MALANG TODAY – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Jumat pagi. Mata uang Garuda terdepresiasi 14 poin atau 0,08 persen ke level Rp18.074 per dolar AS, bergerak turun dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp18.060 per dolar AS.
Pelemahan nilai tukar rupiah ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia akibat meningkatnya eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Eskalasi Konflik Timur Tengah Dongkrak Harga Minyak
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa pergerakan negatif rupiah sangat dipengaruhi oleh kenaikan tajam harga minyak global. Lonjakan harga komoditas energi tersebut terjadi usai kelompok Houthi (Ansarullah Yaman) mengumumkan rencana serangan terhadap sejumlah infrastruktur minyak vital milik Arab Saudi, termasuk di wilayah Yanbu dan Bandara Dammam.
Kondisi pasar kian memanas setelah serangan pesawat nirawak (drone) menerjang ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco. Insiden yang menewaskan dua orang tersebut langsung memicu kekhawatiran global atas berlanjutnya gangguan pasokan energi dunia.
Dampaknya, harga minyak mentah tolok ukur internasional Brent melonjak 2,4 persen ke level 111,40 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), ikut terkatrol 2,22 persen hingga menyentuh level 99,30 dolar AS per barel.
Ketegangan kian memuncak setelah Pemerintah Amerika Serikat memerintahkan penarikan sebagian personel diplomatik beserta keluarga mereka dari Arab Saudi. Langkah antisipasi ini diambil menyusul laporan empat gelombang serangan rudal dan drone Houthi dalam 48 jam terakhir yang menyasar Kementerian Pertahanan di Riyadh, Bandara Dammam, Bandara Abha, serta fasilitas minyak Aramco di Yanbu hingga memicu kebakaran dan gangguan lalu lintas udara.
Dampak Konflik pada Pasar Obligasi Indonesia
Gejolak geopolitik global turut membayangi pergerakan pasar surat berharga negara. Pasar obligasi pemerintah Indonesia mencatatkan pergerakan yang bervariasi. Imbal hasil (yield) obligasi acuan tenor 5 tahun naik ke level 7,25 persen dan tenor 20 tahun naik menjadi 7,41 persen. Sebaliknya, yield tenor 10 tahun dan 15 tahun justru melandai masing-masing ke level 7,42 persen dan 7,38 persen.
Di sisi lain, ketidakpastian pasar mendorong penurunan volume perdagangan obligasi pemerintah dari Rp24,39 triliun pada sesi sebelumnya menjadi Rp18,28 triliun. Terjadi pula aksi pelepasan aset oleh investor asing, di mana kepemilikan asing pada obligasi pemerintah Indonesia terhitung berkurang sebesar Rp3,66 triliun menjadi Rp914 triliun, atau tersisa 13,02 persen dari total obligasi yang beredar.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post