JAKARTA – Penanganan kasus kanker payudara di Indonesia masih menghadapi tantangan berat akibat rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengungkapkan bahwa sebagian besar pasien kanker payudara baru mendatangi fasilitas kesehatan saat penyakit sudah memasuki stadium lanjut, yang berdampak signifikan pada menurunnya tingkat kesembuhan.
Isu krusial ini mengemuka dalam ajang edukasi publik bertajuk “Every Story is Unique, Every Journey Matters” yang digelar dalam rangka memperingati Bulan Kesadaran Kanker Payudara di Jakarta. Forum ini menegaskan bahwa penanganan kanker tidak hanya berfokus pada tindakan medis operatif, tetapi memerlukan pendekatan multidisiplin yang terintegrasi guna mempertahankan kualitas hidup pasien.
Capaian Skrining Nasional Masih Jauh dari Target
Perwakilan Tim Kerja Penyakit Kanker Direktorat Penyakit Tidak Menular (PTM) Kemenkes RI, dr. Uswatun Hasanah, M.Epid, menjelaskan bahwa keterlambatan diagnosis menjadi kendala utama penanggulangan kanker payudara di tanah air. Terbatasnya sarana layanan serta minimnya edukasi publik membuat cakupan deteksi dini masih sangat jauh dari harapan.
Kemenkes sejatinya menetapkan target Rencana Aksi Nasional agar 60 persen kasus kanker payudara dapat ditemukan pada stadium awal. Namun, realisasinya menunjukkan angka yang prihatin. Pada tahun 2025, capaian skrining secara nasional hanya menyentuh 10 persen. Sementara hingga akhir September 2026, angka tersebut baru bergeser tipis ke kisaran 16,19 persen.
“Dengan penemuan kasus yang lebih awal, tingkat kesintasan atau kesembuhan pasien jauh lebih tinggi ketimbang mereka yang baru terdiagnosis pada stadium lanjut. Perempuan berusia 30 hingga 69 tahun sangat diimbau memanfaatkan program skrining gratis di Puskesmas. Jika ditemukan abnormalitas, pasien dapat segera dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut,” ujar dr. Uswatun.
Urgensi Diagnosis Akurat dan Terapi Personal
Menjawab tantangan tersebut, penyelenggara pelayanan medis khusus kanker menekankan pentingnya pendekatan medis secara komprehensif. Chief Executive Officer MRCCC Siloam Semanggi, Tries Nainggolan, serta Hospital Director dr. Adityawati Ganggaiswari, M.Biomed, MARS, sepakat bahwa kondisi tiap pasien bersifat unik sehingga memerlukan kolaborasi lintas spesialisasi.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik, Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM, menerangkan bahwa kanker payudara memiliki berbagai subtipe klinis, seperti Luminal A, Luminal B, HER2-positif, hingga triple negative. Penentuan subtipe dan stadium melalui prosedur biopsi mutlak dilakukan sebelum tindakan medis diambil.
“Biopsi adalah satu-satunya cara mendapatkan diagnosis pasti. Kanker itu diibaratkan seperti rayap; kita harus tahu jenisnya dan memeriksa seluruh area tubuh untuk memastikan penyeberannya. Jika tumor ditemukan pada ukuran di bawah 2 centimeter dan belum meluas, tindakan tidak selalu diawali dengan mastektomi, melainkan bisa melalui kemoterapi terlebih dahulu untuk mengecilkan ukuran massa,” papar Dr. Jeffry.
Inovasi Bedah Minim Invasif dan Pemulihan Berkelanjutan
Dari sudut pandang intervensi bedah, Spesialis Bedah Onkologi Dr. dr. Denni Joko Purwanto, Sp.B (K) Onk, menggarisbawahi bahwa operasi medis kini bertransformasi ke arah deeskalasi—yakni menekan skala trauma pembedahan melalui teknik minim invasif. Opsi seperti Breast Conserving Surgery (BCT) memungkinkan pengangkatan massa kanker tanpa harus membuang seluruh jaringan payudara.
Kolaborasi dengan tim bedah rekonstruksi dan plastik juga difasilitasi guna menjaga aspek estetika serta psikologis pasien. Kendati demikian, dr. Denni mengingatkan bahwa operasi saja tidak cukup karena sel kanker berpotensi melakukan invasi sistemik (metastasis).
Di sisi lain, proses pemulihan fungsi fisik memegang peranan yang tak kalah vital. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik Subspesialis Kardiorespirasi, dr. Anita Ratnawati, Sp.KFR (K), menjelaskan bahwa rehabilitasi medik sebaiknya dimulai bahkan sebelum prosedur pembedahan dilakukan. Program ini melatih tiga aspek utama: pernapasan (breathing), penguatan otot (strengthening), dan daya tahan tubuh (endurance).
“Rehabilitasi pascaoperasi dirancang secara khusus untuk mencegah komplikasi seperti kekakuan gerak bahu dan penumpukan cairan limfa (limfedema). Proses pemulihan ini harus berjalan berkesinambungan agar pasien dapat kembali mandiri,” ungkap dr. Anita.
Pesan Kesintasan: Harapan dan Deteksi Mandiri
Pentingnya deteksi dini dan pendampingan rehabilitasi dirasakan langsung oleh Flavia Sungkit, seorang penyintas kanker payudara yang terdiagnosis pada usia awal 30-an. Pengalaman rutin melakukan periksa ASI sendiri (SADARI) membantunya menemukan benjolan abnormal hingga berhasil terdiagnosis pada stadium 1.
Meski sempat mengalami guncangan emosional, latihan fisik yang terstruktur—mulai dari fisioterapi, renang, pilates, hingga latihan beban—mampu mengembalikan postur dan kebugaran tubuhnya secara bertahap hingga ia kembali produktif dan mampu beraktivitas luar ruang.
“Vonis kanker bukanlah akhir dari babak kehidupan. Harapan dan pola pikir positif adalah kunci utama dalam mengambil keputusan terapi. Mengasihi diri sendiri itu wajar, tetapi kita tidak boleh kehilangan harapan,” tutur Flavia.
Melalui momentum peringatan ini, seluruh pemangku kepentingan kesehatan kembali menyerukan agar kaum perempuan secara konsisten melakukan metode SADARI setiap bulan serta tidak ragu mengakses sarana diagnostik modern seperti USG, mammografi, maupun MRI demi memutus rantai keterlambatan penanganan kanker di Indonesia.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post