Harga emas di pasar global berhasil menunjukkan ketahanannya di tengah gempuran kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS). Kendati tekanan jual cukup membayangi, komoditas logam mulia ini masih sanggup merayap naik dan bertengger di atas level krusial. Pada penutupan perdagangan akhir pekan, harga emas spot tercatat menguat 0,27% ke level US$ 4.285,37 per ons troi.
Ketahanan komoditas aman (safe haven) ini menjadi sorotan para pelaku pasar. Pasalnya, lonjakan yield surat utang AS biasanya menjadi penekan utama harga emas karena meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil. Pekan ini, mata para investor terpusat pada area pendukung (support) kritis di kisaran US$ 4.100 hingga US$ 4.000 per ons troi yang diproyeksikan bakal menjadi medan ujian krusial bagi daya tahan emas.
Ketahanan Harga di Tengah Sinyal Hawkish
Analis Strategi Senior StoneX, James Stanley, menilai performa komoditas ini cukup mengejutkan di tengah dinamika pasar keuangan global yang bergejolak. Menurutnya, lonjakan yield obligasi AS memang telah mengguncang berbagai instrumen investasi dalam sepekan terakhir. Namun, respons pasar terhadap emas relatif terkendali dan belum menunjukkan sinyal penurunan ekstrem.
“Kabar baiknya, harga emas belum jatuh lebih dalam dalam dua pekan terakhir,” ungkap Stanley dalam analisis pasar terbarunya. Ia menambahkan bahwa pergerakan emas sejauh ini masih mampu bertahan konsisten di atas titik terendah yang terbentuk pasca-pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).
Kondisi ini mencerminkan adanya aksi beli defensif yang menahan kejatuhan harga lebih lanjut. Fleksibilitas harga emas dalam mempertahankan posisinya dianggap sebagai indikasi bahwa kekuatan minat beli di tingkat bawah masih cukup solid untuk meredam tekanan makroekonomi.
Pola Perdagangan dan Uji Level Krusial
Membedah dinamika teknikalnya, Stanley membandingkan pola pergerakan saat ini dengan dinamika pasar pada Juni lalu. Kala itu, sentimen pasar sempat terguncang oleh pergerakan hawkish dari Kevin Warsh yang memicu koreksi sementara. Tekanan jual saat itu berhasil tertahan di kisaran US$ 4.000 per ons troi sebelum akhirnya arus modal masuk kembali membendung penurunan selama lebih dari satu bulan.
Emas sempat mencatatkan reli penguatan pada Agustus menyusul hasil pertemuan Bank Sentral AS (The Fed). Meski demikian, konsolidasi yang terjadi setelahnya menunjukkan bahwa dorongan naik mulai melambat, ditandai dengan aksi pembentukan puncak harga yang cenderung terus menurun (lower-highs) setiap kali terjadi rebound teknikal.
Berdasarkan grafik perdagangan mingguan, kehadiran ekor bawah (bottom shadow) mengonfirmasi bahwa para pembeli terus bersiap memanfaatkan momentum koreksi untuk melakukan akumulasi di level terendah. Namun, agresivitas aksi jual di area resistensi atas tetap menjadi tantangan utama. Uji ketahanan pada kisaran batas psikologis US$ 4.100 per ons troi pun diperkirakan akan menentukan arah pergerakan harga emas selanjutnya.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post