SINGAPURA — Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah kembali mengancam keselamatan jalur pelayaran komersial internasional. Dua kapal kontainer berbendera Singapura dilaporkan menjadi sasaran serangan proyektil tak dikenal saat melintasi jalur vital Selat Hormuz. Insiden yang terjadi pertengahan Oktober 2026 ini mengakibatkan satu kapal tenggelam dan satu kapal lainnya mengalami kerusakan pada bagian lambung.
Berdasarkan keterangan resmi Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura (MPA), kapal kontainer GFS PRIDE tenggelam setelah mengalami kerusakan parah yang memicu kebakaran hebat di perairan barat laut Ras al-Sheikh Masud, Semenanjung Musandam, Oman. Meski kapal karam, seluruh awak yang berjumlah 21 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Sementara itu, kapal berbendera Singapura lainnya, GFS GISELLE, turut dihantam proyektil tidak dikenal di area yang sama. Beruntung, kapal tersebut hanya mengalami kerusakan lambung dan berhasil melanjutkan pelayaran menuju tempat berlabuh yang aman menggunakan tenaga penggeraknya sendiri. Sebanyak 22 awak kapal GFS GISELLE dipastikan selamat tanpa ada yang mengalami luka-luka.
“Tidak ada warga negara Singapura di antara total awak kapal di kedua armada tersebut,” ungkap pihak MPA dalam pernyataan resminya.
Kecaman atas Pelanggaran Hukum Internasional
Menanggapi insiden beruntun yang menimpa armadanya, pemerintah Singapura melalui MPA melayangkan kecaman keras terhadap aksi kekerasan yang menargetkan kapal-kapal niaga komersial di jalur internasional. Pihaknya menegaskan bahwa aksi penyerangan semacam ini merupakan tindakan tak beralasan yang melanggar hukum maritim secara serius.
“Seluruh tindakan yang berdampak terhadap pelayaran internasional harus sepenuhnya mematuhi hukum internasional, khususnya Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS), serta tidak boleh membahayakan keselamatan para pelaut dan kapal di laut,” tegas otoritas tersebut.
Data dari United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) dan laporan hidrografi kawasan mengonfirmasi bahwa insiden penyerangan terjadi di area krusial. Jalur ini merupakan salah satu urat nadi pasokan energi dunia yang menghubungkan kawasan Teluk dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Ketegangan Jalur Pasokan Energi Global
Selat Hormuz, yang melayani rute perlintasan hampir seperlima dari total pengiriman minyak dan gas dunia, mengalami gangguan keamanan masif sejak pecahnya konflik bersenjata regional yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Catatan dari Organisasi Maritim Internasional (IMO) di bawah naungan PBB menunjukkan setidaknya 24 pelaut telah tewas dalam lebih dari 100 insiden keamanan terkonfirmasi di wilayah perairan tersebut.
Di sisi lain, narasi berbeda disampaikan oleh pihak Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melalui kantor berita IRNA. IRGC melaporkan bahwa sebuah kapal kontainer tenggelam di perairan selatan Selat Hormuz akibat menabrak ranjau laut, yang kemudian memicu kobaran api besar sebelum kapal akhirnya karam.
Meski IRGC belum mengonfirmasi secara spesifik apakah kapal yang dimaksud adalah GFS PRIDE, mereka telah mengeluarkan imbauan navigasi bagi kapal-kapal lokal dan nelayan untuk berhati-hati terhadap bahaya puing serta kontainer yang terapung di perlintasan perairan tersebut.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post