JAYAPURA — pendekatan ekonomi inklusif dan pemberdayaan berbasis komunitas terbukti menjadi instrumen efektif dalam mengakselerasi reintegrasi sosial serta stabilitas keamanan di wilayah perbatasan. Langkah nyata ini terlihat saat lima mantan anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang selama ini bermukim di Papua Nugini (PNG) memutuskan untuk kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) guna beralih profesi menjadi pelaku usaha ekonomi produktif di sektor peternakan.
Keputusan reintegrasi tersebut ditandai dengan penyerahan instrumen militer berupa tiga pucuk senjata api laras pendek—terdiri dari jenis FN, revolver, dan rakitan—serta sejumlah amunisi kepada otoritas keamanan setempat. Langkah penyerahan diri ini menggarisbawahi pentingnya penciptaan peluang ekonomi lokal sebagai stimulus utama untuk meredam konflik persenjataan di Papua.
Reintegrasi Berbasis Pemberdayaan Sektor Peternakan
Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang mengungkapkan bahwa kembalinya para mantan anggota KKB beserta keluarga mereka tidak lepas dari peran figur lokal berinisial LK. Sejak menyatakan ikrar setia kepada NKRI pada tahun 2019, LK sukses bertransformasi menjadi wirausahawan lokal yang bergerak di bidang perbiakan dan peternakan babi.
Melalui keberhasilan model bisnis peternakan yang dikembangkannya, LK secara aktif merangkul serta mengajak kerabatnya yang masih tergabung dalam KKB untuk meletakkan senjata dan beralih membangun kemandirian ekonomi. “Bapak LK saat ini sukses menjadi peternak babi, dan kami berharap ekosistem usahanya dapat terus berkembang sehingga mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal dari kalangan masyarakat reintegrasi,” ujar Febriel saat memberikan keterangan resmi di Jayapura, didampingi Danrem 172/PWY Brigjen TNI Robby Suryadi.
Stabilitas Keamanan sebagai Prasyarat Pertumbuhan Ekonomi Local
Sektor peternakan dan agribisnis di kawasan perbatasan Indonesia-Papua Nugini dinilai memiliki potensi komersial yang signifikan jika didukung oleh kondusivitas wilayah. Reintegrasi berbasis kewirausahaan ini menjadi bukti konkret bahwa pendekatan kesejahteraan (welfare approach) berpotensi memutus mata rantai konflik sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif di tingkat tapak.
Jajaran Kodam XVII/Cenderawasih menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh pemulihan sosial-ekonomi bagi warga yang ingin kembali dan membina usaha produktif di kampung halaman. Stabilitas keamanan yang mantap dipandang sebagai fondasi utama untuk menarik investasi, memperluas akses pasar agribisnis lokal, dan mengakselerasi pembangunan infrastruktur ekonomi di Papua.
“Kami membuka pintu seluas-luasnya bagi saudara-saudara kita yang ingin kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Fokus utama kita ke depan adalah bersama-sama membangun daerah, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga iklim keamanan yang kondusif demi kemajuan ekonomi Papua,” pungkas Febriel.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post