Modus Impersonasi Domain Pemerintah, Raksasa Fintech Revolut Kebobolan Data Sensitif Nasabah
Di tengah kepak sayap ekspansi globalnya yang kian agresif, raksasa financial technology (fintech) asal London, Revolut, terperosok dalam insiden keamanan siber yang krusial. Perusahaan neobank terkemuka tersebut mengonfirmasi terjadinya kebocoran data sensitif nasabah setelah jatuh ke dalam perangkap aksi penipuan canggih yang memanfaatkan domain surel resmi milik instansi pemerintah.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi industri teknologi finansial global. Peretas tidak menjebol benteng pertahanan utama sistem pertukaran data secara langsung, melainkan mengeksploitasi celah rekayasa sosial (social engineering) berkedok permintaan data resmi dari otoritas penegak hukum—sebuah strategi yang kian mematikan di era kejahatan siber modern.
Data KYC hingga Riwayat Transaksi Ikut Terkompromi
Berdasarkan pemberitahuan tertulis yang dikirimkan kepada para pengguna terdampak, jenis informasi yang berhasil digondol pihak ketiga tanpa otoritas tersebut sangat riskan. Data yang terkespos mencakup identitas pribadi lengkap seperti nama, tanggal lahir, alamat domisili, alamat surel, dan nomor telepon. Lebih jauh lagi, salinan dokumen identitas resmi seperti paspor dan Surat Izin Mengemudi (SIM) turut bocor.
Tak berhenti di situ, Revolut mengakui bahwa insiden ini berpotensi menyasar berkas verifikasi identitas (KYC selfies), laporan rekening koran, hingga riwayat transaksi nasabah. Peneliti keamanan kripto terkemuka, ZachXBT, mengungkapkan bahwa insiden ini tampaknya dirancang secara khusus untuk mengincar profil pengguna beraset tinggi (high-net-worth individuals).
Pihak Revolut mengklaim jumlah nasabah yang terdampak tergolong “terbatas” dan telah dihubungi secara langsung. Namun, manajemen Revolut enggan membeberkan angka pasti nasabah yang menjadi korban, wilayah hukum yang terdampak, maupun instansi pemerintah mana yang domain surelnya dicatut oleh peretas.
Respons Cepat dan Klaim Keamanan Dana
Dalam keterangannya, Revolut menegaskan telah mengambil langkah mitigasi tak lama setelah menyadari adanya aktivitas mencurigakan tersebut. Perusahaan langsung memblokir alamat surel pemohon palsu dan melaporkan insiden ini kepada instansi pemerintah terkait, lembaga penegak hukum, serta badan regulator setempat.
“Sistem utama Revolut dan dana seluruh nasabah dipastikan berada dalam kondisi aman serta tidak terpengaruh oleh insiden ini,” tegas perwakilan Revolut.
Ujian Berat di Tengah Ambisi IPO Valuasi US$200 Miliar
Kebocoran data ini menghantam Revolut pada momen yang sangat krusial. Perusahaan yang kini mengantongi lebih dari 80 juta pengguna secara global dan beroperasi sebagai bank di lebih dari 30 negara tersebut tengah gencar melakukan ekspansi internasional, termasuk penetrasi pasar di India, Meksiko, Prancis, hingga Uni Emirat Arab (UEA).
Bahkan, Revolut baru saja mengantongi izin bersyarat dari Kantor Pengawas Mata Uang Amerika Serikat (OCC) untuk mendirikan bank nasional di AS yang ditargetkan beroperasi penuh pada paruh pertama 2027, melengkapi lisensi perbankan yang telah mereka amankan di Inggris dan Prancis.
Di sisi lain, insiden ini menjadi ujian kepercayaan yang cukup berat ketika Revolut dilaporkan sedang mempertimbangkan penawaran umum perdana (IPO). Calon emiten neobank ini menargetkan valuasi fantastis hingga US$200 miliar, melonjak signifikan dari valuasi pasar swasta sebesar US$75 miliar pada akhir tahun lalu. Kebocoran data akibat celah impersonation scam ini tentu menjadi catatan merah yang menuntut penguatan benteng tata kelola risiko siber sebelum Revolut benar-benar melantai di bursa saham dunia.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post