Lawan Perdagangan Manusia: Regina Art Pentaskan Sejarah Perjuangan Njonja Ati Soetji
Rumah produksi seni Regina Art kembali menegaskan komitmennya dalam mengangkat sejarah perjuangan tokoh perempuan Indonesia ke panggung teater. Kali ini, sebuah pementasan bernuansa sejarah dihadirkan untuk mengenang ketokohan Njonja Ati Soetji—atau yang dikenal dengan nama asli Auw Tjoei Lan—seorang pejuang kemanusiaan keturunan Tionghoa asal Majalengka, Jawa Barat, yang gigih melawan praktik perdagangan manusia pada era Hindia Belanda.
Dalam pertunjukan bertajuk mini showcase yang digelar di The Forest, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pendiri Regina Art, Joane Win, tampil langsung mengisi peran utama sebagai Njonja Ati Soetji. Membalut diri dengan busana kain batik yang anggun, Joane membawakan karakter pejuang tersebut dengan penghayatan mendalam. Pementasan ini menggambarkan bagaimana Ati Soetji mempertaruhkan keselamatan dirinya demi membebaskan kaum perempuan dari jerat eksploitasi, perbudakan seksual, dan jaringan perdagangan manusia yang marak pada masa kolonial.
Kolaborasi Lintas Seniman dan Dukungan Tokoh Kemanusiaan
Pementasan teatrikal ini digarap oleh sutradara ternama Wawan Sofwan berdasarkan naskah karya Endah D. Jenura, serta diproduseri secara eksekutif oleh Joane Win. Pertunjukan ini semakin hidup dengan keterlibatan jajaran aktor senior tanah air. Aktris Maudy Koesnaedi dipercaya memerankan karakter antagonis bernama Sayap Hitam. Selain itu, panggung drama ini didukung oleh penampilan Tika Bravani sebagai Noona Kneefel, Lutfi Ardiansyah sebagai Jirrin, Chloe Gerry sebagai Suyun, dan Willem Bievers sebagai Van Walsem.
Deretan pemeran pendukung lainnya seperti Jim Lim (Tuan Seng Hoe), Haikal Mubarok (Tuan Lie), Andri Surawan (Buron), serta Andi Solohin (Jagal) turut memperkuat dinamika konflik dalam narasi sejarah tersebut. Kolaborasi para seniman ini berhasil memvisualisasikan ketegangan serta keberanian Ati Soetji saat mendirikan rumah singgah pada tahun 1919 guna memberikan perlindungan, pemulihan, dan pendidikan bagi anak-anak serta perempuan korban eksploitasi.
Wakil Ketua Yayasan Hati Suci, Wenny, mengapresiasi inisiatif Regina Art yang mengangkat kisah yang selama ini jarang tersingkap oleh publik. Menurutnya, sosok Ati Soetji merupakan salah satu calon pahlawan nasional yang menginspirasi lahirnya gerakan perlindungan sosial di Indonesia.
“Ini merupakan untold story. Beliau adalah sosok teladan yang pada tahun 1919 secara nyata membangun rumah singgah untuk memberikan perlindungan dan pendidikan bagi korban eksploitasi di zaman Hindia Belanda. Keberanian dan kepedulian seperti ini sangat relevan dan terus kita butuhkan hingga saat ini,” ujar Wenny.
Pesan Moral: Mengubah Privilese Menjadi Aksi Kemanusiaan
Penulis naskah, Endah D. Jenura, menyoroti dimensi kedalaman karakter Ati Soetji yang memisahkan dirinya dari stereotip masyarakat kelas atas pada zamannya. Kendati berstatus sebagai istri seorang pejabat terpandang masyarakat Tionghoa bergelar Kapitan, Ati Soetji tidak memilih untuk hidup nyaman dalam lingkaran privilese. Sebaliknya, ia melangkah langsung ke panggung pergerakan sosial untuk menolong mereka yang tertindas.
Dari rekam jejak perjuangan tersebut, terdapat tiga poin utama yang ingin disampaikan kepada publik masa kini:
- Kekuatan Perempuan (The Power of Women): Keteladanan bahwa perempuan memiliki kapasitas besar untuk mengambil tindakan nyata dan menjadi penyelamat bagi sesama di lingkungannya.
- Kasih Sayang yang Memberdayakan: Kepedulian sosial tidak berhenti pada rasa iba semata, melainkan diwujudkan dalam aksi perlindungan, pengorbanan, serta pendampingan hingga korban mampu mandiri.
- Warisan Nilai Kemasyarakatan: Perjuangan melintasi zaman yang digelorakan lebih dari satu abad lalu ini harus terus diwariskan agar solidaritas dan nilai kemanusiaan tetap menyala di tengah generasi muda.
Melalui pementasan teater yang didukung oleh berbagai institusi seperti Ciputra Artpreneur, BFI Finance, Alcester, Regina Realty, Sariayu Martha Tilaar, dan Le Minerale ini, Regina Art berharap ingatan kolektif masyarakat terhadap perjuangan Njonja Ati Soetji tetap hidup. Karya ini menjadi refleksi penting bagi publik untuk terus memperkuat benteng perlindungan terhadap perempuan dan anak dari ancaman tindak pidana perdagangan orang pada era modern.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post