Jamuan Mewah Gedung Putih Dikritik Minim Substansi Isu Strategis AS-China
Jamuan makan malam kenegaraan (state dinner) yang digelar Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih, Washington DC, berlangsung megah dengan kehadiran deretan tokoh elite politik dan bisnis global. Meski dibalut kemewahan diplomatik, pertemuan tersebut menuai kritik tajam dari sejumlah politisi Negeri Paman Sam yang menilai acara tersebut minim pembahasan isu-isu strategis dan lebih menyerupai “kontes kecantikan”.
Acara yang berlangsung di East Room Gedung Putih tersebut turut dihadiri oleh para pemimpin industri teknologi papan atas AS, seperti CEO OpenAI Sam Altman, CEO Nvidia Jensen Huang, CEO Tesla dan SpaceX Elon Musk, serta CEO Alphabet/Google Sundar Pichai. Kehadiran para raksasa teknologi ini menegaskan kuatnya dimensi ekonomi dan teknologi dalam dinamika hubungan bilateral kedua negara, terutama terkait akses pasar, rantai pasok semikonduktor, dan pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Retorika Kehangatan Personal di Tengah Sensitivitas Geopolitik
Dalam pidato sambutannya, Trump menekankan kedekatan hubungannya dengan Xi serta optimistis terhadap masa depan hubungan kedua negara. Trump menyampaikan bahwa ikatan antarmasyarakat kedua negara tetap kuat dan berada dalam kondisi yang sangat baik untuk mempromosikan kemakmuran serta keamanan global.
Menanggapi hal tersebut, Xi Jinping menyoroti adanya keselarasan visi antara semangat Make America Great Again yang diusung Trump dengan agenda peremajaan nasional China. Xi menilai kedua agenda besar tersebut dapat saling mendukung satu sama lain. Nuansa keakraban juga diperlihatkan melalui agenda simbolis, termasuk peninjauan helikopter kepresidenan Marine One dan penyerahan cenderamata berupa patung burung elang hasil desain khusus Trump dan Melania Trump.
Kritik Kongres: Isu Taiwan, Perdagangan, dan HAM Dinilai Terabaikan
Di balik kemegahan sajian kuliner dan kehangatan diplomasi, sejumlah politisi AS menyayangkan tidak adanya terobosan nyata dalam mengatasi akar ketegangan kedua negara. Trump dinilai gagal menekan Xi terkait isu-isu krusial seperti konflik status Taiwan, kebijakan tarif perdagangan, dominasi mineral kritis, hingga regulasi kecerdasan buatan.
Kritik keras datang dari internal Kongres AS. Sebanyak 19 senator dari kaukus Partai Demokrat melayangkan pernyataan resmi yang mendesak pemerintah untuk segera menyalurkan paket bantuan keamanan untuk Taiwan senilai lebih dari 15 miliar dolar AS (sekitar Rp 269,46 triliun). Paket tersebut mencakup pendanaan langsung sebesar 1,3 miliar dolar AS dan penjualan senjata senilai 14 miliar dolar AS yang telah disetujui Kongres.
Selain masalah Taiwan, para anggota legislatif juga mengkritik kebijakan pelonggaran pembatasan penjualan chip canggih ke China, isu penegakan Hak Asasi Manusia (HAM), serta nasib warga negara AS yang ditahan di China. Perdebatan ini diprediksi akan terus memanas di tingkat domestik AS, terlebih menjelang pelaksanaan agenda politik pemilihan paruh waktu yang kian dekat.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post