Di balik gemerlap panggung busana dan inovasi perlengkapan olahraga global, batas antara inklusivitas dan sensitivitas kemanusiaan kerap berada di garis yang sangat tipis. Raksasa sportswear dunia, Adidas, kini tengah menjadi sorotan tajam publik usai kampanye lokal terbarunya memicu gelombang protes dan seruan boikot global. Langkah pemasaran yang sejatinya ditujukan untuk mendukung komunitas penyandang disabilitas ini justru memicu kontroversi emosional karena dinilai tuna-sensitivitas terhadap krisis kemanusiaan yang tengah berlangsung.
Inisiatif Inklusif yang Terperangkap Kontroversi Lokal
Awal mula pusaran polemik ini berakar dari kampanye bertajuk “Single Shoe Service”. Program yang sejatinya memiliki misi sosial ini memungkinkan para penyandang amputasi untuk membeli satu unit sepatu saja dengan harga setengah dari sepasang sepatu standar. Meski inisiatif global tersebut telah diluncurkan secara bertahap di Eropa serta berencana berekspansi ke Asia dan kawasan Arab, kekecewaan publik memuncak saat materi visual khusus untuk pasar lokal Israel diluncurkan. Di wilayah tersebut, Adidas menunjuk Shalev Biton—seorang mantan prajurit yang mengalami amputasi kaki pascaoperasi militer di Jalur Gaza pada 2021—sebagai wajah utama kampanye.
Reaksi Keras dan Tuduhan Whitewashing Isu Kemanusiaan
Keputusan estetika dan pemilihan figur kunci dalam materi promosi tersebut dengan cepat menuai kritik pedas di jagat maya. Gelombang kecaman menyoroti ironi mendalam dan sikap sinis dari strategi pemasaran tersebut. Para kritikus dan pengamat menggarisbawahi data badan kemanusiaan PBB yang mencatat bahwa kawasan Jalur Gaza saat ini memiliki rasio anak-anak penyandang amputasi tertinggi di dunia akibat dampak pemboman. Publik menilai langkah visual tersebut sebagai bentuk “whitewashing” atau upaya memoles citra di balik narasi keberagaman dan kepedulian disabilitas.
Respons Korporat dan Efek Domino pada Ikon Gaya Hidup
Di tengah badai kritik yang kian meluas, manajemen pusat Adidas maupun anak perusahaannya di wilayah setempat memilih untuk tidak memberikan tanggapan publik secara langsung, sementara kampanye di pasar lokal tersebut tetap berjalan. Permohonan maaf resmi justru datang dari perwakilan regional Adidas Arabia melalui media sosial. Mereka menyatakan tidak berniat menyinggung pihak mana pun dan menyampaikan penyesalan mendalam kepada publik yang terdampak. Namun, langkah ini tetap mengundang kritik karena pernyataan tersebut tidak diunggah ulang oleh akun utama Adidas yang memiliki puluhan juta pengikut global.
Dampak reputasi dari kontroversi ini kini merembet hingga ke jajaran selebriti dan ikon gaya hidup internasional. Aktor ternama Spanyol, Javier Bardem, secara terbuka menyuarakan seruan boikot terhadap merek asal Jerman tersebut melalui reka bentuk ilustrasi visual yang menyentil. Tak hanya itu, para penggemar dan aktivis di media sosial kini mendesak sejumlah figur publik papan atas yang terikat kontrak kemitraan—seperti bintang K-Pop Jennie hingga legenda sepak bola dan ikon gaya Zinédine Zidane—untuk segera memutus kerja sama mereka dengan Adidas. Peristiwa ini menjadi catatan penting bagi industri mode dan gaya hidup global mengenai krusialnya mengintegrasikan sensitivitas sosial ke dalam setiap narasi produk mereka.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post