Monumen Pendewasaan dan Nyala Api yang Tak Padam dari Jakarta Timur
Musik punk sering kali diidentikkan dengan agresi murni, distorsi tanpa kompromi, dan pemberontakan mentah di atas panggung subterranean. Namun, ketika sebuah kuintet jalanan telah mengarungi kancah selama lebih dari dua dekade, energi tersebut bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih berbobot: sebuah kebijaksanaan. Inilah yang ditawarkan oleh unit celtic/street punk veteran asal Jakarta Timur, TENHOLES, lewat magnum opus teranyar mereka yang diberi judul SATYA.
Dilepas ke pasaran melalui ranah digital dan fisik (CD) berkat kongsi strategis bersama label independen demajors, album berisikan delapan trek ini bukan sekadar rekaman audio biasa. SATYA hadir sebagai narasi reflektif tentang perkelahian panjang manusia melawan zaman. Ia merangkum fase pendewasaan seorang anak yang ditampar kerasnya realitas perkotaan, hingga akhirnya tumbuh menjadi dewasa, memikul tanggung jawab kelas pekerja, merawat keluarga, dan berdamai dengan rasa kehilangan.
Manifesto Perlawanan, Janji, dan Fondasi Emosional
Bagi TENHOLES, nama album ini menyimpan bobot filosofis yang amat mendalam. Vokalis sekaligus produser eksekutif, Ukien Skins, menegaskan bahwa manifestasi liris dalam karya ini berakar pada keteguhan sikap. “SATYA itu tentang janji, api yang kita jaga, dan perlawanan yang tidak pernah padam,” ungkapnya saat menjelaskan cikal bakal lahirnya album ini.
Perjalanan audio di dalam SATYA dibuka oleh “Sudut Kota”, sebuah trek pembuka yang memotret lanskap jalanan, solidaritas persahabatan, hingga alienasi di tengah megapolitan. Estafet kontemplasi berlanjut pada “Hai! Nak”, sebuah nomor sentimentil yang mengemas dialog antargenerasi antara sosok ayah dan anak—menuturkan warisan nilai, rekam jejak kesalahan, serta lentera harapan masa depan.
Sektor nomor unggulan ditempati oleh “Api Yang Pernah Kita Jaga”, sebuah karya kolaboratif yang ditulis Ukien bersama figur skena kawakan, Andyan Gorust dan Endry Poison. Lagu ini berlayar di arena kepasrahan yang elegan; berbicara tentang hubungan, cita-cita, dan sesuatu yang pernah diperjuangkan secara mati-matian namun pada akhirnya harus diikhlaskan. Sementara itu, nomor “Janji Lelaki” menyuntikkan dorongan adrenalin tentang pentingnya memegang komitmen di tengah pusaran ketakutan dan situasi yang serba tak menentu.
Dari Realita Kelas Pekerja Hingga Konklusi Katarsis
TENHOLES tidak pernah memutus rantai dengan akar rumputnya. Kehidupan kaum buruh dan kelas pekerja dipotret secara presisi lewat nomor penuh energi “Membakar Malam”. Tensi sosial kemudian memuncak pada lagu “Tiga”, sebuah manifesto keras yang menelanjangi ketidakadilan serta kekerasan sistemik yang kerap luput dari perhatian publik.
Sisi humanis dari album ini kian menguat lewat “Darah Daging”, sebuah lagu yang dipicu oleh naluri pelindung seorang ayah ketika menghadapi realitas kelam perundungan yang menimpa buah hatinya. Namun, kejutan musikal paling radikal justru disimpan di bagian penutup. Album ini diakhiri oleh “Semua Sodara (Piano Version)”—sebuah konklusi katarsis yang menanggalkan distorsi gitar, menggantinya dengan denting piano elegan dari Diva Azalia serta gesekan biola bernuansa magis milik Arend Stevanus Michiels.
Resiliensi Legenda Street Punk yang Menolak Padam
Dikerjakan sendiri secara mandiri oleh TENHOLES dari segi produksi, proses pengerjaan teknis mixing dan mastering album ini diserahkan kepada tangan dingin Gema di Plug Studio. Hasilnya adalah sebuah tatanan suara yang tetap mempertahankan karakter gahar jalanan namun memiliki kejernihan dinamis yang sangat terkonsep.
Lahir sejak tahun 2004, perjalanan musikal TENHOLES telah mengalami metamorfosis yang mengagumkan. Berawal dari gaya musik oi!/street punk yang lugas, mereka terus memperkaya lanskap musiknya menjadi celtic punk berkarakter dengan dentingan mandolin yang khas. Kehadiran SATYA sekaligus menjadi penanda penting kembalinya sang komplotan pasca-momen duka mendalam atas berpulangnya drummer mereka, Aco, pada akhir 2023 lalu.
Setelah sempat melempar sinyal kebangkitan lewat maxi-singel “Membakar Malam” dan “Tiga”, rilisnya SATYA membuktikan satu hal: TENHOLES berhasil mengubah trauma dan duka menjadi sebuah karya yang utuh, matang, dan sangat layak dirayakan oleh siapa pun yang masih merawat api perlawanan di dalam dadanya.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post