Di tengah kecemasan global mengenai potensi pecahnya gelembung (bubble) investasi kecerdasan buatan (AI), Nvidia justru mengirimkan sinyal optimisme yang sangat kuat. Pendiri sekaligus CEO Nvidia, Jensen Huang, menegaskan bahwa dominasi mutlak dan rekor pendapatan raksasa teknologi ini tidak hanya akan bertahan, melainkan bakal terus melesat hingga akhir tahun depan. Dalam panggung konferensi teknologi bergengsi yang digelar oleh Goldman Sachs di New York, Huang membongkar peta jalan bagaimana Nvidia mengunci posisinya sebagai motor utama revolusi AI global.
Bukan Lagi Kartu Grafis: Evolusi GPU Senilai USD 8,5 Juta
Banyak analis dan pelaku pasar meragukan keberlanjutan pesta pora Nvidia. Mereka menunjuk pada meningkatnya persaingan dari segala arah: para raksasa penyedia layanan cloud (hyperscalers) seperti Amazon, Microsoft, dan Google yang mulai merancang chip AI mereka sendiri, hingga laboratorium AI papan atas seperti OpenAI dan Anthropic yang menempuh jalur serupa. Belum lagi ancaman dari kompetitor baru seperti Cerebras dan startup semikonduktor Etched.
Namun, Huang menepis kekhawatiran tersebut dengan meluruskan persepsi usang tentang produk Nvidia. “Banyak orang mengira Nvidia hanya membuat chip. Padahal, Anda membutuhkan pesawat terbang untuk mengirimkan apa yang kami bangun,” ujar Huang. Ia menekankan bahwa Nvidia telah berevolusi jauh dari masa-masa awalnya sebagai pencipta GPU untuk PC gaming kelas konsumen.
“Satu unit GPU kami sekarang bukan lagi seharga USD 399 (sekitar Rp6 juta). Harganya kini mencapai USD 8,5 juta (sekitar Rp130 miliar). Itu adalah satu kesatuan sistem GPU raksasa yang terhubung dengan teknologi NVLink, terdiri dari 2 juta komponen, dan membutuhkan daya 250.000 kilowatt. Itulah definisi GPU modern kami, dan kami mengirimkannya dalam jumlah ribuan unit,” tegas Huang. Salah satu sistem komputer tercanggih mereka, yang menggabungkan 36 CPU Grace dengan 72 GPU Blackwell (GB200 NVL72), saat ini mencatat pertumbuhan penjualan bulanan (month-to-month) sebesar 27 persen.
Proyeksi Pertumbuhan 70 Persen: Menuju Valuasi Fantastis
Optimisme Huang tidak berhenti pada angka penjualan saat ini. Ia kembali menegaskan proyeksi pendapatan Nvidia untuk tahun depan—sebuah panduan yang sempat ia sampaikan saat laporan keuangan kuartal lalu. Huang meyakini pendapatan Nvidia mampu tumbuh hingga 70 persen secara tahunan (year-over-year) pada tahun depan.
Jika prediksi para analis Wall Street tepat bahwa Nvidia akan menutup tahun fiskal ini dengan pendapatan sekitar USD 400 miliar, maka pertumbuhan 70 persen akan melontarkan pendapatan Nvidia ke angka fantastis mendekati USD 680 miliar (setara Rp10.400 triliun) pada tahun depan. Angka ini mempertegas posisi Nvidia sebagai salah satu perusahaan paling bernilai di bumi.
Keyakinan ini didasarkan pada fakta bahwa Nvidia telah menjadi infrastruktur dasar yang tidak tergantikan. “Nvidia menjalankan setiap model AI yang ada. Setiap laboratorium AI menggunakan infrastruktur kami,” kata Huang. Ia merujuk pada model-model AI milik Anthropic, OpenAI, Google, hingga model sumber terbuka (open-weight) lainnya. “Kami adalah platform fondasi dari ekosistem dan industri AI global.”
Gurita Bisnis Nvidia: Memantau Setiap Gigawatt di Bumi
Kekuatan Nvidia terletak pada integrasi vertikalnya yang sangat dalam. Jangkauan bisnis mereka merentang dari pemasok komponen memori mikro, proyek pusat data (data center), hingga pendanaan startup AI. Huang mengungkapkan bahwa perusahaannya memiliki visibilitas yang luar biasa terhadap lanskap infrastruktur global.
“Kami melacak setiap gigawatt lahan, daya listrik, hingga struktur bangunan pusat data (shell) di seluruh dunia. Secara harfiah, semua hal di planet ini,” ungkap Huang. Informasi ini didapatkan dari jaringan kemitraan yang sangat luas.
“Pikirkan tentang semua mitra kami. Berapa banyak penyedia layanan cloud baru (neoclouds), produsen peralatan asli (OEM), raksasa cloud, hingga perusahaan murni AI (AI-native) yang memberikan laporan balik kepada kami? Kami bekerja dengan semua orang, sehingga kami tahu persis di mana setiap infrastruktur berada,” tambahnya.
Menangkis Isu ‘Circular Financing’
Keterlibatan Nvidia yang sangat dalam pada pendanaan startup memicu pertanyaan kritis mengenai skema transaksi melingkar (circular deals). Skema ini merujuk pada kondisi di mana Nvidia menyuntikkan modal ke startup, yang kemudian uang tersebut digunakan kembali oleh startup tersebut untuk membeli chip Nvidia. Pola seperti ini secara historis pernah menjadi pemicu hancurnya raksasa infrastruktur internet masa lalu seperti Lucent Technologies saat gelembung dot-com pecah.
Huang menanggapi kekhawatiran tersebut dengan santai dan sedikit berseloroh. “Ini bukan transaksi melingkar, karena kami memasukkan sedikit uang, dan uang yang kembali kepada kami jauh lebih banyak. Saya melihat lembar kerja kami: kami memasukkan USD 1, dan USD 100 kembali kepada kami. Jika itu disebut melingkar, mari kita lakukan lebih sering lagi.”
Di luar kelakar tersebut, Huang menegaskan bahwa Nvidia menerapkan manajemen risiko yang sangat ketat. Sebelum mengucurkan investasi ke startup mana pun, Nvidia memastikan bahwa perusahaan tersebut telah memiliki kontrak riil yang menghasilkan pendapatan dari pelanggan nyata. Huang mengklaim telah mengamankan kontrak senilai USD 100 miliar dari portofolio kemitraan tersebut. “Saya tidak mengambil risiko spekulatif. Saya membutuhkan kepastian bisnis,” tegasnya.
Tantangan Disrupsi di Masa Depan
Meski Nvidia saat ini berada di atas angin, sejarah industri teknologi selalu membuktikan satu hukum besi: tidak ada dominasi yang abadi, dan setiap raksasa pada akhirnya akan menghadapi disrupsi. Huang sendiri mengakui bahwa sebagian besar pertumbuhan AI saat ini didorong oleh startup AI-native yang membakar modal besar untuk infrastruktur.
Seiring dengan matangnya industri AI, perusahaan-perusahaan di masa depan dipastikan akan mencari cara yang lebih efisien dalam menggunakan token dan infrastruktur komputasi guna menekan biaya. Namun, untuk jangka pendek hingga menengah, dengan cengkeraman kuat di setiap lini rantai pasok AI, Nvidia tampaknya masih akan menikmati masa-masa keemasan dan mengontrol arah masa depan teknologi global.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post