Saham emiten manufaktur rokok raksasa, PT Gudang Garam Tbk (GGRM), berhasil menunjukkan resiliensi tinggi dengan terus diburu investor asing di tengah gejolak Pasar Modal Indonesia. Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tertekan akibat isu reklasifikasi pasar oleh MSCI, saham GGRM justru mencatatkan aksi beli bersih (net buy) secara konsisten dari pemodal mancanegara sepanjang periode 15 hingga 23 Oktober 2026.
Bahkan saat IHSG melorot tajam 11,57% pada 16 Oktober 2026 lalu—yang turut menyeret harga GGRM terkoreksi 12,07%—investor asing tetap memanfaatkan momentum tersebut untuk mengoleksi saham perseroan dengan nilai akumulasi mencapai Rp 24,37 miliar. Tren positif ini terus berlanjut hingga pekan berikutnya (19–23 Oktober 2026), di mana harga saham GGRM mampu berbalik arah (rebound) sebesar 10,78% ke level Rp 16.950 per saham, disokong akumulasi net buy asing tambahan senilai Rp 17,54 miliar.
Efisiensi Cukai dan Beban Usaha Kerek Laba Bersih 2.440%
Aksi borong pemodal asing terhadap pergerakan saham GGRM sejalan dengan pemulihan kinerja keuangan perseroan yang sangat signifikan sepanjang semester I-2026. Berdasarkan analisis riset pasar, Gudang Garam membukukan peningkatan laba kotor sebesar 58% menjadi Rp 5,99 triliun. Pencapaian ini utamanya didorong oleh efisiensi pada beban pendapatan yang berhasil ditekan hingga 13% menjadi Rp 35,19 triliun.
Penurunan beban produksi tersebut didominasi oleh pangkasan biaya pita cukai, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan pajak rokok yang mengalami penurunan hingga 14%. Penghematan biaya operasional ini efektif menopang ekspansi margin keuntungan di tengah tantangan penurunan pendapatan secara umum.
Di level operasional, laba usaha GGRM melonjak drastis hingga 659,6% menjadi Rp 3,9 triliun per Juni 2026. Lonjakan tersebut ditopang oleh keberhasilan manajemen menekan beban usaha sebesar 33,9% serta adanya peningkatan pendapatan lain-lain sebesar 28,5%. Efisiensi berantai ini berujung pada lonjakan laba bersih perseroan yang melonjak hingga 2.440% menjadi Rp 2,98 triliun pada paruh pertama tahun ini.
Normalisasi Kinerja Kuartalan dan Tantangan Industri
Meski mencatatkan lonjakan kinerja secara kumulatif pada semester pertama, hasil kinerja kuartalan menunjukkan bahwa pertumbuhan profitabilitas GGRM mulai memasuki fase normalisasi. Pada kuartal II-2026, laba bersih perseroan tercatat turun tipis 6,5% jika dibandingkan dengan capaian kuartal I-2026 yang berada di angka Rp 1,54 triliun.
Dari sisi operasional volume penjualan, GGRM mendistribusikan total 20,5 miliar batang rokok sepanjang semester I-2026, atau mengalami penurunan sebesar 13,6% secara tahunan. Segmen Sigaret Kretek Mesin High Tar (SKM HT) masih menjadi tulang punggung utama dengan porsi 85,2% atau setara 17,4 miliar batang. Sementara itu, segmen Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Kretek Linting (SKL) menyumbang 3 miliar batang, diikuti segmen SKM Low Tar (LT) sebanyak 0,09 miliar batang. Kontraksi volume penjualan ini berimbas pada penurunan total pendapatan penjualan sebesar 7,2%.
Rekomendasi Saham dan Prospek Bisnis
Melihat kombinasi efisiensi internal yang solid serta valuasi saham yang masih atraktif, konsensus analis dari Phintraco Sekuritas menyematkan rekomendasi buy untuk saham GGRM dengan target harga wajar di level Rp 22.000 per saham.
Kendati demikian, para pelaku pasar dan investor perlu mengantisipasi sejumlah risiko sektoral yang masih membayangi industri rokok nasional. Risiko utama tersebut mencakup maraknya peredaran produk rokok ilegal di pasaran, tren pelemahan daya beli masyarakat konsumen kelas menengah-bawah, serta ketidakpastian arah kebijakan kenaikan tarif cukai hasil tembakau oleh pemerintah di masa mendatang.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post