JAKARTA — Industri busana cepat atau fast fashion kian menjadi perhatian global akibat lonjakan limbah tekstil yang mencemari lingkungan. Merespons ancaman tersebut, gerakan busana ramah lingkungan atau zero waste fashion terus didorong untuk mengubah pola konsumsi masyarakat agar lebih peduli terhadap keberlanjutan alam.
Isu krusial ini mengemuka dalam diskusi panel bertajuk Designers Talk: Fesyen Berkelanjutan yang digelar di World Trade Centre 2, Jakarta, Sabtu (31/10/2026). Forum tersebut menghadirkan Shiva Yousefpour, desainer asal Australia sekaligus pendiri label SHIYO, bersama desainer dan pendidik fesyen Kate Reynolds, serta Associate Dean Design dari RMIT University, Tassia Johannides.
Mengubah Barang Bekas Menjadi Karya Bernilai Tinggi
Dalam pemaparannya, Shiva Yousefpour membagikan ambisinya untuk menciptakan lini produk mode dengan menekan potensi sampah hingga ke tingkat paling minimal. Pendekatan perancangan yang ia terapkan berfokus pada efisiensi bahan tanpa harus memotong atau membuang sisa kain.
“Saya berambisi menjadi desainer yang menciptakan produk dengan sampah seminimal mungkin. Tidak ada memotong dan membuang bahan saat membuat karya seni,” tegas Yousefpour.
Ia menekankan bahwa proses produksi busana berkualitas tidak selalu bergantung pada material baru. Pemanfaatan barang-barang dari toko loak atau pakaian bekas (preloved) menjadi alternatif konkret untuk menekan dampak lingkungan. Langkah nyata ini dibuktikannya melalui pameran busana di ajang Jakarta Fashion Week pada 1 November 2026, di mana 15 koleksi yang ia tampilkan dirancang penuh menggunakan bahan daur ulang seperti sarung bantal, seprai, gorden, taplak meja, hingga pakaian bekas.
Prinsip perancangan tanpa sisa limbah ini telah membawanya meraih penghargaan Sustainable Fashion Prize dalam kompetisi mahasiswa internasional yang diikuti peserta dari 17 negara. Karya kelulusannya di FDS School Sydney—yang mengolah kemeja formal pria bekas tanpa pemotongan kain—bahkan kini menjadi bagian dari koleksi permanen di National Wool Museum, Melbourne.
Ancaman Tren Tren Busana Cepat dan Peran Konsumen
Sementara itu, pendiri label Pageant, Kate Reynolds, soroti siklus hidup produk fast fashion yang tergolong sangat singkat. Meski kerap menawarkan desain yang menarik dan mengikuti tren, karakter produk yang cepat usang berujung pada penumpukan limbah tekstil di tempat pemrosesan akhir (TPA).
“Produk fast fashion memang lucu-lucu, trendi, dan menarik. Namun, produk tersebut cepat ‘basi’ dan akhirnya menjadi sampah tekstil yang menumpuk di tempat pembuangan akhir,” ungkap Reynolds. Ia menambahkan bahwa kini semakin banyak perancang busana yang mulai beralih ke pola produksi yang lebih bijak dan bertanggung jawab.
Di sisi lain, Tassia Johannides dari RMIT University menyoroti pentingnya edukasi bagi publik. Menurutnya, keputusan pembeli dalam memilih produk berkonsep keberlanjutan berpengaruh langsung terhadap pengurangan daya rusak lingkungan.
“Jika konsumen memilih produk fesyen dari desainer yang menganut prinsip sustainability, maka produk yang mereka pakai akan lebih awet dan tidak menciptakan banyak sampah dalam proses produksinya,” tutur Johannides.
Eksplorasi Teknik dan Kesadaran Berbelanja
Guna memperkuat basis karyanya di jalur zero waste fashion, Yousefpour terus mengeksplorasi pengolahan pakaian bekas dengan memadukan teknik tekstil tradisional Jepang. Langkah ini terinspirasi dari perancang busana senior ternama asal Australia berdarah Jepang, Akira Isogawa.
Menutup sesi diskusi, para panelis mengimbau masyarakat untuk mengevaluasi kembali kebiasaan berbelanja busana. Konsumen diharapkan tidak mudah tergiur oleh tren sesaat, melainkan prioritaskan produk yang memiliki ketahanan jangka panjang (long lasting), memiliki nilai estetika tinggi, serta diproduksi dengan memperhatikan kelestarian bumi.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post