MALANG TODAY – Laju harga batu bara di pasar global kembali tertekan pada perdagangan Rabu (21/10/2026). Penurunan komoditas energi ini dipicu oleh lonjakan produksi batu bara mentah China pada September yang menyentuh level tertinggi dalam empat bulan terakhir, sehingga meredakan kekhawatiran atas pengetatan pasokan global.
Berdasarkan data perdagangan komoditas, koreksi terjadi secara merata di pasar berjangka utama, baik Newcastle maupun Rotterdam. Kontrak batu bara Newcastle untuk pengiriman Oktober 2026 terkoreksi US$ 0,1 ke posisi US$ 150,55 per ton. Pelemahan lebih tajam melanda kontrak November 2026 yang anjlok US$ 1,05 menjadi US$ 152,5 per ton, serta kontrak Desember 2026 yang merosot US$ 1,5 ke level US$ 154,5 per ton.
Tren serupa membayangi pergerakan harga di bursa Rotterdam. Kontrak batu bara Rotterdam untuk Oktober 2026 melemah US$ 0,2 menjadi US$ 145,3 per ton. Sementara itu, kontrak November 2026 terpangkas US$ 0,25 ke level US$ 150,15 per ton, dan kontrak Desember 2026 tergerus US$ 0,15 menduduki posisi US$ 150,4 per ton.
Normalisasi Operasional Tambang Tiongkok Genjot Produksi
Mengutip data lembaga riset industri BigMint dan Biro Statistik Nasional China (NBS), total produksi batu bara mentah Tiongkok melesat hingga 385,13 juta ton sepanjang September 2026. Angka tersebut mencatatkan kenaikan sebesar 6,4% dibandingkan bulan sebelumnya (month-on-month) dan menjadi pencapaian volume bulanan tertinggi sejak Mei lalu.
Pemulihan volume produksi secara signifikan ini tidak lepas dari instruksi pemerintah pusat dan daerah Tiongkok pada pertengahan September. Otoritas setempat merilis kebijakan yang meminta fasilitas tambang—yang sebelumnya dihentikan sementara—untuk kembali beroperasi demi menjaga kestabilan pasokan energi domestik menjelang lonjakan permintaan akhir tahun.
Dampak Inspeksi Keselamatan Pasca-Insiden Shanxi
Sebelumnya, kinerja output batu bara Negeri Tirai Bambu mengalami pembatasan ketat sejak akhir Mei 2026. Pemerintah Tiongkok memperketat pengawasan dan menghentikan sementara operasional sejumlah pertambangan skala besar guna melakukan inspeksi keselamatan secara menyeluruh.
Langkah tegas tersebut diambil menyusul insiden ledakan tambang fatal di Provinsi Shanxi pada 19 Mei—salah satu wilayah penghasil batu bara terbesar di China utara. Tragedi tersebut tercatat sebagai kecelakaan industri pertambangan batu bara paling mematikan di negara itu dalam kurun waktu 17 tahun terakhir.
Meskipun performa produksi bulanan pada September menunjukkan grafik pemulihan yang kuat, akumulasi output batu bara Tiongkok sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026 secara umum masih berada di bawah catatan volume pada periode yang sama tahun lalu. Kondisi ini membuat para pelaku pasar terus mencermati keseimbangan antara kebijakan keselamatan kerja dan pemenuhan kebutuhan energi pasar global.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post