MALANG TODAY – Hubungan diplomatik antara Kanada dan Amerika Serikat berada di titik krusial. Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, mengungkapkan bahwa pemerintahannya kini mulai bersiap menghadapi skenario terburuk yang sebelumnya tak pernah terbayangkan: potensi invasi dari negara tetangganya, Amerika Serikat.
Langkah ekstrem ini diambil menyusul meningkatnya ketegangan bilateral di bawah kepemimpinan Presiden AS Donald Trump. Pernyataan kontroversial Trump yang bermaksud menjadikan Kanada sebagai “negara bagian ke-51” serta ancaman tarif global telah memaksa Ottawa melakukan simulasi militer pertahanan.
Meski menilai peluang terjadinya serangan fisik sangat kecil, Carney menegaskan bahwa langkah antisipasi ini merupakan bagian dari manajemen risiko untuk melindungi kedaulatan negaranya.
Ancaman Nyata atau Sekadar Retorika Politik?
Isu invasi ini rupanya bukan lagi sekadar wacana di tingkat pemerintahan, melainkan sudah memicu kekhawatiran publik Kanada. Hasil jajak pendapat Leger menunjukkan lebih dari 30 persen warga Kanada percaya bahwa aksi militer dari Amerika Serikat berpeluang terjadi.
Pihak Gedung Putih menegaskan bahwa Presiden Trump terus berupaya melindungi rakyat Kanada, sembari mengisyaratkan penggunaan tekanan ekonomi daripada kekuatan militer untuk mencapai tujuan politiknya.
Para pengamat militer menilai invasi konvensional sangat mustahil terjadi. Sebagai dua negara yang terikat dalam pakta pertahanan NATO dan komando pertahanan udara NORAD, Kanada dan AS memiliki tingkat integrasi intelijen dan militer yang sangat erat. Konflik bersenjata dinilai hanya akan menghancurkan sistem keamanan Amerika Utara secara keseluruhan.
Jejak Sejarah Konflik Kedua Negara
Meski dikenal sebagai sekutu dekat sejak era pasca-Perang Dunia II, hubungan Kanada dan AS memiliki sejarah pertikaian yang panjang. Ketakutan akan ekspansi AS bahkan menjadi salah satu cikal bakal terbentuknya identitas nasional Kanada.
Sejarah mencatat AS pernah beberapa kali berupaya menguasai wilayah Kanada, seperti merebut Montreal pada 1775 dan melancarkan invasi selama Perang 1812. Pada era setelah Perang Dunia I, militer Kanada bahkan sempat menyusun rencana pertahanan rahasia dengan memetakan wilayah perbatasan untuk mengantisipasi potensi serangan dari tetangga selatannya tersebut.
Simulasi Perang dan Perlawanan Gerilya
Jika konflik bersenjata benar-benar pecah, pakar keamanan menilai dampaknya akan sangat masif. Berdasarkan model simulasi teoretis yang dilakukan militer Kanada, kekuatan tempur AS diperkirakan mampu menguasai posisi-posisi strategis Kanada hanya dalam waktu satu minggu.
Menghadapi ketimpangan jumlah personel dan persenjataan, pasukan Kanada diproyeksikan akan beralih ke taktik perang gerilya. Ottawa juga diperkirakan akan meminta bantuan pertahanan dari negara-negara sekutu Eropa seperti Inggris dan Prancis.
Untuk mengantisipasi skenario terburuk di era geopolitik yang serba tidak pasti ini, Kepala Pertahanan Kanada telah menyerukan peningkatan kapasitas militer secara drastis, termasuk melatih hingga 300.000 warga sipil sebagai pasukan cadangan.
Di sisi lain, aksi militer terhadap Kanada diprediksi akan mendapat penolakan internal yang kuat di dalam tubuh militer AS sendiri. Banyak perwira AS diperkirakan bakal menolak perintah menginvasi Kanada karena menganggapnya sebagai tindakan yang ilegal dan tidak bermoral.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post