Memasuki usia ke-94 tahun, manufaktur hasil tembakau PT Nojorono Tobacco International (Nojorono Kudus) menegaskan komitmennya untuk merawat legacy atau warisan korporasi agar tetap adaptif dan relevan dengan dinamika zaman. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pengumuman pemenang kompetisi fotografi nasional bertajuk “Berkarya Lewat Lensa”, yang berhasil menjaring lebih dari 1.700 karya visual dari kalangan jurnalis dan masyarakat umum di seluruh Indonesia.
Kompetisi yang berlangsung sejak Agustus hingga Oktober tersebut mengusung subtema “Mawa Daya: Merajut Karsa Selaras dengan Waktu”. Melalui ajang ini, para peserta diajak untuk menerjemahkan rekam jejak, nilai sejarah, serta adaptabilitas Nojorono Kudus dalam perspektif bingkai fotografi yang autentik dan bermakna.
Kurasi Ketat dari Pewarta Foto Profesional
Rangkaian proses kurasi dan penilaian karya dilakukan secara independen dan ketat oleh tim dewan juri profesional. Kurasi tersebut melibatkan Eva Agriana Ali sebagai perwakilan dari Pewarta Foto Indonesia (PFI) serta Agus Susanto yang merupakan pewarta foto senior Harian Kompas. Parameter penilaian difokuskan pada orisinalitas gagasan, kekuatan narasi visual, eksekusi teknis, serta kesesuaian karya terhadap tema utama.
Dari ribuan foto yang masuk, dewan juri akhirnya menetapkan 12 karya terbaik. Porsi pemenang dibagi secara seimbang, yakni enam pemenang dari kategori wartawan foto dan enam pemenang dari kategori masyarakat umum.
Corporate Communication Head PT Nojorono Tobacco International, Eliza Susanto, menyampaikan apresiasi mendalam atas tingginya antusiasme masyarakat dan insan pers. Menurutnya, seluruh karya yang diterima tidak sekadar merekam momen visual, melainkan juga menghadirkan perspektif publik dalam memandang perjalanan panjang Nojorono Kudus.
“Selamat kepada para pemenang Berkarya Lewat Lensa dan terima kasih kepada seluruh peserta. Beragam karya yang kami terima menunjukkan bahwa sebuah perjalanan korporasi dapat dimaknai dengan banyak cara. Inilah makna sesungguhnya dari menjaga warisan agar tetap selaras dengan waktu—ketika nilai-nilai luhur yang diwariskan tetap hidup, relevan, dan tumbuh adaptif bersama generasi masa kini,” ujar Eliza dalam keterangannya.
Kekuatan Narasi Visual dan Nilai Historis
Sementara itu, Ketua Umum PFI, Dwi Pambudo, menyoroti peran strategis fotografi sebagai media komunikasi publik yang ampuh. Menurutnya, medium fotografi mampu menyederhanakan narasi sejarah yang kompleks menjadi visual yang komunikatif sekaligus menggugah keterhubungan emosional.
Dwi menilai, karya-karya yang terpilih dalam kompetisi ini sukses merefleksikan bahwa semangat merawat nilai tradisi di tengah arus modernisasi bukan hanya konsumsi korporasi, melainkan juga cerminan realitas kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Matriks penilaian karya para pemenang menunjukkan kekuatan narasi visual yang sangat selaras dengan tema. Selain bobot pesan, kematangan teknis fotografi juga menjadi pertimbangan mendasar para juri. Peserta berhasil membuktikan bahwa merawat warisan dan menyesuaikannya dengan kebutuhan zaman dapat direkam secara indah dan profesional,” pungkas Dwi.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post