Perkuat Pertahanan dan Teknologi, Danantara Gandeng Raksasa Militer Prancis Thales
Lembaga pengelola investasi kedaulatan Indonesia, Danantara, resmi menjalin kolaborasi strategis dengan raksasa industri pertahanan asal Prancis, Thales Group. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang membuka peluang investasi besar di sektor kecerdasan buatan (AI) hingga modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) nasional.
Kesepakatan ini mencakup sejumlah sektor krusial, mulai dari pengembangan AI, sistem pertahanan, teknologi digital, hingga keamanan siber. Kedua belah pihak sepakat untuk menjajaki potensi investasi di bidang manufaktur teknologi pertahanan di Indonesia, sistem keamanan bandara, implementasi AI, pusat operasional keamanan siber, hingga teknologi pasca-kuantum (post-quantum technologies).
Meski demikian, manajemen Danantara menegaskan bahwa dokumen yang ditandatangani tersebut baru merupakan kerangka kerja awal. Realisasi investasi konkret nantinya akan bergantung pada hasil evaluasi mendalam, kepatuhan terhadap tata kelola yang berlaku, serta kesepakatan definitif di masa mendatang.
Mendorong Transfer Teknologi dan Lapangan Kerja Berkeahlian Tinggi
Direktur Utama Danantara, Ricardo Irwan Rei, mengungkapkan bahwa investasi di sektor-sektor teknologi tinggi ini memiliki nilai strategis yang sangat besar bagi Indonesia. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat proses transfer teknologi dari global ke domestik.
“Investasi di sektor ini akan mempercepat transfer teknologi, menciptakan lapangan kerja dengan keahlian tinggi, serta memperkuat kapabilitas industri lokal,” ujar Ricardo dalam keterangan resminya.
Senada dengan hal tersebut, Senior Vice-President Asia Thales Group, Guy Bonassi, menyambut baik kolaborasi ini. Ia menyatakan bahwa Thales merasa terhormat dapat bermitra dengan Danantara dalam proyek-proyek ambisius yang dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia.
Sinergi Strategis dengan BUMN Indonesia
Sebagai lembaga yang kini menaungi jajaran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia, Danantara memberikan sinyal kuat bahwa Thales akan dipasangkan dengan sejumlah perusahaan pelat merah yang relevan. Langkah ini dinilai sangat strategis mengingat rekam jejak Thales yang sudah sangat akrab dengan ekosistem BUMN tanah air.
Sebelumnya, BUMN telekomunikasi Telkom telah mengamankan kesepakatan dengan Thales untuk proyek keamanan digital dan konsep kota cerdas (smart city) yang ditargetkan berjalan pada tahun 2025. Di sektor pertahanan, pemerintah Indonesia juga telah mengakuisisi radar pengawas udara jarak jauh buatan Thales melalui kemitraan dengan BUMN elektronika pertahanan, PT Len Industri. Dua unit pertama radar taktis canggih tipe GM403 bahkan telah diterima Indonesia pada awal tahun ini sebagai bagian dari agenda besar modernisasi militer.
Eksistensi Thales di Indonesia sendiri telah berlangsung selama puluhan tahun. Perusahaan teknologi Prancis ini juga menjadi aktor penting di balik peluncuran Satelit Satria-1, infrastruktur ruang angkasa yang kini diandalkan untuk menghubungkan wilayah-wilayah terpencil di pelosok Nusantara dengan jaringan internet.
Potret Investasi Prancis di Indonesia
Kemitraan strategis antara Danantara dan Thales ini juga diproyeksikan akan memperkuat angka investasi langsung asing (FDI) asal Prancis di Indonesia. Berdasarkan data pemerintah, realisasi investasi langsung dari Prancis ke Indonesia tercatat mendekati angka 300 juta dolar AS pada paruh pertama tahun 2026.
Realisasi tersebut menempatkan Prancis di peringkat kelima dalam daftar negara investor asing terbesar di Indonesia untuk periode tersebut. Melalui kolaborasi teknologi tinggi dan pertahanan ini, posisi tawar Indonesia di kancah global diharapkan semakin solid, sekaligus mempercepat kemandirian industri pertahanan dalam negeri.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post