Kabar duka menyelimuti negeri jiran Malaysia. Tun Dr. Siti Hasmah binti Mohamad Ali, istri dari mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, menghembuskan napas terakhirnya di Institut Jantung Negara (IJN) pada usia 100 tahun, Senin (28/9/2026). Kepergian sosok berdedikasi tinggi ini menyisakan duka mendalam tidak hanya bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga bagi publik Malaysia yang mengenalnya sebagai pelopor medis dan figur sosial terkemuka.
Pionir Kedokteran dan Kesetaraan Gender di Malaysia
Siti Hasmah yang lahir pada 12 Juli 1926 dikenal bukan sekadar mendampingi kiprah politik sang suami. Ia memiliki jejak rekam panjang dan menorehkan tinta emas dalam sejarah dunia kesehatan serta gerakan perempuan di negaranya. Berdasarkan catatan sejarah, Siti Hasmah mengukir prestasi sebagai perempuan Melayu pertama yang berhasil diterima dan menempuh pendidikan kedokteran di King Edward VII College of Medicine, Singapura.
Karier medisnya terus melonjak seiring pengabdiannya kepada masyarakat. Pada tahun 1965, ia mencatatkan sejarah baru sebagai perempuan pertama yang ditunjuk sebagai petugas medis di Departemen Kesehatan Ibu dan Anak. Dedikasi tersebut membawanya pada amanah yang lebih besar pada tahun 1974, ketika ia diangkat menjadi Pejabat Kesehatan Ibu dan Anak di tingkat negara bagian, sebuah pencapaian langka bagi kaum hawa pada era tersebut.
Aktif Menyuarakan Isu Sosial dan Bahaya Narkoba
Selama mendampingi Mahathir Mohamad dan menjabat sebagai Presiden Klub Kesejahteraan Istri Menteri dan Wakil Menteri (BAKTI), Siti Hasmah gencar mengedukasi masyarakat luas, khususnya generasi muda, mengenai bahaya laten penyalahgunaan narkotika.
Kiprahnya di bidang penanggulangan narkoba diakui secara internasional. Atas undangan khusus dari Ibu Negara Amerika Serikat saat itu, Nancy Reagan, Siti Hasmah hadir dalam Konferensi Ibu Negara tentang Penyalahgunaan Narkoba di Washington pada tahun 1985. Tak berhenti di situ, ia juga ditunjuk mewakili Malaysia dalam Konferensi Internasional tentang Penyalahgunaan Narkoba dan Perdagangan Gelap yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Wina, Austria, pada tahun 1987.
Gandrung Olahraga hingga Penghargaan Kehormatan Tertinggi
Di luar aktivitas medis dan sosial, Siti Hasmah dikenal memiliki kecintaan yang tinggi terhadap dunia olahraga. Ia aktif bermain bulu tangkis secara kompetitif hingga menginjak usia 75 tahun. Berkat kepeduliannya terhadap pembinaan atlet, ia dipercaya mengemban jabatan sebagai pelindung Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia (BAM) serta Asosiasi Tenis Kursi Roda Malaysia.
Menikah dengan Mahathir Mohamad pada tahun 1956, Siti Hasmah menjadi istri perdana menteri Malaysia pertama yang dianugerahi penghargaan federal tertinggi, Seri Setia Mahkota Malaysia (SSM). Penghargaan bergengsi tersebut memberikannya gelar kehormatan “Tun”, sebuah bentuk pengakuan tertinggi atas pengabdian tanpa henti bagi bangsa dan negara.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post