GOTO Pertahankan Tren Profitabilitas Tiga Kuartal Beruntun, Target Harga Saham Direvisi
Kinerja keuangan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terus menunjukkan pemulihan signifikan dengan mencetak laba bersih selama tiga kuartal berturut-turut hingga sembilan bulan pertama tahun 2026. Kendati demikian, dinamisnya kondisi makroekonomi, tingginya suku bunga, serta tekanan regulasi di sektor transportasi mendorong lembaga sekuritas melakukan penyesuaian terhadap target harga saham emiten teknologi terbesar di Indonesia ini.
Berdasarkan riset terbaru KB Valbury Sekuritas, laba bersih GOTO pada kuartal III-2026 melesat 46,8% secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq) menjadi Rp 557 miliar. Capaian positif ini mengerek akumulasi laba bersih perseroan sepanjang sembilan bulan berjalan tahun 2026 mencapai Rp 1,1 triliun. Angka tersebut mencerminkan perbaikan kinerja mendasar bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu, di mana perseroan masih mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 775,6 miliar.
Fintech Jadi Tulang Punggung Utama, Kualitas Aset Perlu Diwaspadai
Sektor teknologi finansial (financial technology/fintech) kembali mengukuhkan posisinya sebagai penopang utama profitabilitas ekosistem GOTO. Segmen ini tercatat memberikan kontribusi hingga 49% terhadap total EBITDA yang disesuaikan (adjusted EBITDA) konsolidasi perseroan.
Meski kinerja monetisasi sektor keuangan menunjukkan hasil positif, analis pasar modal memberikan catatan khusus terkait profil risiko portofolio pembiayaan. Analis KB Valbury Sekuritas, Atikah Tri Adriyanti, menggarisbawahi adanya kenaikan rasio pinjaman yang melewati jatuh tempo pada bisnis fintech GOTO. Tingkat pinjaman bermasalah tersebut meningkat menjadi 8,9% pada periode sembilan bulan 2026, naik dari posisi 7,7% pada periode yang sama di tahun 2025.
Regulasi Komisi Tekan Sektor Transportasi Daring
Tantangan operasional juga membayangi segmen layanan berdasarkan permintaan (on-demand services/ODS). Sektor transportasi daring terkena dampak langsung dari kebijakan penyesuaian batas maksimum komisi sebesar 8% untuk layanan ojek daring yang resmi berlaku sejak 1 Juli 2026.
Dampak regulasi tersebut tecermin pada EBITDA disesuaikan segmen mobilitas yang terkoreksi 45,2% secara kuartalan menjadi Rp 159 miliar. Di sisi lain, bisnis pengantaran makanan dan barang masih mencatatkan kinerja solid dengan pertumbuhan EBITDA disesuaikan sebesar 20,1% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 227 miliar.
Namun, kenaikan pada lini pengantaran tersebut belum memadai untuk mengimbangi penurunan pada bisnis mobilitas. Secara komparatif, total EBITDA disesuaikan untuk seluruh segmen ODS GOTO mengalami penurunan 25,2% secara kuartalan menjadi Rp 347 miliar.
Kombinasi antara profitabilitas yang membaik dan tantangan sektoral ini menjadi pijakan bagi para analis dalam merumuskan penyesuaian valuasi dan target harga saham GOTO di bursa, guna memberikan panduan yang lebih objektif bagi para investor pasar modal.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post