JAKARTA — Pemerintah Republik Jerman bersama lembaga pertukaran akademis German Academic Exchange Service (DAAD) mempertegas komitmennya untuk memperdalam kolaborasi strategis di bidang pendidikan tinggi dan penelitian bersama Indonesia. Kemitraan ini ditujukan untuk mencetak talenta-talenta unggul serta menjawab berbagai tantangan global masa depan.
Komitmen tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Oliver Michael Sperling, dan Presiden DAAD, Joybrato Mukherjee, dalam konferensi pers bersama yang digelar di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Sperling menegaskan bahwa kemitraan akademik yang telah dibangun di atas pemahaman bersama merupakan fondasi penting dalam hubungan bilateral kedua negara. Investasi berkelanjutan pada sektor pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) dinilai menjadi kunci utama bagi masa depan kerja sama Indonesia dan Jerman.
Jejak Historis dan Kontribusi Talenta Indonesia
Rekam jejak kualitas pendidikan tinggi Jerman terbukti turut membentuk sosok-sosoh penting yang memberikan kontribusi besar bagi Indonesia. Salah satu figur fenomenal adalah Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie, yang mengenyam pendidikan di Jerman hingga menjadi perintis industri kedirgantaraan nasional. Selain itu, terdapat nama Otto Toto Sugiri, sosok perintis industri data center di Tanah Air.
“Hal ini menunjukkan bahwa kerja sama akademik bukan sekadar tentang mobilitas fisik, melainkan tentang membangun kapasitas, menciptakan peluang, dan menghubungkan individu-individu yang dapat membawa perubahan positif bagi masyarakatnya,” ujar Sperling.
Bagi para mahasiswa dan peneliti asal Indonesia, Jerman terus menjadi salah satu destinasi utama studi luar negeri. Daya tarik tersebut didukung oleh reputasi kualitas akademik berstandar global serta iklim riset yang independen dan terbuka.
Peluang Studi Bebas Biaya Kuliah dan Ribuan Program Magister
Presiden DAAD, Joybrato Mukherjee, mengungkapkan bahwa Jerman saat ini menampung lebih dari 426.000 mahasiswa internasional dan calon doktor dari berbagai belahan dunia. Dari jumlah tersebut, lebih dari 5.000 di antaranya merupakan mahasiswa yang berasal dari Indonesia.
Melihat besarnya potensi tersebut, Mukherjee mendorong generasi muda Indonesia untuk terus mengambil peluang studi dan melakukan riset ilmiah di Jerman. Jerman menawarkan ekosistem pendidikan tinggi yang sangat beragam, mencakup universitas riset, universitas ilmu terapan (applied sciences), hingga akademi seni dan musik.
“Kami menyediakan beragam opsi pendidikan, termasuk hampir 2.000 program magister yang diajarkan sepenuhnya dalam bahasa Inggris,” ungkap Mukherjee.
Keunggulan utama lain dari sistem pendidikan di Jerman adalah sebagian besar universitas publik tidak membebankan biaya kuliah umum (tuition-free) kepada mahasiswa, termasuk mahasiswa asing, karena telah ditanggung oleh anggaran pemerintah setempat. Selain akses kuliah gratis, DAAD juga menyediakan beragam skema beasiswa untuk mendukung biaya hidup mahasiswa selama menempuh studi.
Penguatan Riset Bersama dan Pendanaan Kolaboratif
Hubungan diplomasi akademik antara Jerman dan Indonesia telah berlangsung secara konsisten selama lebih dari tujuh dekade, yang ditandai dengan hadirnya kantor perwakilan resmi DAAD di Jakarta sejak 1990. Hingga saat ini, tercatat ada sekitar 190 kemitraan aktif yang menghubungkan perguruan tinggi di Jerman dengan hampir 70 kampus di Indonesia.
Pada 2025, DAAD tercatat memberikan dukungan mobilitas akademik kepada lebih dari 600 warga negara Indonesia yang menempuh studi dan penelitian di Jerman. Sebaliknya, lembaga ini juga memfasilitasi hampir 250 mahasiswa dan peneliti asal Jerman yang melakukan kegiatan akademik di Indonesia.
Menghadapi tantangan masa depan, fokus kolaborasi kedua negara diarahkan pada riset strategis yang menyentuh isu-isu global krusial. Beberapa bidang fokus utama meliputi mitigasi perubahan iklim, pelestarian keanekaragaman hayati, pembangunan berkelanjutan, serta akselerasi digitalisasi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Guna memperkuat implementasi program tersebut, saat ini sedang disiapkan skema pendanaan bersama (co-financing) serta pembentukan kelompok kerja bersama (joint working group) yang melibatkan kementerian terkait di Indonesia dan pihak DAAD.
Mukherjee optimistis bahwa fondasi terkuat dari hubungan kerja sama bilateral ini terletak pada jalinan hubungan antarmanusia (people-to-people contact) yang berkelanjutan dan saling menguntungkan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post