MALANG TODAY – Di tengah dominasi pria dalam dunia olahraga otomotif (motorsport), balapan Top Fuel drag racing tampil beda. Ajang yang diklaim sebagai olahraga tercepat di dunia ini menjadi ruang di mana pembalap wanita tidak hanya bersaing, tetapi juga rutin mendominasi dan meraih gelar juara dunia.
Perbandingan paling mendekati untuk menggambarkan ekstrimnya balapan ini, menurut juara Eropa dua kali Susanne Callin, adalah “seperti ditembakkan dari sebuah meriam”. Dalam lintasan lurus sepanjang 305 meter, kendaraan mampu melesat hingga lebih dari 480 kilometer per jam hanya dalam waktu sekitar empat detik. Selama proses tersebut, pembalap mengalami gaya gravitasi (g-force) yang bahkan melebihi kekuatan yang dirasakan astronaut saat meluncur ke luar angkasa.
Dominasi Perempuan di Arena Paling Ekstrem
Data dari organisasi More Than Equal menunjukkan bahwa perempuan secara umum hanya mencakup 10 persen dari total peserta balap otomotif global dan hanya 4 persen di tingkat elite. Sebagai perbandingan, sudah lima dekade berlalu sejak terakhir kali ada pembalap perempuan yang tampil di ajang Grand Prix Formula 1.
Namun, kondisi berbeda terlihat di arena Top Fuel. Pada musim balap di Amerika Serikat dan Eropa tahun ini, partisipasi pembalap wanita mencapai sekitar 20 persen. Bahkan, dalam sembilan kejuaraan Eropa terakhir, pembalap perempuan berhasil menjuarai tujuh di antaranya. Juara bertahan Susanne Callin mencatatkan kemenangan berturut-turut pada 2025 dan 2026, memperpanjang rekor kemenangan pembalap wanita di kejuaraan Eropa menjadi empat tahun berturut-turut.
Di Amerika Serikat, pembalap Brittany Force berhasil menyabet gelar juara nasional National Hot Rod Association (NHRA) pada 2017 dan 2022, sekaligus memegang rekor kecepatan dunia di cabang tersebut. Hal ini membuat More Than Equal menjuluki drag racing sebagai cabang motorsport paling setara gender di dunia.
Sensasi Fisik dan Ekosistem yang Inklusif
Nama Top Fuel berasal dari bahan bakar nitrometana berdaya ledak tinggi yang digunakan. Kecepatan resminya pernah mencatatkan rekor hingga lebih dari 558 km/jam. Untuk menghentikan laju mobil di garis finis, pembalap mengandalkan parasut yang terbuka di bagian belakang.
“Hentakannya sangat kuat, seperti ditendang seseorang tepat di dada hingga napas Anda hilang,” kata Callin menggambarkan momen saat parasut terbuka. Meski memiliki risiko tinggi dan membutuhkan repons refleks seketika, Callin menyebut sensasi adrenalin balapan ini sangat memikat.
Chief Innovation Officer More Than Equal, Fran Longstaff, menjelaskan bahwa kesetaraan di ajang ini bukan dipicu oleh faktor fisik atau biologis, melainkan ekosistemnya. Drag racing memiliki sejarah panjang kehadiran figur panutan perempuan sejak era Shirley Muldowney pada tahun 1970-an—wanita pertama yang meraih lisensi dan tiga kali menjuarai NHRA Top Fuel.
Selain itu, struktur olahraga ini dinilai lebih inklusif dengan biaya masuk yang relatif lebih terjangkau dibandingkan Formula 1, area pit yang terbuka untuk penonton, serta budaya kekeluargaan yang kuat.
Inspirasi Global hingga ke Asia
Kehadiran perempuan di lintasan lurus ini tidak hanya terjadi di Barat. Di India, Uvashri Kannadasan Balajeyanthi mengukir prestasi dengan menjuarai tiga kelas berbeda dalam ajang Valley Run periode 2022–2024 menggunakan mobil modifikasi.
“Siapa pun bisa mengemudi. Namun, kadang saya merasa bangga karena berhasil menembus batas sebagai perempuan dalam olahraga yang didominasi laki-laki,” ujar Uvashri.
Kini, fokus para pencinta drag racing tertuju pada Susanne Callin. Setelah mengamankan gelar juara Eropa dua kali beruntun, pembalap asal Swedia ini menargetkan rekor baru: menjadi pembalap pertama dalam sejarah yang berhasil meraih gelar Kejuaraan Eropa tiga kali berturut-turut.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post