Pemerintah Indonesia memilih untuk bertindak cermat dan terukur dalam merespons penawaran bantuan internasional untuk penanganan bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Langkah inventarisasi kebutuhan dalam negeri menjadi prioritas utama guna memastikan setiap bentuk dukungan asing yang diterima benar-benar tepat guna dan tepat sasaran.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kristomei Sianturi, mengonfirmasi bahwa sejumlah negara sahabat telah menyampaikan iktikad baik mereka untuk membantu Indonesia. Dua di antaranya adalah Jepang dan Singapura, di mana Singapura bahkan sudah melayangkan penawaran secara resmi melalui surat.
“Kita butuh waktu untuk menginventarisasi bantuan apa saja. Sehingga nanti kalau memang kita tidak bisa dan alatnya tidak ada di kita, ya kita minta kepada mereka. Jadi bantuan itu biar maksimal, tepat guna, tepat sasaran,” ujar Kristomei usai menghadiri Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta.
Prinsip Efisiensi dan Kemandirian Sumber Daya
Kristomei menegaskan bahwa pemerintah tidak akan serta-merta menerima atau mengoperasikan bantuan asing apabila sumber daya domestik masih memadai. Aspek efektivitas dan efisiensi operasional di lapangan menjadi pertimbangan mendasar sebelum keputusan final diambil.
Ia memberi contoh terkait penawaran armada pesawat angkut tipe Hercules C-130 dari negara sahabat. Menurutnya, Indonesia saat ini telah memiliki armada serupa dengan kapabilitas yang setara untuk mendukung operasi penanggulangan bencana.
“Kalau kita punya pesawat C-130 sendiri, kenapa harus pinjam dari luar? Kita lihat keefektifan dari apa yang ditawarkan oleh mereka,” tuturnya menjelaskan pertimbangan teknis pemerintah.
Fokus pada Transfer Teknologi dan Peralatan Khusus
Dalam pemetaan kebutuhan, BNPB menilai Indonesia sejatinya memiliki keunggulan dari sisi kuantitas dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Personel gabungan di dalam negeri dinilai sangat siap dan mencukupi untuk mengawal operasi penanganan Karhutla di berbagai titik rawan.
Oleh karena itu, skema bantuan dari luar negeri akan lebih diarahkan pada pengadaan alat material khusus serta kemajuan teknologi penanggulangan bencana yang belum dimiliki oleh Indonesia. Evaluasi mendalam juga mencakup kalkulasi teknis, seperti kapasitas angkut pesawat dalam membawa bahan modifikasi cuaca berupa dry ice.
“Teknologi, alat, dan teknologi ya. Kalau manusia, SDM kita banyak,” tegas Kepala BNPB tersebut.
Kendati mengedepankan kemampuan nasional, pemerintah memastikan sikap terbuka terhadap kerja sama internasional demi mempercepat pemadaman Karhutla. Langkah cepat dan tepat sangat diperlukan agar masyarakat di wilayah terdampak tidak terlalu lama terpapar kabut asap dan penurunan kualitas udara.
“Kalau memang kita butuh dan kita tidak punya, why not? Tapi kalau kita punya, kenapa harus susah-susah minta,” kata Kristomei menegaskan komitmen pemerintah dalam penanganan bencana nasional ini.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post