Harga batu bara global kembali merangkak naik pada penutupan perdagangan Kamis (24/9/2026). Lonjakan harga gas alam di pasar Eropa memaksa operator pembangkit listrik di Benua Biru beralih kembali ke emas hitam sebagai sumber energi yang lebih ekonomis. Peralihan ini memicu reli harga komoditas batu bara di dua bursa utama dunia, Newcastle dan Rotterdam.
Berdasarkan data perdagangan komoditas, harga batu bara Newcastle untuk kontrak September 2026 tercatat menguat US$ 0,3 ke posisi US$ 145 per ton. Tren positif ini berlanjut pada kontrak Oktober 2026 yang menanjak US$ 0,8 menjadi US$ 143,5 per ton, serta kontrak November 2026 yang menguat US$ 0,5 ke level US$ 145,5 per ton.
Penguatan selaras juga terjadi di bursa Eropa. Harga batu bara Rotterdam kontrak September 2026 naik US$ 0,65 menjadi US$ 137,9 per ton. Kenaikan lebih signifikan terlihat pada kontrak Oktober 2026 yang melesat US$ 1,25 ke posisi US$ 135,9 per ton, dan kontrak November 2026 yang terangkat US$ 1,05 menuju US$ 136,3 per ton.
Geopolitik Selat Hormuz dan Krisis Gas Eropa
Kenaikan harga batu bara dipicu oleh dinamika pasar energi Eropa yang terpukul lonjakan harga gas alam. Konflik geopolitik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat telah mengganggu jalur distribusi vital pasokan liquefied natural gas (LNG) melalui Selat Hormuz. Imbasnya, krisis pasokan mendadak melanda kawasan tersebut.
Kondisi ini mendorong harga gas acuan Eropa menembus level 80 Euro atau setara US$ 90,98 per megawatt-hour (MWh) pada September 2026. Angka tersebut mencatatkan rekor harga gas tertinggi di Eropa dalam tiga tahun terakhir.
Pembangkit Listrik Beralih ke Energi Ekonomis
Mahalnya harga gas menciptakan pergeseran peta keekonomian energi. Pembangkit listrik berbasis batu bara dan lignit di Eropa kini kembali mencatatkan marjin keuntungan yang lebih menarik dibandingkan pembangkit berbahan bakar gas. Situasi ini membalikkan tren beberapa tahun terakhir, di mana penggunaan batu bara sempat ditekan akibat harga gas yang lebih murah dan ramah lingkungan.
Proyeksi industri menunjukkan, guna mengimbangi defisit pasokan listrik akibat penurunan daya dari pembangkit gas, para operator energi di Eropa diperkirakan akan meningkatkan kapasitas produksi listrik berbasis batu bara hingga 25% dalam enam bulan ke depan. Pergeseran mendadak ini menjadi sinyal kuat bagi para pelaku industri tambang dan ekspotir komoditas global mengenai tingginya ketergantungan pasar Eropa terhadap bahan bakar fosil saat krisis energi melanda.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post