Mengabaikan Buramnya Penglihatan Anak di Tengah Ambisi Pendidikan
Di sudut sebuah ruang kelas, seorang murid tampak menyipitkan mata, berjuang menerka deretan huruf di papan tulis yang terlihat bak barisan semut yang kabur. Setibanya di rumah, penurunan nilai ujiannya justru direspons orang tua dengan teguran untuk mengurangi waktu bermain gawai. Sebuah fenomena umum yang sering terlewatkan: orang tua kerap berfokus pada hasil belajar anak, namun abai pada fungsi organ paling vital dalam menyerap ilmu pengetahuan, yakni mata.
Isu ini menjadi perhatian serius seiring momentum momentum peringatan Hari Penglihatan Sedunia yang mengusung kampanye global Love Your Eyes. Kampanye yang diinisiasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan International Agency for the Prevention of Blindness (IAPB) ini menekankan pentingnya deteksi dini gangguan penglihatan yang sering kali luput dari perhatian keluarga.
Ratusan Ribu Anak Indonesia Terdeteksi Mengalami Kelainan Refraksi
Berdasarkan data nasional Kementerian Kesehatan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sekolah periode 1 Januari hingga 2 September 2026, terungkap fakta yang memprihatinkan. Dari 9.241.377 anak sekolah yang menjalani skrining, sebanyak 288.408 siswa (3,12 persen) menunjukkan hasil pemeriksaan tajam penglihatan di bawah batas normal (6/9).
Secara matematis, dalam sebuah sekolah yang menampung seribu murid, diperkirakan ada sekitar 31 siswa yang mengalami gangguan penglihatan dan membutuhkan penanganan medis. Gangguan refraksi seperti miopi (rabun jauh) dan astigmatisme (mata silinder) yang tidak tertangani membuat anak lambat dalam menyalin pelajaran, sering menyipitkan mata, hingga akhirnya dicap kurang berkonsentrasi atau malas belajar.
Ancaman Katarak pada Usia Produktif dan Lanjut Usia
Abaikan terhadap kesehatan mata tidak hanya terjadi pada kelompok usia anak. Pada kelompok dewasa dan lanjut usia, penurunan kualitas penglihatan kerap dianggap sekadar dampak wajar dari proses penuaan. Gejala seperti tulisan ponsel yang mulai kabur, kesulitan membaca dalam kondisi redup, hingga kesilauan saat berkendara di malam hari sering kali dibiarkan tanpa penanganan medis.
Data CKG pada periode yang sama mencatat keberadaan 353.186 peserta berusia 40 tahun ke atas (2,59 persen) dari total 13.618.207 peserta yang masuk dalam kategori terduga katarak. Katarak, yang ditandai dengan kekeruhan pada lensa mata, menjadi salah satu penyebab utama penurunan kemandirian pada lansia karena menghambat aktivitas dasar harian.
Pentingnya Tindak Lanjut Medis dan Sinergi Lintas Sektor
Program skrining massal dan edukasi yang diselenggarakan pemerintah serta berbagai organisasi masyarakat merupakan langkah awal yang krusial. Namun, keberhasilan penanganan kesehatan mata tidak hanya diukur dari banyaknya jumlah peserta skrining atau pembagian kacamata gratis, melainkan pada keberlanjutan layanan rujukan medis hingga pasien mendapatkan koreksi penglihatan yang tepat atau tindakan operasi bagi penderita katarak.
Sinergi antara sekolah, puskesmas, pemerintah daerah, dan organisasi sosial sangat dibutuhkan untuk memastikan rantai rujukan berjalan tanpa hambatan finansial maupun birokrasi. Skrining kesehatan baru memberikan dampak nyata ketika berhasil mengantarkan masyarakat pada intervensi medis yang memadai.
Langkah Konkret Dimulai dari Lingkungan Keluarga
Kesadaran paling mendasar harus tumbuh dari dalam rumah. Orang tua diimbau untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti kebiasaan mendekatkan wajah ke buku atau layar gawai, kerap menggosok mata, serta mengeluhkan pusing setelah belajar. Penerapan pola hidup bersih dan sehat, pembatasan durasi penggunaan layar (screen time), pencahayaan ruangan yang cukup, serta memperbanyak aktivitas di luar ruangan menjadi langkah pencegahan yang sangat dianjurkan.
Masyarakat juga diminta untuk segera mengakses fasilitas kesehatan emergency jika mengalami gejala akut, seperti penurunan penglihatan secara mendadak, rasa nyeri hebat pada bola mata, atau munculnya kilatan cahaya disertai bintik melayang (floaters). Menjaga kesehatan penglihatan adalah investasi mendasar agar setiap individu dapat menjalankan aktivitas serta menata masa depan dengan optimal.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post