MALANG TODAY – Sejumlah perwakilan desa dan pengelola pariwisata asal Indonesia menimba ilmu terkait pengembangan potensi lokal dan pemberdayaan masyarakat di Prefektur Otonom Etnis Dai Xishuangbanna, Provinsi Yunnan, China. Kegiatan bertajuk program pertukaran antarnegara ini menjadi wadah untuk mengeksplorasi strategi pembangunan kawasan pedesaan yang berkelanjutan.
Dalam agenda tersebut, sebanyak 40 peserta muda dari berbagai negara Asia seperti Indonesia, Bangladesh, Laos, Nepal, Timor-Leste, Thailand, dan Vietnam meninjau langsung perkembangan Desa Manluanzhan dan Desa Hebian. Fokus utama peninjauan ini adalah melihat bagaimana desa dapat mempertahankan kearifan lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi modern di tengah dinamika perubahan zaman.
Persamaan Strategi Pariwisata Berbasis Masyarakat
Kunjungan ini menyoroti keterlibatan aktif warga dalam mengelola sektor pariwisata. Konsep pengelolaan berbasis masyarakat ini dinilai sejalan dengan praktik pengembangan pariwisata di Indonesia, salah satunya seperti yang diterapkan di Desa Wisata Penglipuran, Bali.
Ni Luh Feby Karisma Putri, perwakilan manajemen pariwisata Desa Penglipuran, mengungkapkan bahwa daya tarik utama pariwisata desa terletak pada integrasi antara kehidupan tradisional warga dan pelayanan wisatawan. Penglipuran, yang berhasil menyabet penghargaan Desa Wisata Terbaik dari UN Tourism pada 2023, saat ini mencatatkan kunjungan rata-rata sekitar 2.000 wisatawan per hari.
Di China, Desa Manluanzhan menerapkan pendekatan serupa dengan meluncurkan program pembangunan berpusat pada petani sejak 2023. Skema yang melibatkan kolaborasi antara warga, usaha kolektif desa, akademisi, dan pemerintah tersebut terbukti efektif. Pada 2025, lini bisnis baru berbasis pariwisata di Manluanzhan berhasil mencatatkan pendapatan lebih dari 2,6 juta yuan (sekitar Rp6,9 miliar), di mana lebih dari 80 persen hasilnya disalurkan langsung kepada para petani setempat.
Peluang Digitalisasi bagi Desa Berbasis Pertanian
Berbeda dengan Penglipuran yang mengandalkan sektor pariwisata, Desa Setu di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, masih bertumpu pada sektor pertanian dan peternakan. Kepala Desa Setu, Esa Asmarini, memanfaatkan program ini untuk mencari solusi peningkatan ekonomi bagi sekitar 6.000 warganya.
Selama berada di Xishuangbanna, Asmarini mempelajari bagaimana Desa Hebian memadukan kegiatan agraris tradisional seperti menyadap karet dan beternak lebah dengan bisnis penginapan (homestay) serta pemanfaatan siaran langsung digital (livestreaming) untuk pemasaran produk lokal.
Ia menilai pelatihan niaga elektronik (e-commerce) dan pemanfaatan teknologi modern memberikan inspirasi baru untuk diterapkan di daerahnya, meskipun tantangan seperti keterbatasan anggaran dan keterampilan SDM masih perlu diatasi.
Pentingnya Ekosistem dan Kolaborasi Multi-Pihak
Keberhasilan pembangunan desa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik semata, melainkan dari pembentukan ekosistem yang solid. Wakil Ketua Himpunan Alumni IPB University, Ahmad Alam, menekankan pentingnya keterhubungan antara sektor pertanian, kearifan lokal, kewirausahaan, dan partisipasi publik.
Setiap desa memiliki karakter dan tantangan yang beragam. Pembelajaran dari kawasan Xishuangbanna menegaskan bahwa keberhasilan revitalisasi pedesaan sangat bergantung pada sinergi yang kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga masyarakat, dan warga desa itu sendiri.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post