JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mempertegas komitmennya untuk mengintensifkan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah setelah mata uang Garuda menembus level psikologis baru Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan terhadap aset keuangan domestik ini dipicu oleh wacana penyertaan Indonesia dalam daftar penurunan status (downgrade) klasifikasi pasar oleh lembaga penyedia indeks global, MSCI.
Berdasarkan data perdagangan pasar spot pada Jumat pagi, rupiah dibuka melorot ke posisi Rp18.038 per dolar AS, terkoreksi sebesar 100 poin atau melemah 0,56 persen. Gelombang pelemahan ini terjadi secara mendadak seiring munculnya kekhawatiran para investor global atas potensi hengkangnya modal asing dari pasar modal tanah air.
Sentimen Reclasifikasi MSCI dan Pemicu Tekanan Pasar
Pemicu utama tekanan jual pada aset keuangan domestik kali ini adalah pengumuman resmi dari MSCI yang mulai membuka konsultasi publik terkait usulan reklasifikasi status pasar modal Indonesia. Lembaga riset investasi global tersebut mengusulkan untuk menurunkan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).
Sinyal reklasifikasi tersebut memicu kecemasan membumbung di kalangan pelaku pasar, mengingat perubahan status berpotensi memicu gelombang pelepasan portofolio saham dan obligasi oleh dana pensiun maupun investor institusional internasional yang mengacu pada indeks MSCI.
Meski demikian, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa dinamika pergerakan rupiah saat ini masih sejalan dengan tren mata uang kawasan kawasan regional. Secara kuartalan (quarter-to-date), pelemahan rupiah dinilai masih relatif terbatas sebesar 0,28 persen.
Strategi Intervensi Tiga Jalur Bank Indonesia
Menghadapi tingginya kecenderungan menghindari risiko (risk aversion) di tingkat global yang memperkasa posisi dolar AS, Bank Indonesia memastikan terus bersiap di garis depan pasar valuta asing. Langkah ini diambil untuk memastikan mekanisme pasar tetap berjalan secara teratur dan bergerak sesuai dengan fundamental ekonomi nasional.
“Bank Indonesia terus konsisten melakukan intervensi melalui transaksi offshore Non-Deliverable Forward (NDF), transaksi spot, serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Kami juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” ujar Erwin dalam keterangan resminya.
Di samping intervensi tripartit tersebut, bank sentral juga terus menjaga kecukupan likuiditas perbankan, mengelola struktur suku bunga di pasar uang, serta mempererat koordinasi dengan kalangan korporasi, pelaku pasar, dan pemangku kepentingan terkait guna mengantisipasi dampak lanjutan dari potensi arus modal keluar (outflow).
Ketahanan Ekonomi dan Cadangan Devisa Masih Solid
Guna meredam kepanikan pasar, Bank Indonesia menggarisbawahi bahwa fondasi eksternal ekonomi Indonesia sejatinya berada dalam kondisi yang sangat kokoh untuk menopang ketahanan nilai tukar.
Posisi cadangan devisa Indonesia tercatat masih sangat memadai, yakni mencapai 146,3 miliar dolar AS pada akhir September. Besaran cadangan devisa ini dinilai lebih dari cukup untuk mendukung kebutuhan pembiayaan impor, pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta menyediakan amunisi yang kuat bagi bank sentral dalam melakukan stabilisasi nilai tukar di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post