WASHINGTON — Gedung Putih kembali diguncang dinamika internal setelah Sekretaris Pers Katie Zacharia dipastikan mundur dari jabatannya pada Jumat waktu setempat. Pengunduran diri ini terjadi bahkan sebelum masa jabatannya genap berusia satu minggu, menyusul serangkaian kontroversi publik dan blunder komunikasi yang makin memberatkan posisi Presiden Donald Trump di tengah tekanan politik domestik dan global.
Kepastian hengkangnya juru bicara berusia 41 tahun tersebut dikonfirmasi oleh pejabat internal Gedung Putih. Langkah ini diambil tak lama setelah Trump secara terbuka mengisyaratkan bahwa posisi tersebut mungkin tidak cocok untuk Zacharia, menyusul sorotan tajam atas kualifikasi hukumnya serta penampilannya yang menuai kritik pada sesi taklimat media perdananya.
“Saya bertanya padanya, ‘Katie, apakah pekerjaan ini tepat untukmu? Kamu tidak harus melakukan ini.’ Secara jujur saya katakan, jika saya berada di posisinya, saya akan mempertimbangkan kembali,” ujar Trump kepada awak media saat menggambarkan pembicaraannya dengan Zacharia.
Rekor Jabatan Tersingkat di Lingkaran Istana
Mundurnya Zacharia dalam waktu kurang dari enam hari memecahkan rekor masa jabatan tersingkat di lingkungan eksekutif AS. Rekor tersebut sebelumnya dipegang oleh Anthony Scaramucci, yang menjabat sebagai Direktur Komunikasi Gedung Putih selama 11 hari pada periode pertama pemerintahan Trump.
Scaramucci merespons peristiwa ini melalui platform X dengan menyebutkan bahwa rekor memang diciptakan untuk dipecahkan, seraya menambahkan bahwa ia tidak mengambil keuntungan atas kesulitan yang dialami orang lain.
Zacharia sebelumnya ditunjuk untuk menggantikan Karoline Leavitt, pejabat yang dikenal lugas dan berani merombak pola liputan media di Gedung Putih. Namun, awal kepemimpinan Zacharia justru ditandai dengan taklimat media pada Selasa yang berlangsung canggung. Sesi yang berjalan kurang dari 15 menit tersebut didominasi pembacaan daftar pencapaian Trump secara lambat, sebelum akhirnya ditutup setelah hanya menerima tiga pertanyaan dari wartawan.
Kontroversi Status Keahlian Hukum
Tekanan terhadap Zacharia makin memuncak ketika kualifikasi profesionalnya dipertanyakan. Dalam berbagai kemunculan di televisi dan media sosial, ia berulang kali mengklaim dirinya sebagai seorang pengacara serta mencantumkan posisi sebagai penasihat hukum umum untuk sebuah organisasi nirlaba konservatif di California.
Meskipun mengantongi gelar sarjana hukum dari sebuah universitas di California, Zacharia akhirnya mengakui bahwa ia belum pernah lulus ujian profesi advokat (bar exam)—syarat mutlak untuk dapat berpraktik sebagai pengacara resmi di Amerika Serikat.
Dalam wawancara klarifikasi dengan pembawa acara Fox News, Sean Hannity, Zacharia membenarkan bahwa ia tidak pernah mengambil ulang ujian tersebut. “Saya tidak pernah bermaksud untuk masuk ke dalam praktik hukum secara aktif,” dalihnya.
Ia juga berkilah dalam sesi wawancara lain bahwa niatnya mengambil ujian profesi terhalang oleh kesibukan rencana kepindahan ke Tiongkok bersama suaminya. Zacharia mengklaim mendapat masukan dari sejawatnya bahwa gelar sarjana hukum yang dimilikinya sudah cukup untuk menyandang predikat pengacara secara informal.
Diplomasi Terganggu akibat Pernyataan Kontroversial
Selain masalah kredibilitas personal, Zacharia memicu ketegangan diplomatik akibat peryataan kontroversialnya mengenai Tiongkok. Di tengah momentum sensitif pascakunjungan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke Washington, Zacharia mengeluarkan komentar merendahkan terkait infrastruktur di Tiongkok dalam sebuah wawancara media.
Komentar tersebut langsung mendapat respons dari Beijing. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, memberikan tanggapan menohok dengan menyarankan agar Zacharia “lebih sering berkunjung ke Tiongkok” agar melihat fakta lapangan secara objektif.
Goncangan di tim komunikasi ini terjadi pada momentum yang krusial bagi Presiden Trump yang kini berusia 80 tahun. Di tengah persiapan menghadapi pemilihan umum sela Kongres pada 3 November mendatang, pemerintahan Trump juga dihadapkan pada merosotnya tingkat kepuasan publik akibat isu inflasi, dinamika konflik dengan Iran, serta persepsi publik terhadap tata kelola pemerintahan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post