MALANG TODAY – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak Rusia dan Ukraina untuk segera merealisasikan gencatan senjata menyeluruh dan tanpa syarat. Peringatan keras ini disampaikan seiring meningkatnya intensitas konflik yang dinilai mulai memasuki fase baru yang sangat berbahaya bagi stabilitas global.
Seruan tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian, Rosemary DiCarlo, dalam sidang Dewan Keamanan PBB. Ia menegaskan bahwa setelah hampir lima tahun pertempuran berkecamuk, kedua negara kini berada di persimpangan jalan yang krusial.
Dilema Antara Perdamaian dan Eskalasi Konflik
Dalam keterangannya, DiCarlo mengungkapkan bahwa Rusia dan Ukraina harus secara sadar memilih jalan menuju diplomasi ketimbang memperluas skala pertempuran. Menurutnya, keputusan yang diambil oleh kedua belah pihak akan membawa dampak besar bagi masyarakat internasional.
“Pilihan tersebut akan berdampak pada kita semua,” ujar DiCarlo di hadapan para anggota Dewan Keamanan PBB.
Ia menekankan pentingnya keterlibatan diplomatik yang disertai dengan tindakan deeskalasi secara nyata di lapangan. Tanpa adanya langkah penurunan tensi militer, ancaman terhadap keselamatan warga sipil serta perdamaian dan keamanan internasional dipastikan bakal semakin membesar.
Gencatan senjata tanpa syarat dinilai sebagai langkah awal yang mutlak diperlukan untuk membuka jalan menuju penyelesaian konflik yang adil, komprehensif, dan berkelanjutan.
Fase Baru yang Mematikan dan Korban Sipil yang Melonjak
PBB menilai situasi di lapangan saat ini kian mengkhawatirkan. Konflik tidak hanya ditandai oleh serangan harian yang semakin masif dan kehancuran infrastruktur yang meluas, tetapi juga risiko penyebaran pertempuran ke wilayah lain di luar medan perang utama.
Berdasarkan data yang diverifikasi oleh Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) sejak pecahnya invasi pada Februari 2022, dampak kemanusiaan di Ukraina telah mencapai angka yang sangat mengerikan. Tercatat sedikitnya 17.257 warga sipil tewas dan 53.693 lainnya mengalami luka-luka.
Tak hanya di Ukraina, imbas konflik terhadap warga sipil di wilayah Rusia juga dilaporkan meningkat tajam sepanjang tahun terakhir. Data otoritas Rusia periode Januari hingga Agustus mencatat adanya 443 warga sipil tewas dan 2.932 korban luka-luka akibat lonjakan aktivitas militer.
Menanggapi jatuhnya korban dari pihak sipil di kedua wilayah, DiCarlo mengingatkan kembali aturan tegas dalam hukum humaniter internasional. Ia menegaskan bahwa segala bentuk serangan yang menargetkan warga maupun fasilitas sipil merupakan pelanggaran berat yang tidak dapat dibenarkan dan harus segera dihentikan.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post