Kondisi Terkini Jemaah Haji Indonesia di Arab Saudi
Kementerian Kesehatan melalui Pusat Kesehatan Haji dan Umrah terus memantau intensif kondisi kesehatan jemaah asal Indonesia yang masih tertahan di Arab Saudi. Hingga akhir September 2026, tersisa dua jemaah haji Indonesia yang masih wajib menjalani perawatan medis secara intensif di fasilitas kesehatan setempat akibat gangguan kesehatan serius pasca-rangkaian ibadah haji.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Kesehatan Haji dan Umrah, dr. Dani Pramudya, mengonfirmasi bahwa kedua jemaah tersebut masing-masing berasal dari Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, dan Kabupaten Tangerang, Banten. Keduanya dirawat di dua lokasi berbeda, yakni di RS Khaybar General Hospital, Madinah dan Rumah Sakit dr. Samir Abbas, Jeddah.
Penurunan Signifikan Jumlah Jemaah Rawat Inap
Kemenkes mencatat adanya penurunan angka jemaah yang dirawat di Arab Saudi secara sangat signifikan. Pada masa awal setelah puncak operasional ibadah haji selesai, tercatat ada sekitar 60 jemaah haji Indonesia yang harus mendapati perawatan intensif di berbagai rumah sakit di Tanah Suci.
“Saat ini jumlah tersebut menyusut drastis menjadi sisa dua orang. Semoga dua jemaah haji yang masih dirawat di Arab Saudi segera kembali sehat dan dapat secepatnya berkumpul kembali dengan keluarga di Tanah Air,” ujar dr. Dani Pramudya.
Evaluasi Istitha’ah Kesehatan untuk Musim Haji Mendatang
Berdasarkan evaluasi medis, sebagian besar jemaah haji yang membutuhkan penanganan medis darurat di Arab Saudi menderita penyakit kronis dan degeneratif. Beberapa penyakit yang paling dominan ditemukan meliputi serangan jantung, stroke berat, hipertensi, diabetes melitus (kencing manis), hingga infeksi paru-paru.
Faktor beban aktivitas fisik yang sangat tinggi selama ritual ibadah, ditambah dengan perbedaan iklim dan cuaca ekstrim di Arab Saudi, menjadi pemicu utama menurunnya kondisi fisik jemaah, terutama bagi kelompok rentan atau lansia.
Menghadapi tantangan tersebut, pemerintah menegaskan bahwa aspek kesehatan akan makin diperketat sebagai fokus utama dalam persiapan penyelenggaraan haji 2027 mendatang. Ketentuan kelayakan fisik atau istitha’ah kesehatan bakal diperketat sejak awal pemeriksaan di dalam negeri.
“Dengan menjaga kesehatan sejak dini, jemaah ketika melakukan Medical Check-Up (MCU) dapat memiliki hasil yang bagus, sehingga kriteria istitha’ah kesehatan benar-benar terpenuhi sebelum keberangkatan,” pungkas Dani.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post