IHSG Tekan Level 5.917 di Tengah Badai Inflasi AS dan Aksi Jual Saham Teknologi Asia
Pasar saham Indonesia mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Kamis pagi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sebesar 0,44 persen ke level 5.917. Penurunan ini dipicu oleh kecemasan global terkait lonjakan inflasi di Amerika Serikat serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang membayangi sentimen pasar. Kondisi tersebut diperparah oleh aksi jual masif (sell-off) pada saham-saham sektor teknologi di kawasan Asia.
Pada sesi awal transaksi, IHSG bergerak fluktuatif di rentang 5.881 hingga 5.917. Volume perdagangan mencatatkan 2,13 miliar lembar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 356,63 miliar ($19,87 juta) dalam 64.155 kali transaksi. Pergerakan pasar menunjukkan dominasi tekanan jual, di mana sebanyak 359 saham melemah, 95 saham menguat, dan 205 saham stagnan. Padahal, pada hari sebelumnya, IHSG sempat ditutup menguat tipis 0,29 persen di posisi 5.943.
Sentimen Makroekonomi Global dan Ketidakpastian The Fed
Para analis pasar menyarankan agar investor tetap waspada. Kenaikan harga minyak mentah dunia yang terus berlanjut serta menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed menjadi faktor utama penekan pasar modal. Pelaku pasar saat ini tengah menantikan rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat yang diproyeksikan berada di level 5,3 persen secara tahunan (yoy) untuk periode September, sedikit melandai dari posisi Agustus sebesar 5,4 persen.
Selain data PPI, data penjualan eceran (retail sales) AS juga diprediksi melambat menjadi 0,3 persen secara bulanan (mom) pada September, turun drastis dari 1,2 persen pada bulan sebelumnya. Dari Eropa, Inggris dijadwalkan merilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Agustus yang diperkirakan mengalami kontraksi sebesar 0,1 persen (mom), berbanding terbalik dari pertumbuhan 0,4 persen pada Juli.
Tekanan di bursa domestik mengekor pelemahan Wall Street yang ditutup merah akibat data inflasi AS yang melebihi ekspektasi. Indeks S&P 500 merosot 1,1 persen, Nasdaq Composite yang berbasis teknologi anjlok hingga 2 persen, sementara Dow Jones Industrial Average terkikis 49 poin. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru terkait arah kebijakan moneter global dan penilaian ulang (valuaasi) saham-saham teknologi.
Bursa Asia Merah Padam, Saham Teknologi Anjlok
Pelemahan tajam tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi merata di kawasan Asia. Indeks Kospi Korea Selatan mencatatkan penurunan terparah hingga 7,60 persen ke bawah level 5.552, diakibatkan oleh intensifikasi aksi jual saham teknologi mengekor sentimen negatif dari bursa AS.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 terperosok tajam sebesar 4,81 persen. Pasar merespons laporan mengenai ketidakpastian langkah Bank of Japan (BOJ) yang enggan menaikkan suku bunga secara berturut-turut dalam waktu dekat, meskipun tetap membuka peluang penyesuaian pada Desember mendatang. Perbedaan arah kebijakan antara bank sentral utama dunia ini menjadi faktor krusial yang mempengaruhi pergerakan imbal hasil obligasi, nilai tukar mata uang, serta arus modal internasional.
Sementara itu, Indeks Hang Seng Hong Kong melorot 1,14 persen dan Shanghai Composite Tiongkok turut melemah 1,80 persen pada perdagangan pagi hari.
Prospek Cerah Sektor Bahan Baku Baterai Domestik
Di tengah tekanan pasar saham, fundamental industri dalam negeri masih menunjukkan sinyal positif, khususnya di sektor energi hijau. Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memproyeksikan kapasitas produksi bahan baku baterai kendaraan listrik di Indonesia bakal melonjak lebih dari dua kali lipat, menembus angka 900.000 ton pada akhir 2027.
Peningkatan pesat ini merupakan buah dari program hilirisasi nikel domestik, utamanya melalui produksi mixed hydroxide precipitate (MHP). Lonjakan kapasitas tersebut didorong oleh beroperasinya proyek-proyek pengolahan dan pemurnian hidrometalurgi berbasis teknologi high-pressure acid leaching (HPAL) secara penuh.
Perkembangan positif ini diprediksi akan memberikan keuntungan strategis bagi industri baterai dan kendaraan listrik nasional, berkat pasokan bahan baku yang lebih melimpah serta efisiensi biaya produksi yang lebih kompetitif di masa depan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post