi kabut asap di udara.
Sejak akhir Oktober, sebanyak 3.100 kilogram es kering telah disebar dalam lima kali sortie penerbangan. Khusus wilayah Sumatera Selatan, armada udara disiagakan dengan menyemprotkan 800 kilogram es kering hanya dalam satu kali operasi intensif.
Kualitas Udara Membaik dan Apresiasi Tim Gabungan
Intervensi teknologi ini mulai membuahkan hasil nyata. Di Palembang, ibu kota Sumatera Selatan, jarak pandang (visibility) yang sempat memburuk drastis kini melonjak dari semula hanya 700 meter menjadi 7.000 meter. Konsentrasi partikel polutan berbahaya PM2.5 juga mencatatkan penurunan signifikan.
Keberhasilan operasi air dan udara ini tidak terlepas dari kerja keras tim gabungan di lapangan. Apresiasi tinggi disampaikan kepada personel TNI-Polri, tim Manggala Agni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta masyarakat peduli api yang berada di garis depan pertempuran melawan karhutla.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post