Setiap kali melintas di depan Balai Kota Malang, mata kita dimanjakan oleh hamparan teratai merekah di dalam kolam melingkar, dikelilingi rindangnya pepohonan, serta sebuah tugu meruncing yang berdiri gagah di tengahnya. Alun-Alun Tugu—atau yang akrab disapa Alun-Alun Bundar—kini menjadi landmark paling ikonis sekaligus jantung administrasi Kota Malang.
Namun, lanskap anggun ini menyimpan kisah transformasi yang dramatis. Lahir dari ambisi kolonial yang diskriminatif, taman melingkar ini berdarah-darah mempertahankan keberadaannya hingga bertransformasi menjadi monumen pahlawan pembawa pesan kemerdekaan.
1. Masa Kolonial (1920–1945): Ambisi ‘JP Coen Plein’ dan Rencana Thomas Karsten
Sejarah Alun-Alun Tugu bermula setelah Malang ditetapkan sebagai kotapraja mandiri (Gemeente) pada tahun 1914. Pemerintah Hindia Belanda saat itu meluncurkan rencana tata ruang kota berskala besar yang dikenal sebagai Bouwplan II.
Dalam kacamata pemerintah kolonial, Alun-Alun lama (Alun-Alun Merdeka) dianggap terlalu “bernuansa pribumi” karena posisinya yang berhadapan dengan Masjid Jami’ dan pemukiman warga lokal. Untuk mengukuhkan gengsi kekuasaan Barat, dirancanglah sebuah alun-alun baru berkonsep modern bergaya Eropa.
-
Sentuhan Arsitek Thomas Karsten: Pada tahun 1920, penataan ruang kawasan ini diserahkan kepada ir. Thomas Karsten, arsitek ternama Belanda yang merancang alun-alun ini berbentuk lingkaran sempurna (Alun-Alun Bunder).
-
Nama Penghormatan Kolonial: Taman ini dinamai JP Coen Plein, mengabadikan nama Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang legendaris.
-
Desain Awal: Arsip foto udara era kolonial memperlihatkan bahwa pada mulanya taman ini sangat sederhana—hanya hamparan rumput melingkar tanpa tugu di tengahnya, tanpa kolam teratai, dan tanpa pagar pembatas. Taman ini menjadi poros utama yang menghubungkan Stasiun Kereta Api Malang, Balai Kota (Stadhuis), dan kawasan perumahan elit di barat kota.
2. Masa Perjuangan (1946–1953): Tugu Kemerdekaan yang Dihancurkan dan Bangkit Kembali
Pasca-proklamasi kemerdekaan Indonesia, fungsi dan identitas taman bergaya Eropa ini dirombak total oleh rakyat Malang. JP Coen Plein dinasionalisasi menjadi panggung simbol perlawanan terhadap penjajah.
-
Peletakan Batu Pertama oleh Bung Karno (1946): Tepat setahun setelah kemerdekaan pada 17 Agustus 1946, Presiden Soekarno hadir langsung di Malang untuk meletakkan batu pertama pembangunan Tugu Kemerdekaan di tengah Alun-Alun Bundar.
-
Dihancurkan Agresi Militer Belanda (1948): Saat meletus Agresi Militer Belanda I dan peristiwa Malang Bumi Hangus, pasukan Belanda yang berhasil menduduki kota dibuat gusar oleh tugu yang hampir rampung (95%). Pada 23 Desember 1948, tentara Belanda menghancurkan tugu tersebut hingga berantakan sebagai bentuk pelampiasan atas perlawanan sengit para pejuang Arek Malang.
-
Peresmian Kembali (1953): Setelah kedaulatan Indonesia diakui penuh, tugu ini dibangun kembali pada tahun 1952. Pada 20 Mei 1953 (bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional), Presiden Soekarno kembali meresmikan Tugu Kemerdekaan diiringi sorak-sorai ribuan warga Malang.
3. Pesan Rahasia di Balik Arsitektur Tugu Kemerdekaan
Tugu yang berdiri megah di atas kolam teratai saat ini bukan sekadar ornamen estetis kota, melainkan sebuah prasasti sejarah yang sarat makna simbolis:
-
Bambu Runcing (Puncak Tugu): Bentuk puncaknya yang meruncing menggambarkan bambu runcing, senjata bersahaja namun mematikan yang digunakan rakyat saat mengusir penjajah.
-
Rantai Baja: Melingkari bagian dasar tugu sebagai lambang persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang erat tak terpisahkan.
-
Sandi Tanggal Kemerdekaan (17-8-1945):
-
Tangga pelataran memiliki 4 dan 5 sudut (melambangkan tahun 1945).
-
Bentuk bintang memiliki 8 tingkatan (melambangkan bulan Agustus).
-
Pondasi tugu terdiri dari 17 fondasi berlapis (melambangkan tanggal 17).
-
-
Kolam Teratai Merah-Putih: Teratai yang mekar di sekeliling tugu mencerminkan kesucian dan keberanian, selaras dengan sang saka Merah Putih.
Sejak tahun 1970, siluet Tugu Kemerdekaan dan Alun-Alun Bundar secara resmi diserap menjadi bagian utama dari logo/lambang resmi Pemerintah Kota Malang. Perjalanan panjang dari JP Coen Plein menuju Alun-Alun Tugu membuktikan bagaimana sebuah ruang publik mampu melepas cengkeraman sejarah kolonial dan bertransformasi menjadi monumen kebanggaan warga.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.





Discussion about this post