Langkah mengejutkan diambil oleh platform media sosial Bluesky. Jaringan terdesentralisasi yang belakangan populer ini resmi memblokir akses ke situs web organisasi nirlaba transparansi, DDoSecrets, menyusul insiden peretasan dan kebocoran data skala besar yang menimpa Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat (DHS).
Setiap tautan yang mengarah ke basis data kebocoran milik DDoSecrets mendadak ditandai sebagai situs berbahaya (malicious) oleh sistem moderasi Bluesky. Kebijakan ini memicu gelombang kritik dari komunitas peneliti independen dan penggiat kebebasan informasi yang menilai platform tersebut terburu-buru melakukan pembatasan tanpa mengkaji substansi data yang dipublikasikan.
Kebocoran Data Agen Federal dan Reaksi Platform
Insiden ini bermula saat peretas berhasil membobol sistem otentikasi masuk milik DHS dan menggaet lebih dari 40.000 rekaman akun pengguna. Data yang bocor mencakup informasi kontak profesional—seperti nama lengkap, nomor telepon dinas, dan alamat surel kerja—milik para agen yang bertugas di lembaga krusial, termasuk Layanan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) serta Penjaga Perbatasan (CBP).
DDoSecrets kemudian mempublikasikan himpunan data tersebut demi kepentingan publik. Namun, pihak Bluesky memutuskan untuk memblokir tautan yang mengarah ke situs tersebut. Juru bicara Bluesky mengklaim bahwa pemaparan data tersebut melanggar panduan komunitas mereka, sehingga sistem memilih untuk memblokir tautan alih-alih menghapus unggahan pengguna secara manual.
Kebijakan tersebut memicu bantahan keras dari Co-founder DDoSecrets sekaligus jurnalis, Emma Best. Ia menegaskan bahwa data yang diunggah sama sekali tidak memuat informasi pribadi yang sensitif seperti alamat rumah atau kontak personal.
“Data ini murni berisi informasi kontak profesional pegawai pemerintah di tengah tingginya urgensi keterbukaan informasi publik. Pemerintah sendiri mensyaratkan informasi ini untuk pengajuan permohonan kebebasan informasi (FOIA). Dengan kata lain, pemerintah membuat data ini menjadi elemen kunci dalam saluran transparansi yang seharusnya diakses masyarakat,” ujar Best.
Intervensi Pemerintah dan Intervensi Registrar Domain
Eskalasi masalah ini tidak berhenti pada pemblokiran di media sosial. Sebuah situs pencarian independen bernama Icepick—yang dibuat oleh peretas dan jurnalis maia arson crimew untuk mempermudah navigasi data tersebut—mendadak tidak dapat diakses setelah domainnya ditangguhkan.
Pemeriksaan pada catatan domain menunjukkan status serverHold, yang mengindikasikan bahwa registrar telah membekukan alamat web tersebut. Langkah represif ini diketahui terjadi setelah DHS melayangkan surat permohonan penurunan konten (takedown notice) melalui vendor keamanan siber pihak ketiga, ZeroFox.
Dalam salinan dokumen permohonan tersebut, pihak ZeroFox yang bertindak atas nama otoritas federal meminta registrar domain untuk menyetop penyebaran data kontak personil yang dipublikasikan tanpa izin. Meski situs pencarian berbasis web berhasil dilumpuhkan, pihak pengembang telah mengantisipasinya dengan merilis versi basis data lokal yang dapat diunduh dan dijalankan secara mandiri di komputer pengguna.
Langkah penyensoran sistemik ini menandai babak baru ketegangan antara otoritas keamanan negara, platform media sosial, dan aktivis keterbukaan data di era digital. Kasus ini sekaligus menjadi ujian krusial bagi komitmen Bluesky sebagai platform yang selama ini mengagungkan prinsip keterbukaan dan kebebasan berekspresi.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post